Friday, 26 February 2021


Plus Minus Self Mixing untuk Peternak Unggas

02 Feb 2021, 12:48 WIBEditor : Gesha

Penggunaan pakan tergantung pada peternak | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di kalangan peternak, keputusan untuk mencampur sendiri (self mixing) maupun menggunakan pakan unggas buatan pabrik memiliki plus minusnya sendiri. Semua akhirnya dikembalikan pada keputusan peternak untuk menggunakan pakan apa.

"Metoda total self mix ataupun semi sama-sama lebih murah ketimbang membeli pakan komplit untuk layer. Antara mencampur pakan sendiri (selfmixing) dan membeli pakan komplit merupakan pilihan yang masing-masing berbuntut konsekuensi," ungkap manajer Rosa Layer Farm, Sahlan Hasbi. 

Sahlan menambahkan Peternak yang memilih mencampur pakan sendiri karena harga pakan perkilogram menjadi lebih murah. Sedangkan peternak yang memilih pakan komplit pabrikan tidak mau repot menjaga konsistensi mutu suplai bahan baku, tambahan tenaga kerja, dan menganggap investasi peralatan pencampur masih terlalu mahal dibanding populasi ayamnya.

 “Tidak semua peternak layer (ayam petelur) di Jogja mau mencampur pakan sendiri. Bahkan ada satu peternakan berkapasitas besar hingga kini menggunakan pakan komplit dari pabrik,” ungkapnya.  Selain dia, kata Sahlan, peternak yang menggunakan pakan komplit pabrik biasanya masih berskala kecil, populasinya di bawah 10.000 ekor.

Namun untuk Sahlan, dirinya memilih self mixing karena  alasan harga lebih murah dan lebih leluasa menentukan komposisi pakan sesuai kondisi ayam. Mutu pakan juga bisa dikendalikan sendiri, tidak seperti ‘membeli kucing dalam karung’.

Sahlan menerapkan 2 sistem peracikan pakan. “Pertama semi self mixing, yaitu mencampur konsentrat buatan pabrik dengan jagung giling dan katul. Kedua, kami juga menerapkan total selfmixing, betul-betul mencampur sendiri belasan bahan pakan,” paparnya.

Meskipun demikian untuk suplai mineral dan vitamin Sahlan menggunakan premix pabrikan, biar tak terlalu repot.
Aplikasi dua macam self mixing secara bersama-sama ini, terang Sahlan, bertujuan supaya ia bisa mengontrol kualitas pakan racikan. “Performa layer yang diberi pakan racikan jangan sampai di bawah ayam yang diberi pakan dengan konsentrat pabrik,” tegasnya.

Sahlan Hasbi mengklaim punya suplaier jagung dan bekatul terpercaya. “Telah terujibertahun-tahun. Kami pun tak segan memutus hubungan kalau ada pemasok yang menyetor bahan pakan tak memenuhi syarat,”katanya tegas. Sahlan berkata, hanya menggunakan jagung lokal, dari Grobogan, Klaten,dan Jogja. Ia mengakui mutu jagung impor lebih konsisten,  tetapi sayang kurang bagus warnanya sehingga membuat warna kuning telur pucat.

Salah satu syarat penerimaan jagung di Rosa Layer Farm adalah lolos seleksi kadar air, maksimal 16?ngan toleransi 1% saja berdasar alat ukur cepat digital. “Kami cukup ketat dalam hal ini karena tidak memiliki tempat jemur jagung kalau kadar airnya di atas itu,” terang Sahlan.

Setiap 2 – 3 bulan Sahlan selalu mengujikan campuran pakannya ke laboratorium. Sahlan menyatakan, contoh penurunan kesehatan yang diduga berkaitan dengan pakan adalah gejala serangan clostridium, cholera, maupun necrotic enteritis. “Barangkali kualitas pakan turun sehingga kondisi ayam drop. Bisa juga ada kontaminan tertentu. Sehingga pakan tetap harus diperiksa,” ungkapnya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018