Kamis, 09 Februari 2023


Refleksi 2022, Tahun Kelabu Peternak Sapi

30 Des 2022, 01:41 WIBEditor : Yulianto

Wabah PMK di pertengahan tahun 2022 menjadi awan kelabu peternak sapi di tanah air | Sumber Foto:dok. sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dunia peternakan Tanah Air pada tahun 2022 mendapat ujian besar. Pasca Hari Raya Idul Fitri, masyarakat peternakan Indonesia dibuat kaget. Ibarat kado pahit, beberapa daerah sentra peternakan tiba-tiba terjadi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Padahal Indonesia tercatat sejak 1986 dan mendapatkan pengakuan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia pada 1990 sebagai negara yang bebas PMK. Merebaknya PMK tidak bisa dianggap ringan, karena penyebarannya sangat cepat.

Berbagai upaya pun dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan peternak sapi dan kerbau di dalam negeri. Apalagi saat itu kaum muslim dalam waktu dekat juga akan merayakan Hari Raya Idul Adha (Idul Kurban).

Selain membentuk gugus tugas nasional dan Satuan Tugas (Satgas) PMK yang didukung Polri, TNI dan Kejaksaan, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatann Hewan menyusun empat agenda. Pertama agenda darurat, yakni lockdown yakni menutup daerah. Kedua, agenda temporeri adalah penyuntikan, penyembuhan dan lainnya. Ketiga, agenda recovery yaitu ternak yang mati diganti dan disembuhkan.

Sementara Badan Karantina Pertanian, merekayasa lalulintas hewan rawan PMK (HRP). Untuk hewan potong dan hewan kurban dari daerah bebas dapat melintas area tidak bebas dengan memenuhi semua persyaratan administrasi dan teknis yang telah ditetapkan.

Sedangkan untuk HRP seperti sapi, kerbau, kambing, domba, babi dan hewan kuku belah lainnya untuk bibit/betina produktif/bakalan dan siap potong dari area tidak bebas PMK dilarang dilalulintaskan. Bahkan larangan tersebut bersifat mutlak. Seluruh HRP dari area tersebut wajib 'lockdown' dilarang untuk dilalulintaskan.

Kekhawatiran dunia peternakan memang wajar. Sebab, PMK memiliki tingkat penyebaran cepat. Prosesnya bisa menular melalui kontak langsung maupun udara. Kondisi itu membuat banyak peternak panik. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya menjual ternak mereka dengan harga murah.

Ketua Umum Perhimpunan Peternak sapi Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Nanang S. Subendro saat meledaknya kasus PMK mengungkapkan, sejak dinyatakan wabah di 4 kabupaten di Jawa Timur dan 1 kabupaten di Aceh (SK Mentan No. 403 dan 404 tanggal 9 Mei 2022 ), ternyata per 21 Mei 2022 penyebaran PMK sudah mencapai 82 kabupaten/kota di 16 provinsi. Diperkirakan jumlah ternak terdampak 5,4 juta ekor dan 20,7 ribu ekor ternak sakit.

Bukan hanya pada ternak potong, Nanang juga mengkhawatirkan serangan PMK pada ternak sapi perah. Pasalnya, berakibat turunnya produksi susu secara drastis, hingga mencapai 80 persen. Artinya, berakibat hilangnya pendapatan harian peternak sapi perah.

Ancaman Global

PMK menjadi salah satu penyakit menular pada hewan yang dapat menjadi ancaman global. Hingga kini lebih dari 100 negara dengan 77 persen populasi ternak dunia masih tertular penyakit tersebut. Penyakit ini juga berdampak bukan hanya masalah ekonomi, tapi juga sosial, bahkan lingkungan karena kerugian yang ditimbulkan cukup besar. Contohnya kasus PMK di Inggris yang terjadi tahun 2001 menyebabkan sektor di Negeri Elizabeth mencapai Rp 53,6 trilliun.

Komisi Ahli Kesehatan Hewan Indonesia, Tri Satya Putri Naipospos mengatakan, menduga kasus masuknya PMK di Indonesia memiliki keterkaitan di beberapa negara di Asia Tenggara. Sebab, virus ini ditemukan pertama kali di Kamboja, sebelum masuk ke beberapa negara. “Peningkatan kasus di Kawasan Asia Tenggara sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kemungkinan masuknya PMK di Indonesia,” katanya.

Mantan Direktur Kesehatan Hewan tersebut merinvi beberapa permasalahan dalam pengendalian PMK.  Diantaranya, lalu lintas ilegal ternak antarwilayah dan negara. Selain itu, rendahnya implementasi biosekuriti pada peternak rakyat, kurangnya SDM dan dukungan logistik.

Bagi bangsa Indonesia wabah PMK yang merebak pada Mei 2022 lalu sebagai pelajaran. Apalagi dunia peternak dalam negeri pernah mempunyai pengalaman buruk saat kasus PMK menyebar di Kabupaten Blora dan Cepu pada tahun 1990.

Pertama kali PMK masuk ke Indonesia sekitar tahun 1887 di Malang yang berasal dari Eropa, khususnya Inggris. Saat masa penjajahan, Pemerintah Belanda mengimpor sapi perah dari Inggris. Meski ada pendapat lain, yang Pemerintah Belanda impor adalah sapi perah. Kemudian pada Tahun 1890 terjadi kasus PMK pertama kali di Indonesia. Ternyata virus PMK terus berkembang hingga terakhir pada tahun 1990.

“Artinya hampir 100 tahun lebih virus PMK berkembang dan baru bisa tangani,” kata ahli Epidemologi yang juga mantan Dirjen Peternakan, Sofyan Sudardjat. Karena itu Sofyan memprediksi kasus PMK saat ini pun berasal dari virus dari luar. Apalagi virus PMK mudah menyebar lewat udara hingga 100 KM. Dengan masa pancoroba dan cuaca lembab, virus makin cepat berkembang.

Dampak dari PMK, paling parah akan dirasakan pada ternak sapi perah, kemudian sapi pootng, kerbau, babi dan kambing. Untuk sapi perah diperkirakan kemungkinan terkena 30 persen dan menyebabkan produksi susu turun. Sapi potong bisa 20 persen untuk sapi dewasa dan 50 pesren sapi bakalan.

Sebagai ahli epidemologi, Sofyan mengingatkan agar jangan menganggap ringan PMK. “Yang menganggap ringan mungkin karena tidak mengerti,” tegasnya. Wabah PMK yang terjadi pertengahan tahun menjadi pelajaran berharga. Bahkan bisa mengganggu upaya pemerintah mengagai swasembada daging. 

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018