Saturday, 19 September 2020


Ekstrak Daun Kemangi Bikin Semen Cair Kambing Boer Tahan Lama

08 Sep 2020, 08:01 WIBEditor : Gesha

Penggunaan ekstrak Kemangi membuat semen cair dari kambing lebih tahan lama untuk bisa digunakan sebagai IB | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI. COM, Bogor - - Inseminasi Buatan (IB) masih menjadi jalan untuk memperbanyak populasi ternak. Disisi lain faktor penentu keberhasilan IB adalah kualitas dan kuantitas semen. Karena itu dibutuhkan kualitas semen cair yang berkualitas. 

Salah satu faktor penentu keberhasilan IB adalah kualitas dan kuantitas semen. Pada umumnya, semen yang digunakan dalam IB berupa semen beku yang memiliki kelemahan yaitu persentase kematian spermatozoa  yang tinggi, mencapai 30%. Dan harus selalu tersedia nitrogen cair yang relative mahal. 

Penggunaan semen cair menjadi alternatif pengganti semen beku. Proses IB menggunakan semen cair memerlukan pengencer karena semen yang disimpan di suhu ruang akan mengalami metabolisme yang dapat menyebabkan kualitas semen menurun.

Karena itu, diperlukan pengencer yang berfungsi sebagai sumber energi sperma selama masa penyimpanan dan berperan sebagai kontrol pH serta mempertahankan tekanan osmosis spermatozoa. Tris kuning telur adalah salah satu  bahan yang dapat digunakan sebagai pengencer.

Untuk mengurangi kerusakan semen dapat ditekan melalui penambahan antioksidan kedalam pengencer semen. Flavonoid merupakan salah satu antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas. 

Salah satu tanaman yang mengandung flavonoid adalah kemangi (Ocimum sanctum). Kemangi memiliki kandungan antioksidan alami berupa senyawa fenolik (tokoferol, flavonoid, asam fenolat), senyawa nitrogen (alkaloid, turunan klorofil, asam amino dan amina) dan beta karoten. 

Karena itu, peneliti dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang, Rafika Febriani Putri, Bagas Dwi Hermawan, Suyadi pada Desember 2018-Februari 2019 melakukan penelitian ekstrak daun Kemangi ini terhadap kualitas spermatozoa yang diencerkan oleh pengencer Tris kuning telur dan disimpan pada suhu ruang. 

Mereka menggunakan semen cair yang ditampung dari 4 ekor pejantan kambing Boer yang berumur 4-5 tahun dengan bobot badan rata-rata 50 kg.  Semen yang digunakan dalam penelitian memiliki persyaratan minimal motilitas massa ++ dan motilitas minimal 70 persen. 

Hasil Penelitian 

Pembuatan ekstrak daun kemangi menggunakan metode maserasi, yaitu salah satu jenis metode ekstraksi tanpa melalui proses pemanasan. Dimulai dengan mencuci bersih daun kemangi kemudian dikeringkan dengan cara diangin anginkan sampai kering. Giling daun kemangi yang telah kering.

Sebanyak 160 gram serbuk daun kemangi dimasukkan ke dalam wadah, kemudian direndam dengan pelarut aseton 70%, sebanyak 800 ml, ditutup dengan alumunium foil dan dibiarkan selama 5 hari sambil sesekali diaduk.

Setelah 5 hari, sampel disaring menggunakan kertas saring, simpan filtrat 1. Endapan yang dihasilkan kemudian ditambah dengan larutan aseton 70% sebanyak 480 ml, ditutup dengan alumunium foil dan dibiarkan selama 2 hari sambil sesekali diaduk.

Setelah 2 hari, disaring kembali dan diperoleh filtrat 2. Filtrat 1 dan 2 dicampur menjadi satu, lalu disentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 1500 rpm. Setelah itu dipisahkan filtrat dan endapan, lalu dievaporasi filtrat menggunakan rotatory evaporator, sehingga diperoleh ekstrak daun kemangi.

Penelitian ini dilakukan dengan penambahan ekstrak daun kemangi 0% (sebagai kontrol), 1% (0.02ml), 2% (0.04 ml) dan 3% (0.06 ml). Semen yang telah diencerkan disimpan dalam suhu ruang dan diamati kualitas pada jam ke 0, 1, 2 dan 3.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun kemangi tidak berpengaruh terhadap motilitas individu dan viabilitas. Nilai motilitas terbaik dihasilkan pada P3 dengan penambahan 3% ekstrak daun kemangi.  Nilai viabilitas terbaik dihasilkan pada P3 dengan penambahan 3% ekstrak daun kemangi.

Meskipun tidak berpengaruh nyata terhadap motilitas individu dan viabilitas semen kambing Boer, ekstrak Kemangi ini terbukti berpengaruh terhadap abnormalits spermatozoa kambing boer selama penyimpanan suhu ruang.

Persentase abnormalitas terendah pada jam ke 0 terdapat pada P3 dengan rataan sebesar 3,90. Selama penyimpanan jam ke 2 dan ke 3, perlakuan P1, P2 dan P3 memiliki persentase abnormalitas yang lebih rendah daripada kontrol. 

Sehingga, ekstrak Kemangi ini potensial digunakan untuk mempertahankan kualitas semen cair guna mengurangi abnormalitas selama penyimpanan suhu ruang. Daripada menggunakan nitrogen cair yang harganya mahal

Reporter : REP/RFP
Sumber : Puslitbang Peternakan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018