Friday, 27 November 2020


Dorong Produksi Susu, Populasi Sapi Perah Perlu Ditambah

22 Oct 2020, 18:57 WIBEditor : Yulianto

Populasi sapi perah perlu ditambah untuk mendorong produksi susu | Sumber Foto:dok. sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pasokan susu sapi di dalam negeri hingga kini masih didominasi dari impor. Bahkan kecenderungannya terus meningkat. Jika masa Orde Baru hanya sekitar 40 persen dari kebutuhan, maka kini diperkirakan mencapai 80 persen kebutuhan susu segar dalam negeri (SSDN) dari impor.

Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan IPB, Dr. Epi Taufik mengatakan, jika Indonesia mau mendongkrak produksi susu dalam negeri paling tidak 40 persen kebutuhan dipasok dari dalam negeri. Untuk itu, diperlukan tambahan 713 ekor sapi perah. Apalagi demand tumbuh 12 persen, sementara produksi susu hanya naik 6,13 persen.

Bberdasarkan data BPS impor susu mencapai 4,4 juta ton, produksi susu dalam negeri sekitar 951 ribu ton. Dengan tingkat konsumsi sebanyak 5,24 juta ton. Jika jumlah penduduk Indonesia sebanyak 268 juta jiwa, maka konsumsi susu masyarakat Indonesia 19,55 kg/kapita/tahun. Jumlah tersebut belum termasuk susu kambing dan kerbau,” ujarnya.

Dengan terbatasnya produksi susu di dalam negeri, dari 60 IPS (Industri Pengolahan Susu) hanya 14 IPS yang menyerap serap SSDN yang diproduksi peternak sapi perah rakyat. Volumenya hampir 85-90 persen produksi susu dalam negeri diserap ke-14 IPS tersebut, sisanya dikelola koperasi susu. Artinya, 46 IPS lainnya menggunakan 100 persen bahan baku susu dari impor,” katanya.

Tingginya angka impor susu memang tidak lepas dari kondisi peternak sapi perah di dalam negeri. Data menunjukkan saat ini terdapat kurang lebih 143 ribu peternak sapi perah rakyat. Dengan jumlah tersebut, kalkulasinya masih sangat kurang untuk bisa memasok kebutuhan susu di dalam negeri.

Mayoritas susu impor (sesuai kode HS-nya) adalah produk turunannya seperti whole milk powder (susu bubuk penuh), skim milk powder (susu bubuk rendah lemak), butter (mentega), anhydrous milk fat (lemak susu yang dikeringkan), cream (lemak susu), whey protein concentrate (bubuk whey, yang sering dijual untuk para bodybuilder, misal WPC merk L-Men), dan yogurt.

Bahkan ada pelaku usaha yang mengimpor utuh produk susu seperti Susu Kental Manis (sweetened condensed milk) dari Malaysia dalam kaleng untuk dijual di Indonesia. Artinya tidak ada nilai tambah bagi Indonesia. Bahkan yang kini patut dikhawatirkan adalah perkembangan impor produk susu cenderung meningkat setiap tahun.

Dari data yang ada nampaknya kecenderungan kenaikan impor produk susu di Indonesia mayoritas masih untuk menutupi demand dari pasar domestik.  Jika dibiarkan maka sampai kapanpun produksi SSDN, baik sapi perah saja atau ditambah ternak perah lain tidak akan mampu memenuhi demand yang ada,” tuturnya.

Lebih dari itu, mayoritas produk olahan susu masih menggunakan bahan baku yang berasal dari susu sapi perah.  Bagi IPS hingga kini belum bisa menerima susu selain sapi perah, kecuali pasar. Faktor lainnya, kontinuitas dan kualitas bahan baku, aspek logistik susu segar selain sapi perah telah sama dengan sapi perah. “Susu dari ternak lainnya, seperti kambing dan kerbau perah hingga kini juga belum terdata dengan baik,” ujarnya.

Epi Taufik menilai, sebenarnya importasi ini tidak jadi masalah jika diiringi ekspor produk susu yang meningkat. Artinya importasi produk susu tidak hanya habis dikonsumsi bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi bahan baku (raw material)  untuk produk olahan susu tujuan ekspor.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018