Jumat, 21 Juni 2024


Paket Singkat Inovasi Unggulan Peternakan

18 Nov 2014, 14:13 WIBEditor : Kontributor

Sumberdaya lokal Indonesia sangat berlimpah dan pastinya mampu mendukung pembangunan peternakan. Sumberdaya genetik ternak Indonesia sangat beragam mulai dari ternak ruminansia, nonruminansia, unggas maupun aneka ternak. Terbukti bahwa secara genetik ternak kita memiliki keunggulan yang tidak dimiliki ternak eksotik, baik dari segi kemampuan adaptasi, produksi maupun ketahanan penyakit. Selain itu, kita memiliki sumber pakan lokal yang berlimpah dan berkualitas, namun belum dimanfaatkan secara optimal penggunaannya. Capaian hasil penelitian oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian sangat beragam dan dapat diadopsi langsung oleh masyarakat.

Sapi PO Terseleksi

Sapi PO merupakan sapi lokal Indonesia berasal dari persilangan Ongole dari India dan sapi lokal yang telah beradaptasi dengan baik dengan lingkungan setempat. PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tenaga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah beranak, jantannya memiliki kualitas semen yang baik.

Domba Compass Agrinak

Domba Compass Agrinak adalah domba unggul hasil persilangan antara domba lokal Sumatera dengan domba St. Croix (Virgin Island, Amerika Serikat) dan domba Barbados Blackbelly (Barbados Islands) dengan komposisi ½ Lokal Sumatera, ¼ St. Croix, ¼ Barbados Blackbelly. Warna bulu umumnya putih dengan pola warna polos atau campuran 2 warna dan warna belang hitam atau coklat muda. Mampu beradaptasi pada lingkungan tropis dan lembab; Daya tahan terhadap internal parasit lebih tinggi atau sama dengan domba lokal; Mempunyai laju pertumbuhan lebih tinggi dari domba lokal Sumatera. Produktivitas bobot lahir 2,2 kg, bobot sapih 11,9 kg, bobot 6 bulan 16,1 kg, bobot 12 bulan 23,3 kg, pertumbuhan lepas sapih 75 g/hari, jumlah anak sekelahiran 1,5 ekor/induk, produktivitas induk 21,3 kg/induk/tahun.

Domba Komposit Garut

Domba Komposit Garut adalah domba unggul hasil persilangan antara domba Lokal Garut dengan Domba Moulton Charollais yang berasal dari Perancis dan domba St. Croix dari Amerika Serikat dengan proporsi genetik 1/2 domba Garut, 1/4 Moulton Charollais, 1/4 St. Croix. Warna bulu dominan putih dengan pola warna tubuh campuran 2 warna dan warna belang (putih dan coklat muda). Mampu beradaptasi pada lingkungan tropis dan lembab, Mempunyai laju pertumbuhan lebih tinggi dari domba lokal Garut. Mempunyai jumlah anak sekelahiran yang tidak berbeda dengan domba lokal. Pemeliharaannya dilakukan secara intensif dan semi intensif. Uji adaptasi domba tersebut telah dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia. Produktivitas bobot lahir 3,1 kg/induk/kelahiran, bobot sapih 13,2 kg, bobot 6 bulan 18,7 kg, bobot 12 bulan         28 kg, pertumbuhan lepas sapih 104 g/hari, jumlah anak sekelahiran 2,1 ekor/induk, produktivitas induk 47 kg/induk/tahun. Introduksi paket teknologi pengembangan domba yang cukup berhasil adalah dengan telah terbentuknya kampung domba di Juhut, Pandeglang. Dengan adanya kampung domba tersebut terbukti telah meningkatkan pendapatan petani setempat dari hasil usaha dombanya.

Kambing Boerka

Boerka adalah persilangan kambing Boer dengan kambing kacang. Persilangan kedua bangsa ini menghasilkan kambing Boerka dengan bobot tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan kambing lokal dan potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Pola warna tubuh kambing Boerka dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat tua. Kambing Boerka mudah beradaptasi tinggi dengan kondisi tropis-basah di Indonesia, bobot badan lebih tinggi dibandingkan dengan kambing kacang, dapat berreproduksi sepanjang tahun, dapat dikembangkan secara tradisional maupun komersil. Pemeliharaan kambing Boerka dengan sistem ekstensif, semi-intensif, atau intensif. Produktivitas bobot lahir 2,42 kg/induk/kelahiran, bobot sapih 9,08 kg/induk/kelahiran, bobot 6 bulan 14 kg, bobot 12 bulan 24,9 kg, pertumbuhan lepas sapih 75 g/hari, jumlah anak sekelahiran 1,6 ekor/induk, produktivitas induk 21 kg/induk/tahun.

Ayam KUB-1

Merupakan galur baru ayam kampung diperoleh dari persilangan berbagai rumpun ayam kampung di Indonesia. Warna bulu ayam KUB memiliki bulu beragam sama dengan ayam kampung lainnya. Dengan bobot badan 1.200-1.600 g, bobot telur 35-45 g, produksi telur (henday) 50%, puncak produksi telur 65%, lebih tahan terhadap penyakit. Pemeliharaan Ayam KUB dengan dikandangkan baik secara individu maupun komunal. Produktivitas umur pertama bertelur 20 – 22 minggu, produktivitas telur 160 – 180 butir/induk/tahun. Pengembangan Ayam KUB sampai saat ini telah dilakukan di 25 provinsi dengan total ayam yang disebarkan sekitar 80.000 ekor. Dengan demikian dari total ayam yang disebarkan tersebut diharapkan ayam tersebut telah  berkembang lebih banyak lagi.

