Saturday, 19 September 2020


Langkah Ditjen PKH dalam Menghadapi Resesi Ekonomi

06 Sep 2020, 20:31 WIBEditor : Clara

Dirjen PKH, Nasrullah | Sumber Foto:Tiara

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Perekonomian Indonesia TW II 2020 (q to q) tumbuh negatif, minus 4,19 persen tetapi sektor pertanian tumbuh 16,24 persen, sedangkan sektor yang lain tumbuh negatif. Menurut lapangan usaha (y on y) TW II 2020 sektor pertanian tumbuh positif 2,19 persen dan nasional tumbuh negatif 5,32 persen.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nasrullah pada Webinar Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) bertema Serial Diskusi Publik Menghadapi Resesi Ekonomi.

Nasrullah mengatakan dampak dari pandemi diperkirakan akan terus berlanjut dan Indonesia diambang resesi. Oleh karena itu sub sektor peternakan dan kesehatan hewan sebagai salah satu sektor ekonomi dalam kerangka pemulihan ekonomi nasional mempunyai kegiatan terobosan nasional untuk meningkatkan perekonomian dan membantu pemulihan ekonomi nasional sekaligus melindungi peternak. 

Program terobosan tersebut adalah Super Prioritas Program 1.000 Desa Sapi, Proyek Korporasi Petani, Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) dan Pengembangan Ekspor.

Adapun arah kebijakan, program dan target pembangunan peternakan 2021 yakni ketersediaan akses dan konsumsi pangan yang berkualitas; nilai tambah dan daya saing industri; dukungan manajemen. Target total produksi 7 komoditas utama peternakan pada 2021 sebesar 5,15 juta ton dan target ekspor 325,717 ton.

“Ruminansia bagi para peternak merupakan tabungan. Pasar khusus ruminansia di Indonesia sudah ada seperti qurban dan aqiqah. Ternak ruminansia juga bisa menjadi sumber pupuk, ada juga untuk tenaga kerja. Beberapa peternak juga menjadikannya sebagai hobi, bahkan kebanggaan pada status sosial. Juga konservasi plasma nutfah hewan,” ungkap Dekan Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus pada Webinar yang sama.

Kenyataannya ruminansia tidak selalu menguntungkan bagi peternak. Ditambah adanya ancaman kalah bersaing dengan sapi bakalan dan daging impor. Selain itu, sapi belum cukup untuk berswasembada; sapi perah sebagai penghasil susu belum nyata berkembang; dan belum ada breeding center profesional. Permasalahan umum seperti kualitas pakan kurang baik, sapi kurus, reproduksi rendah dan jelek.

Alternatif terobosan menurut Ali dengan program kredit perbankan untuk breeding dan fattening; pendampingan terpadu; koperasi korporasi pada kelembagaan peternak; bank pakan; alokasi lahan Padang pangonan; insentif pakan; insentif bagi peternak pelaku usaha breeding; peningkatan alokasi anggaran; program konservasi pemuliaan ternak lokal.

“Kita harus melakukan jihad kedaulatan pangan hasil ternak seperti komitmen politik dan sinergitas kebijakan; optimalisasi pemanfaatan lahan untuk ruminansia; kemandirian proses produksi ternak; promosi konsumsi pangan hasil ternak lokal; penguatan sinergitas kelembagaan,” tutup Ali.

Reporter : Tiara
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018