Thursday, 17 June 2021


Pelayanan Gratis Inseminasi Buatan untuk Sapi dan Kerbau di Kaltara

05 Jun 2021, 11:44 WIBEditor : Ahmad Soim

IB untuk sapi dan kerbau di Kaltara | Sumber Foto:Ibnu Abas

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Nunukan -- Pemda Nunukan memberikan pelayanan gratis suntik inseminasi buatan (IB) sapi dan kerbau untuk mencapai target penambahan populasinya.

Petugas dari Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Nunukan melakukan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak sapi di beberapa kelompok tani peternak  Desa Bukit Harapan Kecamatan Sebatik Tengah Nunukan.

Kepala Seksi Perbibitan dan Produksi Bidang Peternakan DPKP, Nirwana mengungkapkan kegiatan IB ini salah satu tujuannya untuk mengejar target program Sikomandan (sapi kerbau komoditas andalan negeri) guna menambah populasi  sapi dan kerbau untuk memenuhi produksi daging sapi dan kerbau secara nasional. Sikomandan ini merupakan salah satu program unggulan Kementerian Pertanain yang merupakan reinkarnasi dari program upsus siwab.

“Selain pelaksanaan IB pada ternak sapi, saat pelayanan juga dilakukan pemeriksaan kebuntingan, pencatatan kelahiran dan pelayanan kesehatan hewan lainnya,  kita berbagi tugas ada yang di Pulau Nunukan dan ada juga tim untuk Pulau Sebatik,” kata Nirwana.

Nirwana mengakui secara umum peternak sapi yang ada di Pulau Sebatik tidak terkecuali di Desa Bukit Harapan rata-rata sistem pemeliharaan ternak sapinya terintegrasi dengan kebun kelapa sawit. 

“Saat ke lapangan melakukan pelayanan kesehatan hewan, kita menargetkan sebanyak-banyaknya ternak sapi bisa terlayani, baik IB, pemeriksaan kebuntingan, pencatatan kelahiran dan pelayanan kesehatan lainnya, seperti perawatan pasca ternak sapi melahirkan dan pengobatan kalau ada hewan sakit lainnya,” ujarnya.

Menurut Nirwana, kelahiran anakan sapi berdasarkan pendataan lebih banyak terjadi karena proses kawin alam yang dipelihara di kebun kelapa sawit, sedangkan pelaksanaan kegiatan IB itu kita targetkan  pada ternak sapi  yang dipelihara dengan sistem dikandangkan karena dapat dengan mudah diawasi atau dilihat.

BACA JUGA:

“Hasil IB pada sapi bisa terpantau sekitar 3 mingguan dengan merujuk siklus birahinya, kalau 21 hari kemudian sapinya tidak menunjukkan tanda-tanda birahi berarti ada kemungkinan sapi tersebut bunting, tapi kalau mau pastinya sekitar 5 bulanan setelah IB kita periksa kembali,” katanya.

Saat melakakukan pelayanan kesehatan hewan kita harapkan peternak sudah membuat kandang jepit guna memudahkan penyuntikan  dan pemeriksaan kesehatan lainnya, berdasarkan catatan kita sapi yang ada Desa Bukit Harapan tersebut jumlahnya ratusan ekor.

“Pelayanan kesehatan hewan yang kita lakukan ini bersifat gratis tanpa dipungut biaya apapun dengan catatan selama persediaan obat di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) masih tersedia. Beberapa tahun belakangan ini anggaran menipis jadi sebagian obat tidak tersedia, ada beberapa peternak yang membeli obat sendiri seperti obat cacing dan lainnya,” jelas Nirwana.

Kendala yang biasa terjadi saat kegiatan pelayanan kesehatan ternak adalah sapinya masih berkeliaran di lahan kebun kelapa sawit, karena kebanyakan peternak memelihara sapi tidak intensif atau tidak dikandangkan sehingga pada saat pelayanan ternaknya masih di mana-mana.

 “Biasanya kita menyiasatinya dengan melakukan koordinasi kepada peternak lebih awal, seminggu sebelum pelayanan kita sudah sampaikan sehingga saat kita datang  ternak sapinya sudah terkumpul di satu tempat,” terangnya.

Kebanyakan peternak lupa melaporkan kepada petugas kalau sapinya melahirkan, lalu saat pemotongan sapi untuk hajatan keluarga dan penjualan sehingga tidak terdata dengan baik, ini sangat berpengaruh terhadap jumlah populasi,  tetapi kalau ternak sapinya sakit biasnya langsung menghubungi petugas.

Peternak menyambut kegiatan pelayan kesehatan hewan dengan antusias, “biasanya kami usahakan  paling lambat 4 bulan kemudian kita sudah kembali mengunjungi peternak, setiap minggu kita lakukan pelayanan dari kelompok ke kelompok dan dari satu desa ke desa lainnya,” imbuhnya.

Nirwana menambahkan, peternak sekarang ini sudah bagus pola fikirnya, karena mereka melihat sendiri kondisi ternaknya setelah memperoleh pelayanan kesehatan menjadi lebih baik, lebih sehat  yang sakitpun biasanya bisa sembuh, bahkan biasanya kita dihubungi peternak secara langsung menanyakan kapan giliran kelompok mereka mendapatkan pelayanan meskipun belum waktunya. Kita menyarankan kepada peternak kalau ketersedian obat  kurang, untuk membeli obat secara mandiri sementara kita bantu pelayanannya.

“Kita merasa senang kalau ternak masyarakat itu bisa berkembang apalagi kalau riwayat ternak awalnya bantuan pemerintah, berarti usaha pemerintah tidak sia-sia selain itu juga dapat menjadi sumber tambahan penghasilan bagi keluarga, seperti pembiayaan kebutuhan anak sekolah dan lain-lain,” pungkasnya.

-----

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Ibnu Abas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018