Sunday, 28 February 2021


Masih Muda, Mereka Agresif Rebut Ceruk Pasar Olahan Ayam

25 Jan 2021, 13:48 WIBEditor : Julianto

Galih Tantyo Yuwono (kanan, baju hitam) bersama founder Juicy Chicken Indonesia, Ari Kuncoro (kiri, baju biru) di peternakan ayam milik mereka. | Sumber Foto:Galih

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Peternak mandiri yang tidak berintegrasi maupun berafiliasi dengan integrator besar dengan industri peternakan unggas (broiler maupun petelur), harus mampu memutar otak agar roda ekonomi mereka bisa tetap berjalan. Salah satunya dengan hilirisasi berupa pengolahan ayam hingga pemasaran yang lebih agresif kepada konsumen. 

Seperti yang dilakukan peternak milenial yang justru lahir dari usaha peternakan keluarganya sendiri. Salah satunya sosok peternak muda asal Bogor Jawa Barat, Galih Tantyo Yuwono yang menjadi generasi kedua yang meneruskan usaha orang tuanya, beternak broiler (ayam pedaging).

Orang tua Galih beternak broiler sejak 1998 dengan bendera Budi Agung Jaya Farm. Saat itu ia mengaku populasi peternakan milik orang tuanya sangat fluktuatif karena kondisi perunggasan yang tidak kondusif. “Sempat mengalami kejayaan, tapi ketika perunggasan tidak dalam kondisi baik, kami juga merasakan jatuh,” kenangnya.

Tak ingin merasakan hal yang sama dengan orangtuanya, Galih mengaku harus memutar otak. Tahun 2015 menjadi titik balik pria 24 tahun ini yang secara resmi meneruskan usaha orangtuanya. Terbukti, kini populasi peternakan broiler miliknya sudah mencapai 54 ribu ekor dari 9 kandang yang tersebar di beberapa lokasi di Bogor, antara lain Ciseeng, Tapos, SPN Lido, Cigombong dan Tangkil. Bukan hanya usaha di on farm, Galih kini membidik usaha off farm. Usaha hilirisasinya melalui pendekatan agresif ke pasar konsumen yang terbuka lebar. Dirinya mengerahkan pasukan bermotor khusus bergerak door to door memasarkan karkas daging ayam ke pemukiman warga sekitar Kota Bogor.

Selain itu, Galih juga gencar promosi via media sosial. Karkas ayam dengan merek Juicy Chicken Indonesia itu kini kian dikenal dikalangan emak-emak. Apalagi pandemi Covid-19 banyak ibu rumah tangga lebih banyak memilih belanja dari rumah. Tak hanya secara fisik mendekati konsumen akhir, Galih juga aktif memantau apa saja keinginan masyarakat umumnya terkait produk unggas, terutama yang lebih suka membeli makanan siap santap selama masa pandemi ini. “Karena itu kami bergerak lebih ke hilir lagi dengan memproduksi daging ayam dan daging bebek olahan siap konsumsi bahkan juga membuka resto meski baru skala UMKM,” tutur alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Ide hampir serupa juga diungkapkan peternak muda asal Cianjur, Cecep M. Wahyudin yang sukses mengembangkan pemasaran digital dari produk ayam yang dihasilkan. Tak tanggung-tanggung, lulusan IPB ini mampu memasarkan 2,5 juta ton ayam setiap harinya kepada konsumen. “Kalau di total setiap hari sebanyak 50 ton produk peternakan frozen dan olahan bisa kami pasarkan. Saat ini e-tanee sudah ada di 9 kota dan akan terus kami kembangkan ke daerah lain secara bertahap,” kata Cecep.

Mengingat besarnya potensi bisnis produk unggas, tak mengherankan bila pria 39 tahun itu begitu bersemangat mengembangkan bisnisnya dengan menggarap dari sektor hulu hingga hilir. Saat ini disamping menekuni kegiatan budidaya ayam ras, Cecep juga sudah masuk ke usaha kuliner dengan membuka restoran ayam goreng di Bogor. “Saya berharap resto yang menjual aneka sajian menu berbasis ayam ini ke depan bisa lebih berkembang ke banyak daerah lainnya,” katanya.

Rumah Potong Ayam

Industri broiler (ayam pedaging) tak bisa terpisah dari peran RPA (Rumah Potong Ayam) dalam membantu mengolah dan menyediakan produk mumpuni bagi masyarakat. Penambahan nilai atau kualitas suatu produk dapat dilakukan apabila memiliki RPA. Produsen juga dapat memperluas inovasi. Dengan kata lain, bukan hanya karkas ayam utuh dalam bentuk beku atau frozen yang dipasarkan, melainkan ayam tanpa tulang (boneless), ayam dalam bentuk potongan (parting), bahkan kulit ayam pun juga dapat dilempar kepada konsumen.

Salah seorang peternak layer (petelur) mandiri yang sudah lama berkecimpung dalam usaha RPA ini adalah Hidayatur Rahman, pemilik PT Jatinom Indah Farm Industry and Poultry di Kota Blitar Jawa Timur. Dirinya menghadirkan RPA modern dan berteknologi sejak tahun 2001. Bahkan hingga 2014, RPA dengan kapasitas potong 5000-7000 ekor ayam ini mampu memasok ayam segar untuk restoran cepat saji, McD di Jawa Timur. "Terakhir di 2016 (pasok McD), dan sekarang digunakan untuk memotong dan mengolah dari perusahaan sosis atau nugget di lokal,” tuturnya.

Dibandingkan RPA lainnya, pengolahan ayam di RPA ini tergolong modern dan berteknologi tinggi, bahkan sudah terstandarisasi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare) bahkan kompatemen bebas Avian Influenza (AI). “Kami tetap berusaha menerapkan market high quality, tidak akan turunkan standar atau spesifikasi. Kami optimis, industri hilirisasi unggas khususnya broiler akan semakin naik dengan meningkatnya kualitas konsumen yang menginginkan produk olahan yang praktis namun tetap sehat,” tuturnya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018