Friday, 27 November 2020


Belajar dari Negeri Gajah Putih Kelola Ternak Sapi Perah

22 Oct 2020, 19:33 WIBEditor : Yulianto

Peternak sapi perah belum menjadi prioritas pemerintah | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Thailand dapat menjadi contoh dalam mengelola peternakan sapi perah. Negeri Gajah Putih yang sebelumnya menjadi importir susu, kini malah menjadi negara eksportir susu terbesar di Asean.

Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan IPB, Dr. Epi Taufik mengatakan, Pemerintah Indonesia bisa belajar dari Thailand dalam mendorong peningkatan produksi susu dalam negeri. Negara tersebut memiliki School Milk Program (SMP) sebagai program nasional yang sepenuhnya dibiayai negara, sedangkan IPS yang berpartisipasi memberikan susu.

Saat ini 40 persen produksi susua dalam negeri Thailand diserap SMP. Sedangkan sisanya 60% untuk produk komersial di pasar domestik,” katanya beberapa waktu lalu dalam sebuah webinar.

Bahkan kini masyarakat Thailand juga menjadi terbiasa mengonsumsi susu. Jika konsumsi susu 1985 hanya 2 kg/kap/tahun, maka pada  2016, meningkat menjadi 28 kg/kap/tahun. Postur tubuh rata-rata anak di Thailand meningkat, IQ meningkat dan stunting juga menurun.

Peternak pun semangat. Rata-rata kepemilikan ternak sapi perah di Thailand untuk rumah tangga mencapai 10-13 ekor sapi, sedangkan Indonesia hanya 4-5 ekor. Thailand juga kini tercatat sebagai eksportir terbesar produk-produk susu di ASEAN. Artinya impor produk susu tidak hanya untuk konsumsi domestik, tetapi juga sebagai bahan baku produk olahan susu untuk ekspor.

Belajar dari Thailand, Epi mengatakan, pemerintah harus mulai memikirkan bagaimana mengembangkan peternakan sapi perah di dalam negeri. Jangan sampai nasib peternak sapi perah nantinya akan sama dengan peternak ayam broiler di dalam negeri. Apalagi banyak efek ganda dalam pengembangan peternak sapi perah,” tuturnya.

Misalnya, banyak tenaga kerja yang terlibat dalam tata niaga persusuan, dari hulu ke hilir. Selain itu melibatkan banyak jenis pekerjaan yang dapat memberikan jaminan penghasilan harian. Sebaliknya diujung hilir rantai pasok, diversifikasi produk dan juga konsumen semakin beragam dengan berkembangnya gaya hidup yang memanfaatkan susu segar dalam berbagai jenis minuman dan makanan termasuk industri HoReCa (Hotel, Restoran, Catering), cafe, street food.

Karena itu menurut Epi Taufik, jika pemerintah serius dengan misi SDM Unggul menjadi Prioritas Nasional, maka sudah seharusnya konsumsi susu, termasuk produk turunannya mendapat perhatian khusus (terutama untuk tumbung kembang anak-anak). Diantaranya menjadikan sebagai bahan pokok, sehingga akan mengantarkan kepada adanya tanggungjawab pihak terkait dengan munculnya regulasi untuk mendukung konsumsi susu.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tahun 2017, ternyata total konsumsi protein, khususnya konsumsi protein hewani bangsa Indonesia juga masih sangat minim, hanya 8 persen dari total konsumsi protein masyarakat tiap harinya. Padahal Malaysia mencapai 30 persen, Thailand 24 persen dan Filipina 21 persen.

Sementara itu jika dilihat dari aspek gizi susu dihubungkan dengan kualitas SDM, Epi mengungkapkan, studi terhadap 130.432 orang anak dengan umur 6-23 bulan di 49 negara ternyata hubungan antara stunting dengan Animal Source Food (ASF). Konsumsi ASF yang beragam (daging ayam, susu, telur dsb) lebih baik dampaknya.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018