Wednesday, 01 December 2021


Suplus Telur, RI malah Impor Tepung Telur

10 Nov 2021, 16:28 WIBEditor : Yulianto

Tepung telur | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Produksi telur dalam negeri dibandingkan kebutuhannya memang surplus. Bahkan imbas berlebihanya produksi telur, selama periode Agustus-Oktober 2021, harga telur turun drastis. Tapi disisi lain, Indonesia masih mengimpor tepung telur. Mengapa?

Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Pertanian, Kementerian Perindustrian, Supriadi mengatakan, produksi telur dalam negeri tahun 2021 sekitar 5,15 juta ton. Dengan kebutuhan diperkirakan 4,95 jut ton, perhitungan pemerintah produksi telur di dalam negeri surplus sekitar 200 ribu ton.

Kelebihan produksi tersebut membuat harga telur sempat anjlok di bawah Harga Acuan Peraturan Menteri Perdagangan No. 7 Tahun 2020 sebesar Rp 19 ribu hingga 21 ribu/kg.  Sejak Agustus 2021, harga telur cenderung menurun dan berada di bawah harga acuan Permendag, rata-rata harga telur ayam ras di tingkat peternak hanya sebesar Rp 16.940/kg.

Anjloknya harga telur tersebut menurut Supriadi, belum bisa diolah untuk memenuhi kebutuhan industri, seperti tepung telur. Padahal permintaan produk olahan telur tersebut cukup besar, terutama sebagai bahan baku industri makanan seperti industri roti, biskuit, mie, mayonise dan indusri makanan lainnya.

“Akibatnya, kebutuhan tepung telur untuk industri dalam negeri masih kita masih tergantung dari impor yang sebagian besar dari India dan Ukraina,” kata Supriadi saat Webinar Pataka: Mengupas Peluang Industri Pengolahan Telur di Jakarta, Rabu (10/11).

Supriadi mengatakan, data menyebutkan impor produk olahan telur Indonesia  sekitar 2.148 ton pada tahun 2020 atau 10 ribu ton telur. Begitu juga impor telur cair sebanyak 400 ton atau senilai 671 ribu dollar AS.  

Bahkan diprediksi impornya kecenderungan terus meningkat tiap tahun dengan meningkatkan pertumbuhan industri pangan.  Pada tahun 2020, pertumbuhan industri pangan sebesar 1,58 persen, namun pada Triwulan III 2021 tumbuh 3,49 persen. “Kita saat ini tergantung tepung telur impor, kecenderunganya memang terus meningkat,” katanya.

Supriadi mengatakan, dengan surplus produksi telur 200 ribu ton, sebenarnya menjadi peluang investasi bangun industri tepung telur. Bahkan Indonesia bisa mengekspor tepung telur.

Pertanyaanya mengapa industri tepung telur tidak tumbuh di dalam negeri? Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018