Thursday, 30 June 2022


Kukuhkan Kasira, Langkah Kongret Kementan Bebaskan Indonesia dari Rabies

10 Feb 2022, 13:57 WIBEditor : Herman

Pengukuhan KASIRA Nasional di Mataram NTB

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Berbagai upaya dilakukan Kementerian Pertanian RI (Kementan RI) untuk mengendalikan rabies di tanah air. Salah satunya dengan pengukuhan Kader Siaga Rabies (KASIRA) tahun 2022.    

Pengukuhan KASIRA nasional pada tahun 2022 telah dilaksanakan di Kota Mataran NTB, Rabu, (9/2) yang dihadiri Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kepala Dinas yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan di 20 provinsi se-Indonesia. 

Tidak sampai disitu, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) juga mengukuhkan Kader Siaga Rabies (KASIRA) di pulau Sumbawa (10/2). Hal tersebut dilakukan sebagai upaya akselerasi pembebasan Rabies berbasis partisipasi dan pemberdayaan masyarakat khususnya di Pulau Sumbawa. 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah mengatakan, keberadaan Lembaga KASIRA diharapkan mampu meningkatkan sinergitas unsur puskeswan, puskesmas, dan instansi terkait dalam meningkatkan motivasi dan komitmen kader, serta mendorong implementasi konsep One Health.

 

Harapannya, strategi pengendalian rabies dapat dilaksanakan secara efektif, sebagai bentuk dukungan menuju "Nol kematian manusia akibat rabies pada tahun 2030". 

Nasrullah menjelaskan idealnya KASIRA ada disetiap Desa dan Kecamatan.  Sejak tahun 2021, Ditjen PKH Kementan telah membentuk KASIRA di 5 Kabupaten/Kota, 5 Kecamatan dengan masing-masing Kecamatan terdiri dari 5 desa terpilih yang memiliki kasus rabies tertinggi di Pulau Sumbawa.

KASIRA merupakan lembaga non formal yang dibentuk di tiap desa dengan melibatkan peran aktif masyarakat lokal yang terdiri dari berbagai unsur yaitu: aparat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kader Posyandu dan pemburu yang memanfaatkan anjing untuk mendapatkan hewan buruannya.

“KASIRA merupakan hasil adopsi dan replikasi program pembebasan Rabies di Kabupaten Sukabumi yang telah diinisiasi oleh LPPM IPB, dan program tersebut kita modifikasi sesuai dengan kebutuhan di masing-masing daerah”, ungkap Nasrullah.

 

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Syamsul Ma’arif mengatakan, pembentukan Kasira dimulai dengan sosialisasi, yang dilanjutkan dengan pembentukan kader dan bimbingan teknis bagi para kader. 

“Sebagai bentuk apresiasi bagi para kepala daerah di Pulau Sumbawa atas terbentuknya Kasira di wilayahnya, maka pada hari ini dilaksanakan pengukuhan. Pembentukan KASIRA di 5 wilayah percontohan di Pulau Sumbawa ini dapat menjadi katalisator dikembangkannya KASIRA di wilayah lain.  Peran aktif Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Kesehatan, Perguruan Tinggi dan kader sangat mempengaruhi keberlangsungan kelembagaan ini di masyarakat.” Tambahnya.   

Syamsul Ma’arif berharap keberadaan KASIRA akan mampu mempercepat proses pelaporan kasus dan respon, meningkatkan cakupan vaksinasi anjing, memperluas penyebaran informasi, serta meningkatkan pengetahuan sikap dan praktik masyarakat dalam pemeliharaan Hewan Penular rabies (HPR) yang memenuhi kaidah kesejahteraan hewan, sehingga mensupport program pengendalian rabies.   

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), di tempat terpisah menyampaikan, Rabies bukanlah penyakit baru dalam sejarah perabadan manusia.  Namun, kasus Rabies bisa berdampak pada kematian manusia, bahkan juga berdampak terhadap perekonomian.  

Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021, secara global, beban ekonomi akibat rabies yang diperantarai anjing diperkirakan mencapai US$ 8,6 miliar per tahun.  

Menurut Mentan, keterlibatan berbagai sektor melalui kolaborasi One Health terutama penyuluhan kepada masyarakat, tentang kesadaran dan kampanye vaksinasi, tidak melepasliarkan anjing peliharaan, serta pertolongan pertama kasus gigitan sangat penting sebagai upaya mengurangi kasus terkait penyakit rabies.  

"Jika kasus gigitan anjing diduga rabies berkurang, maka kerugian ekonomi yang ditimbulkannya juga dapat ditekan. Karena itu kita akan terus berupaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit Rabies", kata Menteri SYL.  

Sementara Gubernur NTB Zulkieflimansyah menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kementerian Pertanian khususnya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang telah menjadikan Pulau Sumbawa sebagai pilot proyek pemberantasan rabies, melalui penguatan pemberdayaan masyarakat.  

"Kejadian rabies mungkin dianggap sepele bagi sebagian orang. Namun sebenarnya hal ini dapat berdampak besar bagi sektor lain jika tidak ditangani dengan baik. Misalnya event internasional yang rencana akan diselenggarakan di NTB yaitu "MotorGP" di Mandalika dan "Motorcross" di Lombok Tengah “, kata Zulkieflimansyah.

 

Untuk itu, marilah kita saling bekerja sama untuk memberantas rabies dari Bumi Nusa Tenggara Barat”, pungkasnya. 

Reporter : Eko
Sumber : Ditjen PKH
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018