Sabtu, 01 Oktober 2022


Konsumsi Ayam dan Telur Masih Rendah Gegara Kampanye Negatif

23 Sep 2022, 05:07 WIBEditor : Gesha

Makan ayam | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kalangan peternak menyayangkan masih banyaknya stigma negatif beredar di masyarakat terhadap daging ayam dan telur menjadi penyebab masih rendahnya konsumsi kedua bahan pangan kaya protein hewani tersebut di dalam negeri.

“Stigma negatif itu bahkan masih melekat di kalangan masyarakat berpendidikan tinggi. Karena itu edukasi menyangkut pentingnya mengkonsumsi daging ayam dan terus harus terus menerus digalakkan,” tegas Ketua umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia,Singgih Januratmoko, saat menjadi narasumber di acara Seminar Nasional Ayam dan Telur 2022,di Universitas Andalas, Kamis (22/09).

Seminar nasional tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan memperingati Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) tahun 2022 yang puncak peringatannya dipusatkan di Bukittinggi Sumatera Barat tanggal 16 Oktober mendatang. Seminar dibuka Wakil Gubernur Sumatera Barat ,Audy Joinaldy dihadiri antara lain Wakil Rektor III Universitas Andalas,Insannul Kamil dan Dekan Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Adrizal.

Singgih mengemukakan bahwa usaha bisnis terkait perunggasan di Indonesia saat ini sudah demikian berkembang , namun kondisi ini belum diimbangi dengan peningkatan dari sisi demandnya. Konsumsi komoditas daging ayam dan telur sebagai hasil utama dari usaha perunggasan di tanah air masih tergolong rendah.

“Bahkan jauh lebih rendah dari konsumsi rokok yang menurut data mencapai 1.700 batang per kapita per tahun , sementara konsumsi telur ayam kita masih 130 butir per kapita per tahun,” jelas anggota DPR-RI itu.

Sebagaimana telur, konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia , juga tergolong rendah yakni hanya sekitar 12 kg per kapita per tahun masih jauh dari konsumsi masyarakat malaysia yang mencapai 34 kg perkapita per tahun.

Memperhatikan fakta demikian Singgih yang didampingi Ketua Panitia peringatan HATN , Ricky Bangsaratoe , menilai pentingnya dilakukan kegiatan kampanye gizi dan edukasi yang berkelanjutan dari generasi ke generasi sehingga pada akhirnya konsumsi daging ayam dan telur masyarakat Indonesia semakin meningkat.

Hari Ayam dan Telur yang diperingati setiap tanggal 15 Oktober dipandangnya sebagai momentum tepat untuk mengingatkan segenap pemangku kepentingan (stakeholder) perunggasan agar terus melakukan edukasi tentang pentingnya mengkonsumsi daging ayam dan telur sekaligus melawan stigma negatif terhadap kedua komoditas kaya gizi tersebut.

Resistensi Antimikroba

Disamping pentingnya upaya mendorong peningkatan konsumsi daging ayam dan telur, di acara seminar nasional juga disoroti cukup tajam mengenai perlunya pengendalian kejadian resistensi antimikroba termasuk didalamnya resistensi antibiotika.

Gunawan Utomo, dari FAO perwakilan Indonesia mengatakan, di dalam sistem pangan resistensi antimikroba harus mendapat perhatian khusus mengingat 73 persen antimikroba global digunakan oleh hewan penghasil pangan.

 Resistensi antimikroba (AMR) adalah keadaan dimana mikroorganisme (baktei,virus,jamur dan parasit) mampu untuk bertahan pada dosis terapi senyawa antimikroba. Sehingga mikroorganisme tersebut masih mampu berkembang dan mengurangi keampuhan obat. “AMR merupakan ancaman kesehatan global yang serius dan masalah keamanan pangan yang menjadi perhatian utama dunia,” tandasnya.

Upaya memerangi AMR, menurut Gunawan, harus didekati secara multidisiplin . Ini berarti menangani kesehatan hewan, tumbuhan dan manusia serta lingkungan melalui apa yang disebut pendekatan “One Health”.

Pemerintah Indonesia sendiri sejauh ini telah menerapkan pendekatan One Health guna dapat bebas dari dampak resistensi antimikroba. Melalui Peraturan Menko PMK No.7 tahun 2021 telah dirancang rencana aksi nasional (National Action Plan /NAP )AMR tahun 2020-2024. Berbagai langkah telah dilakukan antara lain dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pengendalian resistensi antimikroba ( melalui komunikasi efektif, pendidikan dan pelatihan), membangun sistem surveillans dan monitoring serta menggiatkan upaya pencegahan dan pengendalian infeksi.

Dalam upaya mengajak masyarakat menggunakan antimikroba secara bijak dan bertanggung jawab pemerintah telah membuat aturan dengan menerbitkan Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik pada Hewan serta Pedoman Penggunaan Antimikroba di Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Reporter : IKA RAHAYU
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018