Sunday, 11 April 2021


Guru Besar IPB Usulkan AUTS Fokus ke Sapi Indukan

08 Apr 2021, 15:42 WIBEditor : Yulianto

Peternak sapi rakyat kini lesu karena masuknya daging kerbau impor | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Pemerintah telah meluncurkan asuransi usaha ternak sapi/kerbau (AUTS/K). Namun Guru Besar Peternakan IPB University, Prof. Muladno Basar mengusulkan lebih baik difokuskan untuk asuransi sapi indukan. Namun ke depan, pemerintah juga bisa menyediakan untuk ternak lainnya seperti kambing/domba.

Alasannya menurut Muladno, karena sapi indukan akan lebih lama hidup atau dipelihara peternak. Selain itu, umumnya peternak rakyat memelihara sapi indukan. Sedangkan perusahaan penggemukkan (feedloter) cenderung memelihara sapi  bakalan.

Mantan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) ini mengungkapkan, populasi ternak indukan di Indonesia tahun 2019 sebanyak 7,11 juta ekor atau 42 persen dari total populasi sekitar 16,9 juta ekor.

Jika premi asuransi sebesar Rp 200 ribu/ekor dan pemerintah memberikan subsidi sebesar 80 persen atau Rp 160 ribu/ekor, maka peternak hanya membayar premi Rp 40 ribu/ekor/tahun.

“Kalau sapi indukan yang diikutkan asuransi, maka anggaran pemerintah untuk subsidi sebanyak Rp 1,1 triliun. Sedangkan nilai yang peternak bayarkan Rp 284,6 miliar/tahun,” tuturnya.

Menurut Muladno, ada sembilan manfaat jika sapi indukan yang diasuransikan. Pertama, populasi sapi indukan pasti meningkat. Sebab, jika ada yang mati, maka akan diganti. “Minimal populasi akan tetap, yang pasti akan naik karena akan beranak,” katanya.

Kedua, penghitunga sapi indukan akan lebih akurat. Pasalnya, pihak asuransi juga akan ikut menghitung populasi sapi indukan. Ketiga, sapi selalu dalam kondisi sehat. Sebab, pihak asuransi akan menyediakan dokter hewan untuk memantau kondisi sapi indukan.

Keempat, ada pembelajaran bagi peternak untuk membiakkan sapi secara lebih baik. “Kalau ternak sehat, maka peternak terdorong menambah jumlah sapi,” ujarnya.

Kelima, ternak sapi indukan terkonsolidasi lebih baik. Keenam, program pembiakan dapat mudah dilakukan, karena data lebih valid. Ketujuh, dalam jangka panjang program pembibitan dapat diterapkan. “Pelan-pelan pasti dengan kebersamaan stok sapi, pembibitan sangat mungkin diterapkan, memang perlu waktu paling tidak 3-4 tahun,” tuturnya.

Kedelapan, kebijakan pengembangan peternakan lebih tepat. Kesembilan, anggaran pemerintah (Rp 1,1 triliun) untuk pengadaan sapi bakalan yang umurnya pendek lebih bermanfaat untuk subsidi asuransi sapi indukan.

--

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018