Thursday, 12 February 2026


Aman Saat Kurban

04 Jun 2025, 21:37 WIBEditor : Yulianto

Kambing dan Sapi dengan Pelangi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Umat Islam akan menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 H.  Pemotongan Hewan Kurban menjadi bagian paling sakral dalam pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan setiap 10 Dzulhijjah hingga hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah). Bukan sekadar menyembelih, penting bagi umat Islam memahami tata cara pemotongan hewan kurban yang benar menurut syariat dan prosedur teknis pelaksanaannya.

Bagi kaum muslimin, pemotongan hewan kurban saat Hari Raya Idul Adha bukanlah sekadar rutinitas tahunan, melainkan ibadah yang memiliki makna spiritual dan sosial yang sangat dalam. Kaum muslim belajar tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Daging kurban yang dibagikan menjadi bentuk nyata solidaritas sosial, terutama kepada kaum fakir miskin dan dhuafa. Karena itu, pemahaman akan prosedur dan tata cara kurban menjadi sangat penting.

Kementerian Pertanian sendiri telah menetapkan syarat yang wajib dipenuhi pelaksana kurban. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 114 Tahun 2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban, pemerintah menetapkan bahwa pemotongan hewan kurban dilakukan di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R) dengan memperhatikan kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan. 

Jika daerah belum memiliki RPH-R atau kapasitasnya tidak mencukupi, pemotongan boleh dilakukan di luar RPH-R.  Namun harus memenuhi persyaratan administrasi dan teknis, serta  wajib berada di bawah pengawasan dokter hewan. Proses penyembelihan dan penanganan daging sangat menentukan kualitas akhir yang akan dikonsumsi masyarakat. 

Kepala Halal Science Center (HSC) IPB University, Prof Khaswar Syamsu mengingatkan,  pentingnya edukasi penyembelihan hewan kurban yang sesuai dengan syariat sekaligus memperhatikan aspek kesejahteraan hewan dan kelestarian lingkungan. Sebab, katanya, Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga hubungan antarsesama manusia, hewan, dan alam. 

“Kita sering melihat di media sosial bagaimana proses penyembelihan dilakukan tanpa memperhatikan adab terhadap hewan, seperti mengasah pisau di depan hewan. Ini menimbulkan stres pada hewan dan bertentangan dengan prinsip Islam,” kata Prof Khaswar. 

Saat pelatihan Penanganan dan Penyembelihan Hewan Kurban bagi Masyarakat Umum dan Pengurus DKM di IPB Gunung Gede, Kamis (29/5), Prof. Khaswar juga mengingatkan kepada masyarakat agar menggunakan wadah ramah lingkungan seperti besek, daun pisang, atau kertas daur ulang, untuk menggantikan plastik sekali pakai. 

Sementara itu, KH Abdul Muiz Ali, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat juga mengingatkan, pentingnya memahami aspek fikih dan teknis dalam penyembelihan agar kurban sah secara syariat dan sesuai standar halal. Karena itu, salah satu poin penting adalah bagaimana mengedukasi masyarakat tentang cara penyembelihan yang sesuai dengan syariat Islam. 

Menurutnya, ada empat saluran yang harus terputus dalam proses penyembelihan yakni,  saluran napas (hulqum), saluran makanan (mari’), dan dua pembuluh darah (wadajain). “Semakin sempurna pemotongan, semakin maksimal darah keluar; maka kualitas daging pun lebih baik,” kata Muiz Ali. 

Sementara itu, Dr drh Supratikno, PAVet, dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) dan peneliti HSC IPB University juga mengingatkan, proses penyembelihan dan penanganan daging sangat menentukan kualitas akhir yang akan dikonsumsi masyarakat. 

“Kontaminasi pada daging kerap bermula dari hal-hal sederhana yang sering diabaikan. Mulai dari pisau yang digunakan untuk menyembelih hewan, bila tidak dibersihkan dengan baik setelah digunakan berkali-kali, bisa menjadi sarang bakteri,” ujarnya. 

Menurut Supratikno, daging kurban bisa terkontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), hingga Listeria monocytogenes, jika tidak ditangani dengan higienis sejak penyembelihan hingga distribusi. “Proses penyembelihan yang tidak sesuai standar, peralatan yang kotor, serta penyimpanan daging di suhu ruang terlalu lama dapat meningkatkan risiko kontaminasi,” katanya. 

Pilih Hewan, Perhatikan Hal Ini 

Bagi masyarakat yang ingin berkurban, pilihan hewan juga perlu mendapat perhatian. Agar pemotongan hewan kurban sah menurut syariat, terdapat sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi. Dari sisi hewan kurban, syaratnya harus merupakan hewan ternak yaitu unta, sapi, kambing, atau domba. 

Usia hewan pun menjadi syarat sah. Untuk  kambing minimal berumur 1 tahun, domba 6 bulan (jika sudah cukup gemuk), dan sapi 2 tahun. Kesehatan hewan juga sangat penting. Hewan tidak boleh cacat seperti buta, pincang parah, sakit, atau sangat kurus. 

Selain aspek syariat, Edit Lesa Aditya, SPt, MScAgr, dosen Fakultas Peternakan IPB University juga mengingatkan dalam pemilihan ternak. Ia menekankan pentingnya memilih hewan berdasarkan kondisi tubuh dan skor kondisi tubuh (Body Condition Score/BCS), bukan hanya ukuran atau tren jenis tertentu. 

“Jangan sampai karena ikut tren, kita membeli hewan yang hasil dagingnya justru lebih sedikit. Banyak orang tidak membeli sapi lokal seperti sapi Bali karena badannya kecil. Padahal kalau dari komposisi tubuh, sapi Bali bisa menghasilkan persentase daging lebih tinggi meski berukuran kecil,” tuturnya. 

Kesehatan hewan selama Hari Raya Idul Adha juga menjadi isu yang perlu diperhatikan. Salah satunya terkait praktik sapi gelonggongan atau sapi yang sengaja diberi minum secara berlebihan untuk menambah bobot tubuh sebelum dijual. Praktik ini tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga membahayakan kesehatan hewan itu sendiri. 

Dr drh Denny Widaya Lukman, dosen IPB University dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) menilai, praktik gelonggongan sangat menyiksa hewan dan bertentangan dengan prinsip kesejahteraan hewan serta syariat penyembelihan dalam Islam. “Cara seperti ini sangat menyiksa sapi sebelum disembelih. Hal itu tidak mencerminkan prinsip ihsan terhadap hewan dan tidak memenuhi kaidah kesejahteraan hewan,” ujarnya. 

“Secara umum, daging hewan hasil gelonggongan biasanya terlihat basah di permukaan dan jika digantung dapat meneteskan sedikit air, meski sulit dikenali secara kasat mata. Terlebih jika daging sudah dalam bentuk beku,” tuturnya. Bagi kaum muslimin yang akan berkurban, penting untuk memperhatikan semua aspek dalam pemotongan hewan kurban.

 

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018