Rabu, 28 September 2022


Safe From Farm to Table : Ayam Sehat Dimulai dari Kandang Sampai Dikonsumsi

15 Sep 2022, 11:03 WIBEditor : Gesha

Aspek keamanan pangan mulai dari kandang hingga dikonsumsi manusia | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Sebagai bahan pangan hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH), ayam tentunya harus melalui tahapan budidaya ternak. Bahkan kesehatan hewan unggas ini dijaga sejak mulai dari kandang dengan berbagai perlakuan hingga sampai ke tingkat konsumen.

Medik Veteriner Muda dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Imas Yuyun M.Sc dalam Webinar Bimtek "Ayam Sehat Dimulai dari Kandang" yang digelar Tabloid Sinar Tani mengatakan konsumsi daging ayam baik ayam ras (ayam broiler) maupun ayam kampung memiliki porsi lebih besar daripada jenis protein hewani lainnya seperti Sapi, Babi dan Domba. 

"Dari data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan di pertengahan Juli 2022, konsumsi daging ayam ras mencapai 11,46 kg/kapita/tahun. Sedangkan FAO mencatat konsumsi ayam mencapai 8,1 kg/kapita/tahun pada tahun 2021. Sehingga konsumsinya lebih besar daripada daging hewani lainnya," bebernya.

Meskipun banyak dikonsumsi, nyatanya Ayam dikategorikan sebagai makanan yang berpotensi berbahaya (potentially hazardous food) jika tidak bisa ditangani dengan baik . Agar ayam berkualitas, aman, dan layak konsumsi, maka perlu penanganan yang aman dan benar ayam dari peternakan sampai dikonsumsi. Konsep tersebut dikenal dengan konsep “safe from farm to table” dimana konsep ini mempraktikkan keamanan pangan mulai dari produksi (peternakan) hingga produk tersebut siap dikonsumsi.

"Karena itu perlu adanya pengaturan dari pra produksi yang berkaitan dengan bibit (perlu penerapan Good Breeding Practices/GBP) termasuk di dalamnya kompartemen bebas Avian Influenza (AI/Flu Burung). Kemudian penggunaan pakan yang harus melalui Good Manufacturing Practices/GMP. Dalam penggunaan obat-obatan dan vaksin, juga menggunakan obat hewan yang sudah menerapkan Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB)," jelasnya.

Sedangkan dalam proses produksi/ternak ayam juga sebaiknya menganut Good Farming Practices (GFP). Good farming practices sendiri adalah tatalaksana peternakan yang meliputi segala aktivitas teknis dan higinis dalam hal pemeliharaan sehari-hari, cara dan sistem pemberian pakan, sanitasi, serta pencegahan dan pengobatan penyakit.

"Kemudian setelah pascapanen, ayam akan diangkut ke tempat penampungan, dibawa ke pasar unggas maupun penjualan daging/karkas ayam. Ditjen PKH mengaturnya dalam bentuk Sertifikat Nomor Keterangan Veteriner (NKV)," tambahnya. Untuk diketahui, Sertifikat NKV adalah sertifikat sebagai bukti tertulis yang sah, telah dipenuhinya persyaratan higiene dan sanitasi sebagai jaminan keamanan produk hewan pada unit usaha produk. NKV ini juga sebagai upaya pemerintah memberikan jaminan keamanan dan kualitas untuk produk pangan asal ternak yang dikonsumsi masyarakat.

Melengkapi proses rantai pangan hewani ini hingga ke konsumen akhir, aspek pengangkutan unggas juga sebaiknya mengacu pada Good Distribution Practices (GDP) untuk pengangkutan hewan unggas mulai dari saat panen bibit/DOC ke kandang peternakan, pengangkutan dari kandang peternakan ke pasar, bahkan pengangkutan ke konsumen akhir.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018