Sabtu, 01 Oktober 2022


Bantu Peternak Mikro, NFA Gandeng BUMN Pangan Lakukan Serapan Live Bird

03 Sep 2022, 10:30 WIBEditor : Herman

NFA Bersama BUMN Pangan Serap Live Bird Milik Koperasi Wira Sakti Utama | Sumber Foto:Doc. Koperasi WSU

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Harga live bird ayam ras yang jatuh di bawah acuan harga Pemerintah membuat resah para peternak mikro. Karena itu, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) bersama BUMN pangan mengambil langkah penyerapan live bird peternak mikro di beberapa daerah.

Harga live bird dipasaran yang saat ini berada di kisaran Rp 17 ribu – Rp 18 ribu mengancam keberlangsungan para peternak mikro yang berada di berbagai daerah. Harga tersebut berada dibawah harga acuan Pemerintah yaitu Rp 21 ribu - Rp 23 ribu.

“Karena itu kami dari Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) mengajak BUMN pangan seperti PT. Berdikari, PT. PPI, Perum Bulog dan lainnya untuk Bersama membantu menyerap live bird atau ayam peternak yang harganya jatuh dari harga acuan pemerintah, yang sedang kita persipakan regulasinya yang idelanya itu Rp 21 ribu hingga Rp 23 ribu,” ungkap Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan NFA, Maino Dwi Hartono, S.TP., M.P.  

Langkah awal dilakukan penyerapan live bird milik Koperasi Wira Sakti Utama (WSU) yang berada di Kandang Ebed, Kp. Kuta Lebak, Ds. Kuta Jaya, Cicurug, Sukabumi. Pada penyerapan tersebut, NFA mengajak PT. PPI untuk menyerap sekitar 3 ton live bird.

“ Penyerapa ke dua masih milik Koperasi WSU kita lakukan bersama PT. Berdikari sekitar 7 ton live bird,” tambahnya.

Diungkapkan Maino, kegiatan penyerapan ayam petani kecil mikro akan terus dilakukan, dan rencananya penyerapan juga akan dilakukan kepada peternak mikro yang berada di tasik dan Ciamis.

“Kita akan bergerak ke daerah Priangan Timur yaitu daerah tasik dan Ciamis, karena menurut teman-teman Binsar disana banyak peternak kecil yang hanya memiliki kapasitas produksi 3000-5000 ekor,” jelasnya.

Dengan adanya penyerapan live bird milik peternak kecil mikro diharapkan peternak akan mendapatkan harga yang layak, wajar dan menguntungkan dalam usaha peternakan mereka.

“Tentu kalau mereka merugi mereka tidak semangat lagi untuk memproduksi ayam,” ungkapnya.

Selain itu Maino menambahkan, kegiatan penyerapan dilakukan untuk menjaga keseimbangan pasar ayam dan juga ia berharap agar perusahaan besar yang memiliki peternak binaan juga bisa menyerap ayam milik petani mandiri.

Sementara itu, Ketua Koperasi Wira Sakti Utama (WSU), Sugeng Wahyudi mengaku kegiatan penyerapan yang dilakukan Bapanas dan BUMN Pangan adalah hal yang sangat dinanti para peternak kecil.

Hal tersebut terjadi karena harga pasar ayam hidup (live bird) saat ini berada dibawah biaya pokok produksi peternak ayam yaitu sekitar Rp 21 ribu.

“Harga ayam hidup saat ini di kendang di kisara Rp 17 ribu- Rp 18 ribu, dengan harga tersebut peternak merugi. Namun dengan adanya kegiatan serapan ini makan akan mengurangi kerugian peternak,” tambahnya.

Sugeng berharap kegiatan penyerapan bisa dilakukan berkelanjuta, agar para peternak mikro bisa terus berproduksi.  

Reporter : Dede
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018