Itik PMp

Merupakan bibit itik tipe pedaging baru yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Ternak di Ciawi - Bogor. Bibit itik ini secara genetis mengandung kombinasi darah itik Peking dan itik Mojosari putih, dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen dari tingkat bawah sampai atas dan dapat diproduksi lokal. Itik ini dapat digunakan untuk menghasilkan karkas ukuran sedang ataupun besar, sesuai permintaan konsumen, dengan kualitas daging itik yang tinggi. Adanya bibit itik yang baru ini diharapkan dapat mengurangi penggunaan itik tipe petelur dalam penyediaan daging itik yang dapat berakibat pada terjadinya pengurasan sumberdaya genetik itik petelur. Selain itu, dalam upaya memenuhi kebutuhan daging itik, adanya itik PMp ini juga merupakan substitusi daging itik impor. Warna bulu umurnya berwarna putih seperti itik Mojosari putih sehingga warna kulit karkas juga bersih dan cerah. Dengan bobot badan dewasa 2-2,5 kg, bobot telur 35-45 gram, rataan produksi telur 6 bulan 73-78%. Sistem pemeliharaan itik PMp yaitu intensif dan semi intensif. Produktivitas umur pertama bertelur 5,5–6 bulan.

Itik Master

Itik Master merupakan hasil persilangan antara itik Mojosari dengan itik Alabio yang terseleksi. Keunggulan dari itik Master adalah umur bertelur pertama lebih cepat sehingga produktivitas telur lebih tinggi. Selain itu produksi telur lebih konsisten dan pertumbuhan itik lebih cepat. Anak itik pejantan dapat dibesarkan menjadi itik pedaging. Pola warna bulu itik Master spesifikasi dan sangat beragam. Dengan bobot badan 1,8 kg, bobot telur 69,7 g, umur pertama bertelur 18 minggu, rataan produksi telur per tahun 70% (265 butir), 15% lebih tinggi. Pemeliharaan itik Master yaitu intensif dan semi intensif.  Masa produksi telur 10-12 bulan/siklus, tanpa rontok bulu, tingkat kematian rendah. Sangat rendah (<1%), pertumbuhan anak itik jantan lebih cepat dan rasio penggunaan pakan (FCR) 3,2.

Teknologi Pakan

Indonesia memiliki sumberdaya alam dan dapat digunakan sebagai sumber pakan ternak yang sangat melimpah. Oleh karena itu model pengembangan usaha peternakan sistem integrasi ternak-tanaman sangat ideal untuk diterapkan. Integrasi dengan perkebunan kelapa sawit, telah tersedia beberapa teknologi pemanfaatan limbah dan sisa hasil ikutan industri kelapa sawit, mulai dari pemanfaatan pelepah dan daun sawit, bungkil inti sawit, solid decanter, dll.

Pelepah kelapa sawit merupakan limbah basah dan padat yang berasal dari perkebunan kelapa sawit memiliki potensi untuk digunakan sebagai pakan dasar pengganti rumput pada ternak ruminansia, perlu disentuh dengan teknologi agar masa simpan lebih lama dan nilai nutrisinya meningkat, peningkatan masa simpan dan nilai nutrisi pelepah kelapa sawit dilakukan melalui teknologi silase. Silase pelepah kelapa sawit dapat digunakan sebagai sumber utama bahan pakan berserat pengganti rumput pada ternak ruminansia termasuk kambing. 

Teknologi silase pada pelepah kelapa sawit juga dapat memberikan nilai tambah bagi peternak kambing yang ada di sekitar industri perkebunan kelapa sawit. Peluang komersial cukup baik bagi agroindustri ternak ruminansia di wilayah sentra tanaman kelapa sawit. Bungkil inti sawit adalah salah satu hasil ikutan industri minyak kelapa sawit (CPO/Crude Palm Oil). Yang diperoleh setelah proses ekstraksi lemak dengan cara kimiawi (ekstraksi) atau dengan proses fisik (expeller).

Bungkil inti sawit merupakan produk lokal Indonesia dari hasil samping perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 7 juta ha dengan hasil ikutan berupa bungkil inti sawit sekitar 1,75-3 juta ton/tahun. Dapat dikatakan potensi bungkil inti sawit sebagai bahan baku pakan ternak ruminansia cukup baik karena ketersediaan yang berlimpah.

Sistem integrasi sapi-sawit mempunyai banyak keuntungan dan manfaat. Sistem ini dapat dilakukan di lahan perkebunan kelapa sawit dengan mengembangkan sapi lokal (sapi Bali, Madura, Aceh dan PO). Hasil pengkajian SISKA menunjukkan bahwa: (1) Sapi secara teknis dan ekonomis layak untuk dikembangkan di perkebunan kelapa sawit; (2) Sapi berfungsi sebagai tenaga kerja pengangkut tandan buah segar (TBS), menghasilkan kompos dan biogas, serta dapat memanfaatkan biomasa rerumputan, daun/pelepah sawit dan limbah industri minyak sawit; dan (3) SISKA dapat meningkatkan kesejahteraan dari hasil penjualan TBS maupun dari sapi.

Usaha peternakan sapi yang terintegrasi ini sekaligus juga meningkatkan populasi dan produksi yang berpotensi menurunkan impor daging dan sapi bakalan. Sampai saat ini model integrasi sapi sawit antara lain telah dilaksanakan di PTPN VI dan beberapa perusahaan sawit swasta.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018