Friday, 26 February 2021


Hemat Biaya dengan Formulasi Pakan Lokal

02 Feb 2021, 13:45 WIBEditor : Gesha

Ganti pakan pabrikan ke lokal | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Meracik pakan unggas dengan menggunakan bahan baku lokal bisa menghemat biaya pakan. Namun dalam situasi pandemi Covid-19, banyak peternak yang beralih pada pakan pabrik. Bagaimana mensiasatinya agar bisa mendapatkan bahan baku lokal yang harganya murah.

Saya belajar membuat pakan sendiri. Tapi bahan baku sulit. Kualitasnya tidak stabil. Harganya tak beda jauh dengan pabrik pakan. Akhirnya saya pakai pakan pabrik,” kata Rully Lesmana peternak bebek 6 ribu ekor di Subang, Jawa Barat. Rully membeli konsentrat dari pabrik pakan lalu diracik dengan bahan-bahan lokal, seperti jagung, dedak dan lain-lain. Selain mutunya tidak konsisten, untuk mengetahui kandungan pakan hasil racikan nya di laboratorium, memerlukan waktu dan biaya.

Rully tidak mengalami kesulitan seperti itu sendiri. Para peternak lain pun mengalaminya. “Hampir semua peternak yang mengelola pakan sendiri, sekarang beli dari pabrikan, karena tidak bisa bersaing. Harapannya membuat pakan sendiri lebih murah, tapi dengan adanya covid-19 ada keterlambatan pengiriman bahan impor. Peternak yang campur pakan sendiri kesulitan bahan baku dan perusahaan pakan mereka punya stok,” jelas Prof Nahrowi Ramli dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada FGD Sinar Tani.

Agar peternak yang membuat atau mencampur pakan sendiri bisa bersaing dengan pakan pabrikan mereka harus mengandalkan bahan baku pakan dari wilayahnya sendiri. Dalam mengelola bahan pakan lokal, jelas Nahrowi yang juga Ketua Umum Asosiasi Ilmu Nutrisi Indonesia (AINI) adalah kita tak bisa mengelola kualitasnya dalam jangka panjang. Dedak contohnya. Variasi mutu dedak tergantung bahan bakunya.

Para pedagang bahan baku pakan hanya menjual, mereka tidak berusaha untuk menjaga atau memperbaiki kualitas. “Banyak teknologi yang bisa digunakan untuk menyimpan dedak. Dedak bisa disimpan selama 6 bulan,” jelasnya. Bahan baku dedak di Indonesia berlimpah. Indonesia adalah produsen dedak dunia ranking 3. “Kalau kita kelola dengan bagus, kita bisa mencukupi kebutuhan peternakan di Indonesia,” tambah nya.

Hanya saja, komunikasi antar konsumen dedak belum bagus, yakni antara konsumen peternak ruminansia dan peternak unggas. Harus ada yang mengaturnya. Dari wilayah satu ke wilayah yang lain. Perlu ada data suplay chain. Ada peraturan daerah yang mengaturnya dan secara konsisten diterapkan. Misalnya tidak membolehkan dedak ditransfer ke daerah lain. Sehingga peternak lokal disitu tak kesulitan mendapatkan bahan baku.

Nahrowi menyakini bahwa kedepan, pemanfaatkan bahan baku lokal setempat akan membuat peternak bisa melakukan efisiensi dalam penyediaan pakan unggasnya. Logistik bahan baku impor bisa mengalami beberapa kendala, dan pembenahan logistik akan memerlukan waktu yang tidak sebentar.  

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018