Monday, 06 December 2021


Industri Tepung Telur Harapkan Dukungan Regulasi

10 Nov 2021, 19:46 WIBEditor : Yulianto

Tepung telur, peluang baru UMKM | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Fluktuasi harga telur cenderung membuat peternak dalam negeri meradang. Kelebihan produksi justru menyebabkan harga terjun bebas. Sementara di sisi lain, Indonesia masih mengimpor tepung telur sebanyak 2.000 ton pertahun.

General Manager/GM PT. Intan Kenkomayo Indonesia (IKI) Eddy Sukianto mengatakan, permintaan olahan telur seperti telur cair beku dan tepung telur masih tinggi, tapi Indonesia masih mengimpor. Padahal produksi telur dalam negeri cukup melimpah.

Karena itu, kata Eddy, pelaku usaha siap bersinergi dengan peternak menyerap telur dalam negeri, tetapi pemerintah juga harus mendorong dengan regulasi, supaya industri olahan telur bergairah. Diharapkan Indonesia lepas dari impor produk olahan telur.

Sejak awal berdiri pada tahun 2013, Eddy mengatakan, pihaknya berupaya memenuhi pasar produk olahan telur yang terus berkembang, baik di dalam maupun di luar negeri. Di Indonesia sendiri, produk telur cair pasteurisasi sangat diminati produsen kue dan roti serta Horeka (Hotel, Restoran Kantin/Kafe), karena dapat meningkatkan efisiensi produksi dan lebih higienis.

Saat ini IKI memiliki kapasitas produksi Liquid Egg sebesar 1.200 ton/tahun, mayonnaise 2.000 ton/tahun, dan Sauce 3.000 ton/tahun. “Kami akan terus berinovasi mengembangkan produk. Kami optimis dengan dukungan regulasi dari pemerintah terkait pembatasan impor produk olahan telur. Apalagi dengan berkembangnya Horeka, industri pengolahan telur di Indonesia akan berkembang pesat,” papar Eddy Sukianto.

Sementara itu Irjen (Pol) Setyo Wasisto, Komisaris PT Widodo Makmur Perkasa (WMP) mengatakan, selama ini kelebihan telur (surplus) tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.  Karena itu, mantan Ketua Satgas Pangan ini menilai, kehadiran pabrik pengolahan telur di Indonesia mempunyai nilai strategis.

“Industri pengolahan telur sebagai upaya untuk memperpanjang masa pakai telur itu sendiri, sehingga dapat didistribusikan ke seluruh pelosok negeri secara merata,” katanya saat Webinar Pataka: Mengupas Peluang Industri Pengolahan Telur di Indonesia.

Sementara itu Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan (IMHLP, Kemenperin), Supriadi mengatakan, produksi telur mengalami surplus sekitar 200 ribu ton. Namun Indonesia masih mengimpor telur cair beku sebanyak 441 ton dengan nilai 671 ribu dollar AS dan tepung telur sekitar 2.000 ton.

Sangat tepat apabila orientasi dari surplus telur itu untuk olahan telur yang saat ini kita masih impor. Olahan tepung telur itu biasanya untuk industri biscuit, mie, mayonnaise, dan lainnya,” katanya. Produk olahan yang diimpor bentuknya ada dalam bentuk tepung telur dan telur cair beku. Impor lebih banyak dari India dan Ukraina.

Namun dengan mengolah telur menjadi tepung menurut Supriadi, akan memperpanjang masa simpan, mempermudah penggunaan serta efisiensi penyimpanan dan pengiriman. “Surplus produksi telur 200 ribu ton sebenarnya menjadi peluang investasi bangun industri tepung telur. Bahkan Indonesia bisa mengekspor tepung telur,” katanya.

 

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018