Friday, 07 May 2021


Cara Sulkar Manfaatkan Kamar Kosong untuk Budidaya Burung Walet

22 Apr 2021, 08:12 WIBEditor : Ahmad Soim

Rumah walet | Sumber Foto:Suriady

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sidrap --  Air liur burung walet tetap ramai dicari pembeli dari Hongkong dan Cina meski kondisi dunia masih dilanda Pandemi Covid-19.  Usaha budidaya sarang burung walet menjamur di Kabupaten Sidrap, terutama di Pusat Kota Pangkajene.

Sulkar yang akrab disapa Nain (50) salah satu peternak budidaya sarang burung walet yang ada di Kota Pangkajene Sidrap Sulsel menuturkan memulai usaha budidaya sarang walet sejak tahun 2016 dengan memanfaatkan kamar kosong di lantai tiga rumahnya dengan ukuran 5 kali 6 persegi.

"Ya saya punya kamar kosong yang tidak terpakai dari pada mubazir saya manfaatkan untuk budidaya sarang burung walet dengan ukuran 5 kali 6 persegi," kata Sulkar saat ditemui Reporter tabloidsinartani.com, Rabu 21 April 2021.

Alat dan bahan yang digunakan dalam budidaya sarang burung walet tuturnya di antaranay kayu sirip, baskon pendingin 30 biji dan sound walet beserta komponen-komponen lainnya dan untuk modal awal kami dalam budidaya sarang burung walet ini sebesar Rp 7 juta rupiah.

BACA JUGA:

Lebih lanjut, Sulkar menyampaikan bahwa "sebenarnya budidaya sarang burung walet lebih mudah dan biaya operasional setiap harinya boleh dikata tidak ada. Resikonya kecil dibandingkan dengan budidaya ternak lainnya yang memerlukan operasional untuk pakan, minum dan obat-obatan," jelas Sulkar.

Usaha budidaya sarang burung walet dapat saling menguntungkan dengan peternak lainnya. "Maksudnya apabila ada pembudidaya sarang burung walet di sekitar kita, burung walet juga bisa masuk ke tempat kami untuk bersarang dan begitupula sebaliknya," ujarnya.

Dalam budidaya sarang burung walet diperlukan kesabaran karena butuh proses waktu burung walet bisa bersarang.

"Saya mulai usaha budidaya sarang burung walet sejak tahun 2016, sekitar 3 tahun kemudian tepatnya tahun 2019 waletnya baru bisa bersarang dan membuahkan hasil, bahkan sebelumnya saya sempat berputus asa karena  burung waletnya tidak bisa bersarang," ujarnya.

Setelah mendengar dari pengalaman dari teman yang sudah lama membudidayakan sarang burung walet bahwa dalam membudidayakan sarang burung walet membutuhkan kesabaran karena kesabaran salah satu kunci dari kesuksesan," kata Sulkar.

Lebih jauh Sulkar mengatakan bahwa "harga sarang burung walet untuk wilayah Sidrap Rp 13 juta perkilo untuk bentuk mangkok dan untuk harga sarang burung walet campuran dengan bentuk bengkok, sudut, patahan dan mangkok mencapai Rp 9-10 juta perkilo. Omset kami perbulan Rp 8 juta," ungkap Sulkar.

Meskipun pandemi Covid-19 masih melanda, sampai saat ini proses jual beli sarang burung walet masih tetap berjalan lancar. "Pembeli sarang burung walet yang sering melakukan transaksi jual beli dengan kami berasal dari beberapa daerah seperti Pinrang, Polman, Parepare dan Kota Makassar," tutup Sulkar.

   ===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

Reporter : Suriady
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018