Sunday, 09 May 2021


Imbas Kebakaran, Pasokan Sapi dan Daging Australia Susut

29 Apr 2021, 08:31 WIBEditor : Yulianto

Sapi di Australia diberdayakan secara penggembalaan | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dampak bencana kebakaran di Australia yang terjadi tahun 2019 menyebabkan pasokan sapi bakalan dan daging ke Indonesia berkurang drastis.  Akibat bencana kebakaran jumlah stok populasi sapi di Negeri Kangguru turun secara signifikan, dari 30 juta ekor di tahun 2013 menjadi hanya 24 juta ekor di tahun 2020.

“Pada tahun 2020 dan 2021, memang ada sedikit gangguan pasokan sapi khusus impor dari Australia imbas dari kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2019 lalu,” kata Didiek Purwanto, Msi Ketua Dewan Gapuspindo  periode 2019 -2023 dalam FGD Tabloid Sinar Tani “Mengawal Pasokan Daging Jelang Lebaran” (28/4).

Dampak ikutan turunnya populasi mengakibatkan realisasi impor sapi yang masuk ke Indonesia juga berkurang. Data mencatat pada tahun 2019 Indonesia mendatangkan sebanyak 601.157 ekor sapi bakalan, namun di tahun 2020 turun menjadi 407.607 ekor.  Terjadi penurunan yang cukup besar pemasukan sapi secara year to year. Padahal populasi sapi akhir tahun 2020 menjadi populasi awal yang akan menjadi stok daging pada tahun 2021, papar Didiek.

Adapun untuk pengadaan daging melalui mekanisme impor di Kementrian Perdagangan dalam rangka memenuhi kebutuhan puasa dan lebaran April-Mei ini ada beberapa pihak yang menjadi pelaksana impor yaitu Gabungan Pengusaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Importir Swasta dan Bulog serta BUMN yaitu PT Berdikari.

Pada April ini impor daging direncanakan mencapai 40.396 ton yang berasal dari Gapuspindo 6.941 ton, importir swasta  13.881 ton dan Bulog 20.204 ton.  Sedangkan pada Mei, impor daging direncanakan sebanyak 36.513 ton. Berasal dari Gapuspindo 8.400 ton, importir daging swasta 11.659 ton, Bulog 14.668 ton, serta PT Berdikari 1.786 ton.  

Diharapkan impor daging pada April – Mei ini dapat menjamin stabilisasi pasokan dan harga daging di pasaran menjelang Hari Raya Idul Fitri yang akan datang. Gapuspindo kata Didiek, selalu berkoordinasi  dengan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam mengawal stok daging sapi di pasaran.

Kita setiap minggu menyampaikan laporan stok real yang dimiliki Gapuspindo kepada PKH. Bahkan tingkat validitas data stok yang kami laporkan mencapai 90 persen, sehingga mendekati angka real di lapangan, tambahnya.

Untuk meningkatkan supply daging dalam negeri dalam jangka panjang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.  Menurut Didiek, dengan mengembangkan program peternakan sapi potong lokal secara mandiri memanfaatkan lahan ex tambang atau integrasi perkebunan sawit dan sapi. Sedangkan di sisi impor, kita harus mengurangi ketergantungan impor sapi dari Australia dengan mengalihkannya pada Meksiko atau Brazil,” katanya.

Selama Ramadhan hingga puncaknya pada Hari Raya Idul Fitri, daging sapi menjadi salah satu kebutuhan pangan yang cukup tinggi permintaannya. Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan kebutuhan  daging sapi secara nasional mencapai 60.000 ton pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional ini.

 

Sedangkan untuk pasokan sendiri ada 78.000 ton, sehingga ada surplus 18.000 ton. Untuk memenuhi kebutuhan daging dilakukan dengan cara memaksimalkan produksi daging dalam negeri dan juga melalui mekanisme impor.

Reporter : Iqbal
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018