Friday, 26 February 2021


Mandiri Pakan dari Daerah Sendiri

27 Jan 2021, 13:17 WIBEditor : Yulianto

Pakan menjadi biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas ayam | Sumber Foto:Julian

TABL.OIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pakan menjadi bagian terbesar dalam struktur biaya usaha ternak unggas. Karena itu ketika harga pakan mahal, akan membuat peternak tertekan untuk menutupi biaya usaha produksi.

Salah satu yang bisa menjadi alternatif bagi peternak untuk meringankan biaya pakan adalah membuat pakan sendiri dari bahan baku yang berasal lingkungan setempat. Ini menjadi salah satu program Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) untuk membantu peternak.

“Kita saat ini menggerakkan sumber protein hijauan di semua daerah. Bagaiaman gerakan tanaman yang mengadung protein tinggi. Ini kita lakukan secara serempak. Jadi selain sebagai sumber protein juga untuk penghijauan,” kata Direktur Pakan Ditjen PKH, Makmun Junaidin saat FGD Sinar Tani, Rabu (27/1).

Makmun menjelaskan, sejak 2019 pihaknya memberikan fasilitasi untuk kemandirian pakan di 33 kelompok di 12 provinsi, baik untuk pakan ternak ruminansia maupun unggas. Dalam fasilitas itu, ada peralatan pakan, pengadaan bahan pakan dan bangunan.

Sedangkan tahun 2020, Ditjen PKH mendorong kemandirian pakan melalui bank pakan. Bank Pakan ini ditujukan bagi kelompok ternak yang telah berusaha dibidang pakan. Jadi peternak, selain akan melakukan penyimpanan, juga meningkatkan produksi pakan, sehingga usahanya bisa berkembang.

“Programnya kita perkuat kelompok tersebut dengan bank pakan. Tujuannya untuk mengubah pola pikir peternak ke arah bisnis,” katanya.

Untuk kemandirian peternak unggas, ungkap Makmun, pihaknya memberikan bantuan silo untuk penyimpanan jagung. Silo yang sebelumnya untuk petani jagung, kini dialihkan ke peternak unggas. Bantuan silo untuk peternak layer di Blitar (Jawa Timur) dan Kendal (Jawa Tengah) sebagai sentra peternak layer.

Makmun mengatakan, dalam program pakan mandiri ini pemerintah terus mendorong efisiensi. Sebab, komponen utama dalam produksi unggas adalah pakan. Untuk ayam broiler sekitar 60 persen dan ayam layer 70 persen. “Kalau mau efisien, maka upaya kita adalah bagaimanan pakan itu efisien. Efisiennya dari mulai kualitas, kuantitas dan keamanannya,” tuturnya.

Tingginya harga pakan saat ini diakui Makmun, karena sebagian bahan baku masih impor. Misalnya, sumber protein yakni Meat Bone Meal (MBM) dan bungkil kedelai. Untuk jagung, pemerintah saat ini terus mendorong produksi dalam negeri dan menyetop impor.

“Sebenarnya potensi bungkil sawit sebagai sumber pakan cukup besar, tapi untuk pakan unggas belum ada, karena persoalan untuk menghancurkan cangkang sawitnya,” katanya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018