Thursday, 30 June 2022


Mulai Menyebar, Siaga Penyakit Mulut dan Kuku

07 Jun 2022, 09:12 WIBEditor : Yulianto

Lokasi peternakan sapi yang terkena PMK | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pasca Hari Raya Idul Fitri, dunia peternakan Indonesia dibuat kaget. Ibarat kado pahit, beberapa daerah sentra peternakan tiba-tiba terjadi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Padahal Indonesia tercatat sejak 1986 dan mendapatkan pengakuan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia pada 1990 sebagai negara yang bebas PMK. 

Merebaknya PMK tidak bisa dianggap ringan, karena penyebarannya sangat cepat. Karena itu, perlu langkah cepat dan sinergi antara pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan stakeholder dengan meningkatkan kewaspadaan. Bahkan mempercepat recovery ternak yang teridentifikasi positif PMK. Apalagi kaum muslim dalam waktu dekat akan merayakan Hari Raya Idul Adha (Idul Kurban).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap berbagai upaya mitigasi yang dilakukan bersama pemerintah daerah dapat secara optimal menekan penyebaran PMK. “Wabah PMK itu ada dan kita lihat tren penyembuhan yang sangat positif. Hari ini semua mengatakan seperti itu. Kecepatan kita bereaksi mengambil tindakan itu menentukan hasil,” kata mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu.

Ada beberapa kunci upaya mempercepat penanganan PMK. Pertama, SYL meminta semua pihak bersikap tenang. Apalagi pemerintah sudah terjun ke lapangan untuk bekerja optimal. Kedua, perbaiki data. “Ini saatnya kita benahi dan faktualisasi data, termasuk berapa jumlah populasi, jumlah yang terkena PMK dan lainnya. Data itu yang objektif dan normatif,” ujarnya.

Ketiga, pemerintah telah membentuk gugus tugas nasional. Untuk itu, kata SYL, harus ditindaklanjuti secara serius dengan membentuk gugus tugas provinsi dan kabupaten. Dari gugus tugas akan lahir Satuan Tugas (Satgas) yang didukung Polri, TNI dan Kejaksaan untuk mendukung percepatan penanganan PMK.

“Gugus tugas ini berfungsi menyusun dan melakukan agenda aksi serta sebagai pusat informasi. Karena itu, Satgas harus siap, sehingga tidak ada informasi yang bias terkait kebenaran ternak yang terkena dan mati karena PMK,” tuturnya.

Keempat, lanjut SYL, harus dibangun empat agenda. Pertama agenda darurat, yakni lockdown yakni menutup daerah. Kedua, agenda temporeri adalah penyuntikan, penyembuhan dan lainnya. Ketiga, agenda recovery yaitu ternak yang mati diganti dan disembuhkan.

Jangan Panik

SYL pun mengakui, penyakit PMK adalah wabah yang memiliki tingkat penyebaran cepat karena prosesnya bisa menular melalui kontak langsung maupun udara. Tapi, PMK dipastikan tidak menular kepada manusia dan dagingnya masih bisa dikonsumsi asal melalui SOP yang benar.

"Karena itu kami berharap tidak ada kepanikan yang berlebihan karena Inshaa Allah ini akan kita kendalikan secara maksimal. Apalagi PMK ini tidak menular kepada manusia dan daging hewan yang terpapar masih bisa dikonsumsi asalkan dimasak sampai matang,” papar SYL.

Karena itu SYL menegaskan, koordinasi penanganan PMK terus dilakukan.  Setelah di Jawa Timur, lalu Jawa Tengah, kemudian Jawa Barat, Banten hingga Lampung dan Aceh. Kegiatan tersebut menjadi bentuk respon cepat pemerintah atas laporan penyebaran wabah PMK di beberapa daerah.

“Dengan kegiatan pencegahan penularan dan pengendalian ini, saya optimis seluruh hewan ternak dapat kembali sehat dan penyebaran penyakit dihindari. Saya juga berharap masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan karena pemerintah terus bergerak mengendalikan penyakit ini,” tuturnya.

SYL juga mengingatkan agar semua pihak tidak mengurangi kewaspadaan, meski di beberapa wilayah mulai ada penurunan genjala PMK pada ternak. Bahkan dirinya meminta semua hewan yang masuk ke pulau Jawa harus melalui pemeriksaan.

Semua mobil yang mengangkut hewan terlebih dulu dilakukan desinfeksi. Kalaupun ada hewan yang bermasalah, Kementan telah menyiapkan tempat instalasi karantina hewan,” katanya.

Pemerintah langsung bergerak cepat dengan memberikan bantuan obat, antibiotik, dan vitamin. Bahkan menurut SYL, kini jumlah hewan ternak yang suspek positif PMK mulai menurun. Bahkan diantaranya sudah kembali pulih seperti biasa. Artinya, dengan kolaborasi dan kebersamaan semua pihak, wabah PMK bisa dikendalikan

Alhamdulliah banyak ternak yang sudah sembuh, lincah kembali, sudah bisa makan dan hidungmya tidak meler lagi. Tapi saya mengingatkan agar tetap menerapkan prototap yang berlaku,” tegasnya.

Optimalkan Puskeswan

Guna mencegah penyebaran PMK, SYL juga meminta pemerintah daerah untuk mengoptimalkan fungsi Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang ada di tiap kecamatan. Pengoptimalan ini, diniali penting dilakukan untuk menekan penularan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).

"Keberadaan Puskeswan harus bisa mendeteksi penyakit hewan seperti PMK. Puskeswan kita dorong untuk berperan optimal sebagai unit terdepan dalam mempercepat proses pelayanan dan penanganan kesehatan hewan," ujar SYL.

Keberadaan Puskeswan sangat vital untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penularan kontak langsung antar hewan ke hewan atau manusia ke hewan. Selain itu, keberadaan Puskeswan selama ini mampu mendekatkan peternak dengan petugas kesehatan hewan.

"Saya yakin Puskeswan mampu memberikan pelayanan kesehatan hewan yang optimal untuk meningkatkan kualitas kesehatan hewan dan ternak, sehingga PMK ini segera dapat diatasi," katanya.

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018