Sunday, 24 October 2021


Segera Diterbitkan, Pedoman Umum Penatagunaan Anti Mikroba

27 Jul 2021, 08:23 WIBEditor : Gesha

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Nuryani Zainudin, | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Dalam upaya mendorong pelaku usaha peternakan menggunakan antibiotik secara bijaksana, pemerintah akan menerbitkan satu aturan yang disebut Pedoman Umum Penatagunaan Anti Mikroba. Adanya ketentuan baru tersebut diharapkan dapat berimplikasi menurunkan penggunaan serta resistensi antibiotik.

“Saat ini proses penyusunan masih berjalan berkoordinasi dengan banyak pihak terkait. Diharapkan sudah dapat dirampungkan dalam waktu dekat,” kata Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Nuryani Zainudin, di acara Obrolan Ringan Akhir Pekan Seputar Unggas (OBRASS) virtual, Sabtu (24/07).

Acara OBRASS merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) untuk membahas satu topik yang tengah hangat diperbincangkan dimasyarakat. Kali ini kegiatan berlangsung menarik karena ikut bergabung tiga Direktur Kesehatan Hewan di eranya yakni Nuryani Zainudin, Fajar Sumping Tjatur Rasa serta Pudjiatmoko.

Nuryani mengemukakan bahwa keberadaan aturan menyangkut Penatagunaan Anti Mikroba perlu diterbitkan untuk dapat dijadikan pedoman umum bagi perusahaan-perusahaan besar perunggasan dalam menyusun SOP internal terkait penggunaan antimikroba .

Selanjutnya SOP tersebut diteruskan ke peternak plasmanya untuk diimplementasikan dalam pelaksanaan tata laksana pemeliharaan ternak masing-masing peternak. Banyak hal yang akan tercantum dalam pedoman umum tersebut , mulai dari bagaimana aturan penggunaan anti mikroba hingga kegiatan pengawasan di lapangan.

Manajemen Pemeliharaan

Dirinya menekankan bahwa yang jadi tantangan ke depan adalah bagaimana agar aturan baru ini bisa cepat tersampaikan ke semua peternak termasuk peternak ayam skala kecil sehingga secara bertahap penggunaan antibiotika bisa ditekan.

“Karena itu setelah ini mungkin kami perlu menyusun strategi komunikasi supaya proses sosialisasinya kepada peternak bisa cepat dan mereka bisa menerapkan aturan yang ada terkait penggunaan anti mikroba,” tuturnya.

Direktur Kesehatan Hewan menekankan, dalam melaksanakan diseminasi kebijakan terkait penggunaan anti mikroba (antibiotik) kepada peternak tetap harus ditekankan bahwa yang penting diusahakan adalah bagaimana agar peternak bisa melaksanakan manajemen pemeliharaan yang benar dengan memperhatikan aspek biosekuriti di lingkungan peternakannya. Penggunaan antibiotika adalah hanya pilihan terakhir manakala ternak terserang infeksi.

Pakar kesehatan hewan, Sunuhadi Sudarmo, senada mengatakan bahwa sesungguhnya saat ini peternak ayam mempunyai banyak pilihan untuk mendapatkan alternatif pengganti antibiotik salah satunya adalah obat herbal. Penggunaan obat herbal terbukti dapat meningkatkan imunitas sehingga ternak tak mudah terjangkit penyakit.

Hasil penelitian mendapatkan fakta bahwa penggunaan tepung bawang putih yang dicampurkan ke dalam pakan bisa menghindari ayam dari serangan penyakit IB juga mendukung pertumbuhan badan secara optiumal.

Ia menilai sudah saatnya kampanye penggunaan obat herbal lebih diintensifkan karena tak berefek samping dan dapat menangkal bakteri penyebab penyakit. Disamping obat hewan belakangan juga banyak peternak yang menggunakan probiotik sebagai pengganti antibiotik untuk menjaga kesehatan ternaknya.

 

 

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018