Tuesday, 28 June 2022


Produksi Pakan Ternak Tergerus Corona

20 Jan 2021, 17:02 WIBEditor : Yulianto

Peternakan ayam petelur | Sumber Foto:Julianto

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Selama pandemi covid-19, industri pakan ternak mengalami kontraksi. Produksi pakan yang awalnya diprediksi bisa tumbuh 5-6 persen, justru turun 9,7 persen.

Ketua Umum GPMT (Gabungan Perusahaan Pakan Ternak), Desianto mengatakan, pada tahun 2019 produksi pakan ternak mencapai 19,6 juta ton. Tahun 2020 turun hanya sebanyak 18,6 juta ton.

“Tahun 2020 awalnya diperkirakan bisa tumbuh 5-6 persen, seharusnya sebanyak 21,5 juta ton. Karena ada Covid-19, terjadi goncangan, bahkan diperkirakan turun 35 persen. Namun setelah kita tarik dalam setahun hanya turun 9,7 persen atau jadi 18,6 juta ton atau di bawah tahun 2019,” tutur Desianto saat FGD Sinar Tani, di Jakarta, Rabu (20/1).

Menurutnya, dari 94 pabrik pakan yang ada di Indonesia, sekitar 90 pabrik pakan memproduksi pakan ayam, baik untuk broiler maupun layer. Karena itu, Desianto menilai, hidup mati industri pakan sangat tergantung industri peternakan perunggasan, baik broiler dan layer.

Desianto mengungkapkan, industri pakan ternak 80-85 persen sangat ditentukan raw material. Namun fluktuasi bahan baku pakan tidak serta merta membuat harga pakan bergejolak. “Jadi kenaikan harga pakan tidak selalu dipicu kenaiakn bahan baku pakan. Biasanya industri mencari harga rata-rata agar harga pakan tetap dinamis dan tidak fluktuatif,” katanya.

Dari komposisi bahan baku pakan ternak, bungkil kedelai sebagai sumber protein komposisinya sekitar 25 persen. Sedangkan jagung sebagai sumber karbohidrat komposisinya 50-60 persen.

Menurut Desianto, karena tahun 2019 harga jagung naik, komposisi bahan baku jagung dalam pakan ternak diturunkan. Namun tahun 2020, harga jagung turun, komposisinya dinaikkan kembali hinga 40-42 persen, meski belum sampai 50 persen. “Jika normal, harga jagung Rp 3.500-3.700/kg, tapi tahun 2019 mencapai Rp 4.700/kg, dan tahun 2020 turun menjadi Rp 4.500/kg,” katanya.

Desianto menilai, peternak rakyat sudah mengetahui sendiri kualitas pakan yang bagus atau tidak, terutama untuk meningkatkan kualitas daging dan telur. Karena itu, peternak tidak selalu mencari pakan murah, tapi lebih mahal sedikit tidak menjadi masalah asalkan memberikan performance baik untuk menghasilkan daging atau telur.

“Peternak suah mengerti berapa income memproduksi 1 kg telur atau daging, berapa biaya pakan ternaknya. Kalau pakan murah, tapi tidak menguntungkan, peternak tidak akan menggunakan,” katanya.

Jadi menurut Desianto, dari aspek teknologi peternak rakyat umumnya sudah paham dari sisi on farm, tapi off farmnya yang masih perlu dibimbing. “Peternak mengetahui sendiri kualitas pakan bagus, pasti akan meningkatkan kualitas daging dan telur,” ujarnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018