Friday, 18 June 2021


Kementan Luncurkan Aplikasi UPT Peternakan dan Kesehatan Hewan

10 Jun 2021, 19:22 WIBEditor : Gesha

Aplikasi UPT Online ini menggambarkan tentang dinamika populasi masing-masing UPT, khususnya UPT penghasil bibit. | Sumber Foto:Ditjen PKH

TABLOIDSINARTANI. COM, Jakarta -- Kementerian Pertanian meluncurkan aplikasi bidang peternakan dan kesehatan hewan berbasis online atau yang dinamakan UPT Online. Aplikasi UPT Online ini merupakan salah satu terobosan untuk mempermudah  memantau perkembangan, pemeliharaan atau pembibitan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH .

"Intinya aplikasi ini akan memudahkan,  seperti mempermudah untuk mengotrol perkembangan UPT di Indonesia," kata Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo di acara peluncuran aplikasi UPT Online. 

Ditjen PKH sendiri memiliki 10 Unit Pelaksana Teknis (UPT) perbibitan yang dalam tugas dan fungsinya menghasilkan bibit dan benih ternak . UPT tersebut meliputi BBPTU HPT Baturraden, BPTU HPT Denpasar, BPTU HPT Padang Mengatas, BPTU HPT Sembawa, BPTU HPT Indrapuri, BPTU HPT Pelaihari, BPTU HPT Siborong Borong, BBIB Singosari, BIB Lembang dan BET Cipelang. 

Dirjen  Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah menjelaskan, lewat aplikasi ini penghasil bibit bisa dipantau dan dikontrol populasinya, kelahiran, distribusi serta beberapa kendala reproduksi ternaknya. 

Aplikasi ini merupakan aplikasi berbasis website  yang  bisa menggambarkan tentang dinamika populasi masing-masing UPT, khususnya UPT penghasil bibit. Menu yang ditampilkan berupa dinamika populasi seperti jumlah populasi ternak, kelahiran, distribusi, dan reproduksi ternak.

Dalam tampilannya aplikasi ini juga bisa memperlihatkan struktur populasi ternak berdasarkan umur yaitu anak (0-6 bulan), muda (6-18 bulan) serta ternak  dewasa/produktif (diatas 18 bulan). 

"Yang menarik lagi dari aplikasi ini disediakan menu Alert System yaitu berupa menu untuk memonitor kinerja teknis reproduksi ternak khususnya sapi," jelas Nasrullah.

Beberapa menu lain yang juga sudah dikembangkan yaitu jumlah dan identitas dara yang belum/sudah dikawinkan yang muncul jika ternak betina sudah masuk dewasa kelamin serta jumlah dan identitas betina yang sudah dilakukan pemeriksaan kebuntingan (PKB) yang muncul jika sudah dikawinkan minimal 1,5 bulan sebelumnya.

Kemudian, menu persiapan beranak yang muncul mulai bulan ke 8 kebuntingan, induk siap kawin (post partus dan PKB tidak bunting) yang muncul 2 bulan setelah betina beranak atau di kawinkan namun belum bunting, dan ternak dengan potensi gangguan reproduksi (gangrep ),untuk  memonitor ternak yang belum bunting karena sakit atau mengalami gangrep. 

Aplikasi ini diyakini sangat memudahkan bagi pimpinan, baik di pusat maupun di masing-masing UPT untuk memantau kinerja reproduksi ternak, khususnya sapi pada UPT perbibitan. Nantinya para pimpinan bisa segera mengambil langkah-langkah teknis dan kebijakan yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi reproduksi.

Umtuk menjaga aplikasi ini berjalan secara berkelanjutan, koordinasi yang baik dengan UPT terkait akan terus dilakukan. Hal ini mengingat data-data  bersumber dari masing-masing UPT. 

"Pihak  UPT  harus secara berkala menginput data di aplikasi ini sehingga data yang ditampilkan atau disajikan bisa real time," tutur Nasrullah.

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018