Jumat, 12 Desember 2025


Waspadai Kontaminasi dan Penyakit Parasit di Daging Kurban, Ini Kata Ahli

01 Jun 2025, 09:07 WIBEditor : Gesha

Waspadai kontaminasi bakteri dan penyakit parasit pada daging kurban! Ahli kesehatan hewan ungkap risiko tersembunyi dan cara aman mengolah daging agar tetap sehat dan layak konsumsi.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Waspadai kontaminasi bakteri dan penyakit parasit pada daging kurban! Ahli kesehatan hewan ungkap risiko tersembunyi dan cara aman mengolah daging agar tetap sehat dan layak konsumsi.

Menjelang Hari Raya Iduladha, jutaan umat Muslim di Indonesia bersiap melaksanakan ibadah kurban. Namun, di balik semangat berbagi dan syukur, para pakar mengingatkan masyarakat akan risiko tersembunyi dalam daging sembelihan kurban yaitu kontaminasi mikroba dan penyakit parasit.

Menurut, drh Supratikno, MSi, PAVet dari IPB University, aging kurban bisa terkontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), hingga Listeria monocytogenes, jika tidak ditangani dengan higienis sejak penyembelihan hingga distribusi.

“Proses penyembelihan yang tidak sesuai standar, peralatan yang kotor, serta penyimpanan daging di suhu ruang terlalu lama dapat meningkatkan risiko kontaminasi,” ujarnya. 

Pakar veteriner yang juga pemerhati keamanan pangan dari hewan kurban ini menuturkan proses penyembelihan dan penanganan daging sangat menentukan kualitas akhir yang akan dikonsumsi masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa kontaminasi pada daging kerap bermula dari hal-hal sederhana yang sering diabaikan.

Mulai dari pisau yang digunakan untuk menyembelih hewan, bila tidak dibersihkan dengan baik setelah digunakan berkali-kali, bisa menjadi sarang bakteri.

Begitu pula permukaan meja pemotongan yang masih basah oleh darah dan kotoran dari hewan sebelumnya. 

Kontaminasi bisa semakin parah jika daging ditempatkan dalam wadah plastik atau karung yang tidak steril.

Bahkan tangan penyembelih atau pemotong yang tidak memakai sarung tangan, atau tak mencuci tangan dengan bersih, bisa menyumbangkan bakteri berbahaya pada daging.

“Bakteri bisa berkembang sangat cepat di suhu ruang. Dalam dua jam saja, jumlah bakteri bisa meningkat seribu kali lipat jika daging dibiarkan terbuka,” ungkap drh. Supratikno.

Ia menegaskan pentingnya menjaga suhu daging tetap rendah usai penyembelihan. Idealnya, daging segera disimpan di tempat bersuhu dingin, di bawah 5 derajat Celsius.

Namun jika tidak memungkinkan, maka pembagian daging harus dilakukan secepat mungkin, tidak lebih dari empat jam setelah proses penyembelihan.

“Semakin lama daging dibiarkan di suhu ruang, semakin tinggi potensi cemarannya. Bukan cuma soal bau atau kesegaran, tapi bisa menimbulkan penyakit jika dikonsumsi,” katanya.

Parasit Mengintai

Tak cuma soal kontaminasi, masyarakat juga perlu aware dengan penyakit parasit yang mungkin tersembunyi dalam daging sembelihan.

Dr. Ridi Arif, ahli parasitologi Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Institut Pertanian Bogor menjelaskan, menjelaskan bahwa parasit seperti Cysticercus bovis, Toxoplasma gondii, dan Sarcocystis spp bisa ditemukan pada jaringan otot ternak yang terinfeksi.

“Parasit ini tidak selalu kelihatan secara kasat mata. Tapi jika ternak terinfeksi, maka konsumsi dagingnya dalam keadaan mentah atau setengah matang bisa sangat berisiko,” katanya.

Sebagai contoh, Cysticercus bovis adalah larva dari Taenia saginata, cacing pita sapi yang bisa berpindah ke manusia jika daging dimakan dalam kondisi kurang matang.

Akibatnya? Bisa muncul gejala seperti gangguan pencernaan, mual, bahkan cacing keluar dari anus. 

Salah satu tanda visual adanya parasit adalah daging yang memiliki bintik-bintik putih kecil atau hati yang tampak berlubang-lubang dan berubah warna menjadi kehijauan.

“Jika hati sapi atau kambing terlihat tidak normal, jangan ragu untuk memisahkannya. Lebih baik dibuang daripada berisiko menularkan penyakit,” tegasnya. 

Salah satu solusi ideal adalah dengan pemeriksaan post-mortem, yaitu pemeriksaan organ dalam hewan setelah disembelih. Namun praktik ini belum menjadi kebiasaan umum di banyak tempat penyembelihan kurban.

“Masih banyak panitia kurban yang belum melibatkan petugas kesehatan hewan secara penuh, terutama di daerah,” tuturnya.

 “Padahal, pemeriksaan hati, jantung, dan paru-paru sangat penting untuk mendeteksi apakah hewan membawa penyakit menular atau parasit, " tambahnya. 

Ia mengimbau agar panitia kurban melibatkan petugas berwenang dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan setempat untuk memastikan prosedur ante dan post-mortem dilakukan sesuai standar.

Tips Aman

Berikut ini saran dari para ahli agar daging kurban tetap aman dan sehat dikonsumsi:

1. Pastikan hewan kurban sehat: Tidak demam, tidak kurus ekstrem, dan memiliki napas serta gerakan normal.

2. Gunakan peralatan bersih dan tajam: Pisau, talenan, dan wadah harus dicuci sebelum dan sesudah digunakan.

3. Pisahkan bagian organ dalam dan daging: Untuk menghindari kontaminasi silang.

4. Jangan mencuci daging dengan air mentah: Air bisa menyebarkan bakteri ke seluruh permukaan daging.

5. Simpan dalam suhu dingin secepatnya: Idealnya di bawah 5°C atau dalam freezer jika belum akan dimasak.

6. Masak hingga matang sempurna: Suhu internal daging minimal 75°C untuk membunuh parasit dan bakteri.

Panitia kurban diimbau bekerja sama dengan dinas peternakan atau dokter hewan setempat untuk pemeriksaan ante mortem (sebelum disembelih) dan post mortem (setelah disembelih) agar hanya daging sehat yang dibagikan. 

Edukasi masyarakat juga penting agar tidak sembarangan mengolah dan menyimpan daging. Sebab, meski sudah sembelih syar’i, kalau tidak disimpan dan dimasak dengan baik, tetap bisa jadi penyebab penyakit.

“Kurban adalah ibadah, tapi tanggung jawab menjaga keamanan pangan juga bagian dari ibadah sosial kita,” pungkasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018