Friday, 07 May 2021


Rochadi Tawaf : Mekanisme Pasar Daging, Makin Spesifik Jelang Hari Raya

28 Apr 2021, 15:02 WIBEditor : Gesha

Aktivitas RPH menjelang Idul Fitri semakin meningkat | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Setiap menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, harga daging sapi selalu merangkak naik. Padahal di sisi lain, pemerintah selalu menegaskan pasokan daging (segar lokal maupun beku impor) selalu diatas kebutuhan.

Seperti diketahui, Produksi daging sapi dalam negeri hingga tahun 2021 masih belum bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Data dari Ditjen Peternakan dan Kesejatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan) merilis untuk tahun 2021 saja, ketersediaan hanya 473.814 ton dibandingkan kebutuhan yang mencapai 696.956 ton, sehingga terjadi defisit 223.142 ton.

Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan sumbernya bisa dari sapi hidup (sapi bakalan), daging sapi beku impor bahkan daging kerbau beku impor. Sehingga stok atau ketersediaan daging, dipastikan pemerintah bisa mencukupi kebutuhan.

Namun setiap tahunnya, kenaikan harga selalu mewarnai konsumen daging menjelang hari raya. Mulai dari merangkak naik hingga melonjak tajam di beberapa daerah.

Bahkan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi daging sapi dibandingkan konsumsi yang delta (perubahannya) selalu melebar terus setiap tahun. Dimana pertumbuhan produksi hanya 1,3 per per tahun, sedangkan konsumsi daging sapi bisa mencapai 6 persen per tahun. 

"Sehingga, dikhawatirkan gejolak harga setiap tahun. Sehingga perlu pola pikir luar biasa. Pasar (komoditas) Daging, sangat spesifik dan berbeda dengan pasar biasa," ucap Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia periode 2015-2020, Rochadi Tawaf dalam Focus Group Discussion (FGD) Mengawal Pasokan Daging Jelang Lebaran yang diadakan TABLOID SINAR TANI, Rabu (28/4).

Rochadi menjelaskan di Indonesia, setiap daerah memiliki kebiasaan tertentu dalam mengkonsumsi daging sapi, sehingga sangat mempengaruhi mekanisme pasar daging. 

Misalnya saat 7 hari sebelum Ramadhan, 7 hari sebelum Idul Fitri dan 1 bulan sebelum Idul Adha menjadi momen penting masyarakat umum mengkonsumsi daging. 

Diakuinya, tata kelola pasokan daging sapi menjelang Lebaran dimulai dari kepastian jumlah sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) sampai H-7, Transportasi hingga H-7, tata kelola di RPH, Pengelolaan Gudang dari hasil samping (by product) seperti jeroan, kaki, kepala, lemak dan lainnya, hingga pasar untuk penggunaan chiller.

Kebutuhan daging segar tersebut untuk didistribusikan ke pasar tradisional, pasar institusional (supermarket) hingga pasar online.

"Di Hari Raya, konsumen lebih menyukai spesifik yaitu hanya daging saja, sehingga by product seperti jeroan, kaki, kepala lemak dan lainnya tidak laku dan memberikan pengaruh biaya produksi pada RPH yang akhirnya dibebankan kepada harga daging," jelasnya.

Rochadi bercerita, dalam RPH menjelang Lebaran, petugas RPH bekerja dengan peralatan yang sederhana dengan waktu yang terbatas untuk bisa menghasilkan daging segar. 

"Bisa menumpuk 2-3 tumpukan untuk kemudian dilakukan pemotongan. Dan menimbulkan biaya yang tinggi karena konsumen menginginkan daging segar," tegasnya.

Kondisi berbeda jika konsumen sudah terbiasa mengkonsumsi daging segar beku dan sistem stok untuk kebutuhan per bulan bahkan hari raya akan kuat ketersediaannya. 

Namun ada faktor lain yang menentukan mekanisme harga pasar daging, selain faktor produksi dan supply demand. Mulai dari kompetitor, psikologi pasar (panic buying), kualitas dan stok barang.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018