Saturday, 24 October 2020


Pandemi, Saatnya Perbanyak Konsumsi Ayam dan Telur Perkuat Imunitas

15 Oct 2020, 13:15 WIBEditor : Gesha

Ilustrasi ayam dan telur | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Permasalahan gizi dan imunitas kian menjadi permasalahan yang krusial dalam menghadapi pandemi COVID 19. Salah satu protein hewani yang bisa berpengaruh pada imunitas namun tetap mudah diperoleh adalah daging ayam dan telur. Inilah yang kemudian mendorong edukasi dan peningkatan konsumsi dalam perayaan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2020 yang jatuh pada 15 Oktober 2020.

Sejak tahun 2011, peringatan HATN dan World Egg Day (WED) oleh segenap pelaku usaha perunggasan dijadikan sebagai kalender rutin tahunan. Penyelenggaraan kegiatan ini dilatarbelakangi keprihatinan akan masih rendahnya konsumsi daging ayam dan telur di Indonesia. “Bahkan ada kelakar lebih penting pulsa daripada beli telur,” ungkap Ketua Panitia HATN 2020, Bambang Suharno ketika membuka Webinar  : Gizi Ayam dan Telur Tingkatkan Imunitas dalam memperingati Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2020 secara online.

Padahal,ayam dan telur mengandung gizi penting untuk meningkatkan imunitas tubuh, terutama dalam menghadapi pandemi COVID 19 ini yaitu protein hewani. “Telur dan daging ayam mengandung asam amino lengkap, vitamin dan mineral seimbang . Bahkan pada telur, protein hewani terserap sempurna oleh tubuh. Sedangkan daging ayam mengandung asam amino yang penting untuk pertumbuhan dan mengganti sel-sel yang rusak,” beber drh.Rakhmat Nuriyanto dari Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI).

Bahkan tak hanya itu, drh. Rakhmat menjelaskan bahwa UNICEF pernah menegaskan bahwa perbaikan gizi yang didasarkan pada pemenuhan protein hewani memiliki kontribusi 60% pada pertumbuhan ekonomi negara maju. Sehingga, bisa dikatakan negara dengan tingkat konsumsi protein hewani yang bagus memiliki faktor pertumbuhan ekonomi yang lebih bagus karena berkaitan dengan kualitas sumberdaya manusia negara tersebut. Karena itu, keadaan konsumsi protein hewani yang masih rendah, harus terus ditingkatkan Indonesia.

Data dari tahun 2011, konsumsi daging ayam Indonesia baru mencapai 4,5 kg per kapita per tahun. Sedangkan Malaysia sudah mencapai 38,6 kg/kapita/tahun, Thailand 14 kg/kapita/tahun dan Filipina 8,5 kg/kapita/tahun. Kondisi serupa juga terjadi di telur, konsumsi Indonesia baru mencapai 67 butir/kapita/tahun, sedangkan Thailand mencapai 128 butir/kapita/tahum, Malaysia 311 butir/kapita/tahun.

 “Protein hewani tidak selalu mahal, ada protein hewan yang terjangkau namun tetap berkualitas yaitu daging ayam dan telur. Sehingga pemenuhan gizi  harian dari protein hewani bisa terpenuhi,” tambah drh. Rakhmat.

Diakuinya, banyak narasi hoax terkait konsumsi ayam dan telur yang harus terus dilawan, agar masyarakat bisa tenang dalam mengkonsumsi dua protein hewani ini. “Banyak hoax, mulai dari ayam broiler disuntik hormon biar cepat besar, hoax soal ayam penyebab kanker, soal residu antibiotik pada ayam, fenomena alergi hingga isu kolesterol yang kembali gencar. Karena itu, berbagai pihak harus terus kampanye mengenai gizi dari ayam dan telur ini sehingga masyarakat bisa terus mengkonsumsi telur dengan aman,” pungkasnya.

ASUH

Sebagai produk peternakan yang mengandung protein hewani, daging ayam tentu saja berpotensi mudah rusak karena dapat terkontaminasi kuman melalui peralatan, anggota tubuh manusia, permukaan atau lingkungan yang terkontaminasi.

Karena itu, daging ayam harus diperlakukan dengan metode Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) dalam lini produksinya sejak awal pemotongan hingga diterima oleh konsumen. “Semuanya harus dipenuhi agar ayam aman dan sehat dikonsumsi masyarakat,” tambah Perwakilan FAO-ECTAD Indonesia, drh. Gunawan Budi Utomo.

drh. Gunawan memaparkan, Aman berarti tidak mengandung bahaya biologis, kimiawi maupun fisik dan bahan-bahan lain yang mengganggu kesehatan manusia. Sehat berarti daging ayam maupun telur mengandung bahan-bahan yang sehat bagi kesehatan manusia. Utuh yang berarti tidak dikurangi atau dicampur dengan bahan lainnya. Halal, disembelih dan ditangani dengan cara sesuai syariat Islam.

Untuk memberikan jaminan produk ayam dan telur yang beredar di DKI Jakarta saja misalnya, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Dinas KPKP) DKI Jakarta selalu mengawasi peredaran setiap ayam dan telur di wilayah Provinsi DKI Jakarta agar sesuai kriteria ASUH.

“Konsumen biasanya tahu beli ayam di pedagang, asal muasalnya ya diproses dahulu di Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU)  sebagai sentralisasi pemotongan hewan unggas yang terstandar. Kita (Provinsi DKI Jakarta) memiliki 9 lokasi RPHU yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan ayam di DKI 10 ribu ekor ayam potong per hari,” beber Plt. Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Suharini Eliawati.

Karena itu, Dinas KPKP DKI Jakarta terus berupaya untuk merelokasi pelaku usaha penampungan dan pemotongan ayam ke RPHU milik pemerintah. “Semenjak pandemi flu burung di 2004-2007, kita melakukan sentralisasi pemotongan unggas yang selama ini berada di pemukiman untuk lebih terpadu di RPHU,” tambahnya.

Tak hanya itu, Dinas KPKP DKI Jakarta juga melakukan pelatihan bagi Juru Sembelih Halal (Juleha) agar lebih terampil dan tersertifikasi. Kemudian, pemeriksaan post mortem dan  ante mortem  oleh petugas Dinas KPKP dari setiap produk unggas (daging maupun jeroan) yang dihasilkan dari RPHU.

Dalam RPHU juga diterapkan higienitas, sanitasi dan sistem rantai dingin juga dilakukan, termasuk pengawasan kesehatan hewan dan Nomor Kontrol Veteriner (NKV) pada unit usaha pemotongan dan penjualan. “Untuk pendampingan NKV, pelaku usaha bisa menghubungi Dinas KPKP guna rekomendasi teknis,” tambahnya.

Diakui Suharini, edukasi dan sosialisasi mengenai rantai dingin dari produk unggas khususnya ayam harus terus dilakukan untuk membuka wawasan konsumen tentang produk unggas yang aman dan sehat harus dikemas dalam rantai dingin.

“Masyarakat agak kurang suka jika daging ayam dikemas atau disimpan dingin, dengan alasan rasanya berubah. Namun kini dengan pendekatan terus menerus dan edukasi publik, masyarakat perlahan menyadari pentingnya rantai dingin dalam transportasi produk unggas,” tutupnya.

 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018