Monday, 23 May 2022


Pemerintah Sikapi Serius Masalah Resistensi Antimikroba

27 Oct 2021, 20:39 WIBEditor : Gesha

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainudin | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pemerintah mengimbau pelaku usaha dan pemangku kepentingan  bidang peternakan dan kesehatan hewan menyikapi lebih serius masalah resistensi antimikroba karena berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap berbagai aspek kehidupan di masyarakat.

“Pengendalian resistensi antimikroba harus dilakukan secara bersama-sama dengan pendekatan One Health karena memang banyak pihak yang terkait dengan masalah ini,” tegas Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainudin, di acara pembukaan Musyawarah Nasional VIII Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) secara daring, Selasa (26/10).

Nuryani mengatakan, resistensi antimikroba saat ini sudah menjadi masalah global  dan ancamannya sangat serius terhadap kehidupan masyarakat banyak.  Karena itu penanganannya juga harus dilakukan secara serius dan secara bersama  oleh banyak pihak terkait.

Salah satu faktor penyebab  resistensi antimikroba (diantaranya resistensi antribiotika) adalah ketidaktepatan dalam penggunaan obat hewan.  “Karenanya kami  terus giat mensosialisasikan kepada pelaku  usaha peternakan agar penggunaan obat hewan secara bijak dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Industri obat hewan di tanah air, menurut Direktur Kesehatan Hewan, perkembangannya cukup pesat seiring dengan terus bergeliatnya bisnis obat hewan. Terdata saat ini di Indonesia terdapat 114 produsen obat hewan, 280 importir dan 48 eksportir obat hewan.

Seiring dengan itu, obat hewan yang terdaftar pun terus meningkat dimana di tahun 2021 terdapat lebih dari  4.000 produk obat hewan yang sudah terdaftar. “Tantangan bagi kami ke depan disamping pengendalian resistensi antimikroba adalah bagaimana bisa lebih meningkatkan pengawasan obat hewan yang beredar karena faktanya  ada obat hewan yang belum terdaftar tetapi masih diedarkan,” tutur Nuryani.

Dorong Ekspor   

Dalam upaya melakukan pengendalian resistensi antimikroba dan pengawasan peredaran obat hewan   selama ini pihaknya berpartner dengan organisasi ASOHI, karenanya ke depan kerja sama dengan ASOHI serta pihak  lain seperti Badan Pengawasan Obat  dan Makanan (BPOM) perlu lebih ditingkatkan.

Satu hal yang menggembirakan, meski masih dalam masa pandemi Covid-19, kegiatan ekspor obat hewan masih terus berjalan. Selama periode tahun  2016-2021 nilai ekspor obat hewan Indonesia mencapai sekitar 286,6 juta dolar AS. Ekspor dalam hal ini sudah menembus 95 negara di lima benua berupa sediaan biologik, farmasetik dan obat alami.

“Kami akan berupaya mendorong peningkatan ekspor ini untuk mendukung program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) yang telah dicanangkan pemerintah,” ujar Dirkeswan.

Dalam sambutannya, Ketua Umum ASOHI periode 2015-2020  ,Irawati Fari, mengemukakan, selama periode kepengurusannya banyak tantangan yang dihadapi. Terutama sejak Maret 2020 saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia ,  kondisi perekonomian termasuk usaha peternakan unggas sempat terdampak.

Meski ditengah kendala global demikian pihaknya dalam melaksanakan kegiatan selalu berpegang pada visi, misi dan tujuan didirikannya ASOHI. “Sesuai harapan para pendiri ASOHI, kami terus berupaya menggerakkan ASOHI nasional dan daerah menuju tercapainya industri obat hewan yang tangguh, mandiri dan bertanggung jawab,” jelas Ketua Umum ASOHI.         

 

 

 

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018