
Pengolahan sagu
TABLOIDSINARTANI.COM, Manokwari --- Tim Dosen dari Polbangtan Manokwari tengah melakukan penelitian dalam upaya meningkatkan kualitas dari ampas sagu dengan menggunakan berbagai mikroba.
Masyarakat Papua banyak memanfaatkan tanaman sagu untuk diambil patinya. Potensi tanaman sagu sebagai penghasil pati dapat mencapai 200 hingga 220 kg per-pohon. Sayangnya, rasio antara tepung dengan ampas sagu yang dihasilkan yakni 1:6. Sehingga banyak ampas Sagu yang belum termanfaatkan dengan baik.
Umumnya, ampas Sagu diberikan kepada ternak sebagai pakan harian. Tetapi, rendahnya kadar nutrisi ampas sagu menjadi faktor pembatas. Inilah yang kemudian menjadi alasan tim dosen di Polbangtan Manokwari untuk berupaya menemukan formulasi yang tepat agar ampas Sagu bisa termanfaatkan sebagai pakan ternak dengan nutrisi tinggi.
Dari beberapa penelitian, penggunaan ampas sagu terfermentasi dapat meningkatkan pertambahan bobot badan pada hewan ternak dan mencegah penimbunan kolesterol pada darah ternak. Sehingga Pemanfaatan silase ampas sagu dapat dipergunakan sebagai campuran pakan komplit. Ampas sagu yang difermentasi dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber serat yang berpeluang untuk digunakan sebagai bahan pakan alternatif untuk menggantikan rumput.
Dalam penelitian tim Dosen Polbangtan Manokwari menggunakan mikroba yang dipasarkan bebas dan mikroba yang berasal dari Gunung Meja, Manokwari, Papua Barat.
Hasilnya, dengan mikroba Pennicillum sp dosis 9 persen dan lama fermentasi 10 hari, ternyata mampu meningkatkan Protein Kasar (PK) dari 3,29 persen menjadi 14,08 persen serta menurunkan Serat Kasar (SK) dari 18,5 persen menjadi 13,76 persen. Begitu pula Aspergillus niger yang nyatanya mampu menurunkan kadar SK dalam waktu 144 jam atau 6 hari saja.
Sehingga semakin lama waktu fermentasi yang diberikan ada kecenderungan penurunan serat kasar.Hal ini erat kaitannya dengan pertumbuhan kapang. Semakin lama waktu yang diberikan semakin banyak kapang tumbuh semakin banyak pula serat kasar yang dirombak. Peningkatan kadar serat kasar juga dipengaruhi oleh pertumbuhan mikroorganisme selama proses fermentasi, berkembangnya misellum jamur dan hilangnya beberapa zat padat.
Penelitian ini juga membandingkan fermentasi menggunakan campuran mikroorganisme dengan merek dagang EM4. Diperoleh hasil uji kadar BK perlakuan EM4 ini menghasilkan 90,35?n terendah 84,77%. Di sisi lain, Ampas sagu tanpa perlakuan menghasilkan bahan organik yang lebih tinggi.
Dari hasil penelitian,fermentasi ampas sagu dengan penambahan dedak, dan gula mampu meningkatakan kadar protein kasar 7,96% namun masih memiliki kadar serat kasar yang tinggi sebesar 18,6%.