Saturday, 06 March 2021


Lebih Baik Peternak Berkelompok Dulu, Baru Self Mixing

02 Feb 2021, 12:35 WIBEditor : Gesha

Peternak dan self mixing | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Melakukan pencampuran sendiri pakan (self mixing) akan efisien bila dalam partai besar dengan jaminan ketersediaan bahan baku yang cukup. Karena itu, peternak bersatu dulu dalam satu wadah kelembagaan ekonomi dan membeli bahan baku dengan volume besar baru secara bersama menghasilkan pakan .

“Modal untuk melaksanakan self mixing itu besar karena harus membangun gudang dan memiliki cadangan stok bahan baku yang memadai. Kalau misalnya peternak bergabung dalam wadah koperasi misalnya modal bisa dihimpun bersama,” kata peternak ayam ras asal Tangerang Selatan, Ricky Bangsaratoe.

Puluhan tahun berprofesi sebagai peternak ayam ras petelur (layer), Ricky pernah merasakn suka duka memproduksi secara mandiri pakan untuk kebutuhan harian farmnya. Pihaknya masih bisa menekan harga pakan bila harga jagungnya murah karena penggunaan jagung dalam formulasi pakannya mencapai 55 persen.

“Tapi kalau seperti sekarang dimana harga jagung dan harga bungkil kedelai terus naik kita tak akan bisa menghasilkan harga pakan yang murah. Lebih baik memakai pakan pabrikan bila popu lasi ayam kita masih dibawah 200 ribu ekor,” jelas pengurus organisasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia itu.

Ketika melakukan pencampuran sendiri, komposisi bahan baku yang digunakan pihaknya meliputi jagung, bungkil kedelai, dedak dan tepung daging. Dalam kondisi harga bahan baku di pasaran murah dan berkualitas ia masih bisa bertahan melakukan pencampuran sendiri tetapi ketika harga bahan bakunya makin mahal la pun beralih membeli pakan jadi buatan pabrikan.

Peternak layer, menurut Ricky, bisa belajar dari peternak di Jatim yang hingga kini masih menghasilkan pakan sendiri karena mereka berkelompok dalam melaku kan pembelian bahan baku. Tambahan lagi produksi jagung di Jawa Timur melimpah sehingga praktis tak ada masalah dalam pengadaan jagung di wilayah ini. Dengan kondisi harga pakan layer yang dalam beberapa bulan terakhir meningkat peternak sangat berharap harga telur yang dipanen juga meningkat sehingga peternak mendapat keuntungan.

Karena berdasarkan perhitungannya Harga Pokok Produksi (HPP) telur kini juga naik akibat harga pakan yang terus naik. “HPP sekarang sudah di kisaran Rp 22.000 – Rp 23.000. Padahal di tingkat peternak harga telur masih dibawah Rp 20.000 per kg. Sedangkan di masa pandemi daya beli konsumen kan menurun,” tutur pemilik peternakan dengan populasi ayam petelur sekitar 100 ribu ekor tersebut.

Kemunculan koperasi yang me wadahi peternak ayam dinilainya juga sebagai momentum yang tepat untuk lebih mendorong peternak bisa menghasilkan pakan sendiri sehingga tak harus ber gantung pada pabrik pakan besar. “Kalau perlu melalui wadah koperasi ini peternak layer skala kecil dibantu oleh pemerintah dalam penyediaan peralatan untuk melakukan pen campuran pakan. Sehingga ke depan bisa muncul banyak produsen pakan skala kecil di daerah,” ujar Ricky. 

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018