Friday, 26 February 2021


Ahli Nutrisi Pakan : Ada Alternatif Bahan Pengganti Dedak, MBM dan Bungkil Kedelai

02 Feb 2021, 13:58 WIBEditor : Gesha

Ayam diberikan pakan hasil self mixing | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bila peternak kesulitan mendapatkan dedak di wilayahnya, ada alternatif bahan substitusinya. Dedak dalam ransum pakan adalah sumber energi pakan dan bahan energi dari dedak ini bisa digantikan bungkil inti sawit yang dihidrolisis.

Ketua Umum Asosiasi Ilmu Nutrisi Indonesia (AINI), Prof Nahrowi Ramli mengungkapkan produksi bungkil inti sawit dalam negeri telah mencapai angka 6 juta ton per tahun. Namun, sayangnya 85 persen dari jumlah tersebut diekspor ke luar negeri. Indonesia malah mengimpor PKM (Palm Kernel Meal) untuk bahan baku pakan unggas.

Indonesia juga mengimpor bahan pakan lain yang jumlahnya cukup banyak, yakni bungkil kedelai, feed wheat dan MBM (Meat Bone Meal) atau tepung tulang. PKM adalah bungkil inti sawit yang diperoleh dari hasil sisa ekstrasi minyak dengan menggunakan pelarut kimia. Kandungan minyak nya tergolong rendah, yakni sekitar 2 persen dengan kandungan protein 16 – 18 persen.

“Kita punya bungkil inti sawit dan punya inovasi bungkil inti sawit yang dihidrolis (PKH). Batok-batoknya sudah dihilangkan meski belum 100 persen. Bila PKH ini dimasukkan 5 persen dalam formula pakan, harga pakan bisa menurun Rp 100 per kg. Untuk ayam Layer (petelur) bisa dipakai 10 persen PKH. Delta harganya akan lebih banyak,” jelas Prof. Nahrowi.

Prof Nahrowi menambahkan, dirinya sudah lama meneliti PKH. Bahkan hasil inovasi teknologi pakan ini sudah diambil perusahaan sawit. Perusahaan itu sudah komit untuk produksi PKH dan melakukan investasi bersama. Pemakaian PKH dalam ransum ayam pun sudah berjalan. “Sudah kita pasarkan, peternak mencoba untuk ayam, Layer pakai 10 persen. Broiler finisher 7,5 persen. Ini belum pakai enzim,” tambahhya.

Menurutnya, perusahaan sawit yang bekerjasama dengannya untuk memproduksi PKH sudah siap untuk memenuhi kebutuhan industri pakan. Kalau dipakai 5 persen saja, maka diperlukan 1 juta ton PKH. Diakuinya kapasitas pabriknya belum sampai kesana. “Saya usulkan kerjasama dengan pabrik sawit lain yang punya PKM," tuturnya.

Pengganti MBM

Salah satu alternatif pengganti MBM adalah maggot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly). “Untuk sumber protein sendiri, maggot bisa kita kerjakan inovasinya supaya bisa menggantikan MBM, saya yakin akan berhasil,” tambahnya.

Kandungan nutrisi maggot, komposisi kimianya sama dengan MBM. Proteinnya hampir mendekati. Kandungan kitin maggot lebih tinggi. Kitin ini bisa menjadi feed additif yang juga dibutuhkan unggas. “Permasalahan bagaimana kita bisa menyediakan maggot secara kontinyu. Kalau bisa, saya yakin sekali bisa gantikan protein pakan. Apapun yang dihadapi ketersediaan. Kualitas bisa diperbaiki," tuturnya.

Sedangkan untuk pengganti bungkil kedelai, Prof Nahrowi mengakui masih kesulitan mencari pengganti bungkil kedelai sehingga Indonesia mau tidak mau masih harus impor bungkil kedelai. Dalam jangka panjang, kita terus melakukan inovasi menemukan penggantinya. “Pengganti bungkil kedelai untuk pakan unggas haruslah bahan yang bisa diaplikasikan di lapangan. Kalau sekedar pengganti bungkil kedelai, banyak tapi kontinuitas yang menjadi persoalan," tuturnya.

Tentang peluang green konsen trat menurut Nahrowi sangat besar, namun ada kendala didistribusi. Untuk rumi nansia, green konsentrat sudah biasa diapli kasikan peternak. Tetapi untuk ternak unggas dan itik harus kita olah dulu karena unggas adalah ternak manograstolik.

Salah satu tanaman yang cocok untuk green konsentrat adalah Indigovera, kandungan proteinnya 23 persen, bisa ganti bungkil kedelai. Namun kalau untuk unggas harus diolah dulu. Untuk bisa memanfaatkannya secara langsung bisa dipakai bagian pucuknya. “Itu tidak banyak, dan rendemennya juga belum banyak,” tuturnya. Prof Nahrowi tidak menyarankan penambahan mikroba pada dedak. Karena akan tumbuh protein mikroba yang tidak bisa dicernak oleh unggas. 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018