Monday, 28 September 2020


Cadangan Pakan Ternak? Silase Solusinya

14 Sep 2020, 10:46 WIBEditor : Gesha

Pakan ternak silase menjadi cadangan pakan terbaik | Sumber Foto:KIswanto

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang ---   Memiliki cadangan pakan ternak dalam waktu cukup lama sudah seperti kebutuhan primer bagi banyak peternak. Tujuannya tentu jika saat sedang sibuk, tidak perlu kesulitan mencari pakan, Pada kondisi lain, misal terjadi kemarau panjang, cadangan pakan tersebut akan sangat berguna. Disinilah peranan silase bisa menjadi solusi penyediaan cadangan pakan. 

Memiliki cadangan pakan ternak dan berkualitas serta aman hampir-hampir sama pentingnya seperti memiliki cadangan pangan bagi setiap keluarga. Secara psikologis akan memberi rasa aman dan nyaman bagi peternak. Bisa jadi akan diperlukan biaya awal yang lebih mahal, namun kedepannya akan lebih menjamin ketersediaan pakan yang berkualitas.

Hal inilah yang disadari oleh Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mandiri, Suladi dari Desa Sukowilangun Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang yang  memantapkan diri untuk membuat silase bagi ternak kambingnya. Sebagai orang nomor satu di pertanian desanya, kesuksesan dirinya baik bertani dan beternak adalah keharusan. Menggabungkan seluruh potensi yang ada disekitarnya, Suladi membuat silase pakan ternak kambing dari daun ubi kayu dan beberapa bahan pendukung lainnya.

“Komoditas mayoritas di desa kami adalah ubi kayu, saat ini sebagian sudah mulai panen dan daun ubi kayu tentu melimpah. Memang bisa diberikan langsung ke ternak setelah dilakukan pelayuan, namun untuk memiliki pakan yang bisa disimpan selama berbulan-bulan tentu bisa dilakukan fermentasi dan penambahan bahan-bahan yang menambah kandungan nutrisinya. Intinya kami ingin punya stok pakan ternak, sekaligus kualitasnya juga bagus dan lebih hemat," ungkap Suladi yang memiliki beberapa usaha lain.

Suladi dengan senang hati menunjukkan proses pembuatan silase daun ubi kayu di dekat kandang kambingnya. “Di awal yang memerlukan biaya cukup besar adalah pembelian drum. Ini wadah tempat menampung daun ubi kayu selama proses fermentasi dan sebagian juga untuk menyimpan hasil fermentasinya," ungkapnya.

Fermentasi tersebut berlangsung 7 hari dengan bahan-bahan tambahan bisa seperti bekatul atau pollard, kulit kedelai limbah usaha tempe dan tahu, gula merah, garam dan yang utama adalah ragi dalam hal ini digunakan EM4 peternakan. Daun ubi kayu dicampur dengan semua bahan ditambahkan air hingga semua rata dan dimasukkan drum dengan sangat padat bertumpuk kemudian ditutup rapat dengan plastik dalam keadaan anaerob. "Sederhana prosesnya," pungkas Suladi.

Lebih lanjut Suladi menyampaikan keberhasilan awal sudah di dapat saat hari raya kurban, dimana 25 ekor kambing ettawa jantan sudah dijual dengan harga bagus. “Keberhasilan silase sudah terbukti saat saya menjual 25 kambing ettawa saat hari raya kurban. Harganya bagus dan waktu itu pemasukan lebih dari Rp 100 juta, Alhamdulillah. Saat ini saya tinggal memelihara 30 ekor kambing dan 90 persen pakannya adalah silase," bebernya.

Penyuluh pendamping Desa Sukowilangun, Sampuri menyampaikan bahwa integrasi ubi kayu, silase dan ternak kambing bisa menjadi ujung tombak kemandirian seluruh petani dan peternak di desa Sukowilangun. “Saat ini pandemi covid-19, yang memerlukan cadangan pangan bukan cuma orang atau petani-peternaknya, melainkan hewan ternak seluruhnya juga sudah saatnya dicari solusi jitu yang terbaik," tuturnya.

Karena itu, Silase adalah solusi jitu mengingat bahannya ada bisa rumput, daun jagung, daun ubi kayu, daun ubi jalar dan masih banyak lagi. Silase bisa tahan 1 tahun dalam penyimpanan anaerobic, bahkan bisa bertahan hingga 2 tahun.

Reporter : Kiswanto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018