Saturday, 17 October 2026


Produksi Telur Surplus, Tak Ada Alasan Harga Naik

19 Nov 2025, 19:46 WIBEditor : Yulianto

Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilisasi Harga Telur Ayam Ras di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu(19/11).

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Peternak menegaskan bahwa tidak ada kenaikan harga di tingkat peternak. Harga telur ditingkat peternak saat ini tetap stabil di angka Rp24.000 – Rp26.500 per kilogram, sesuai harga acuan pemerintah. Bahkan produksi nasional berada dalam kondisi surplus sehingga tidak ada alasan pasokan menjadi penyebab kenaikan di pasar.

Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, menyampaikan bahwa seluruh peternak ayam petelur di Indonesia masih menjual telur pada harga stabil dan berada di bawah batas acuan.

“Saat ini kami menjual dalam koridor Kisman Rp24.000–Rp26.500. Tidak pernah naik. Jadi kalau harga di pasar melonjak, ya pertanyaannya, siapa yang bermain?,” kata Yudianto usai menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilisasi Harga Telur Ayam Ras di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu(19/11).

Yudianto menambahkan bahwa stabilnya harga telur tidak terlepas dari perhatian dan kebijakan pemerintah. Bantuan SPHP jagung sejak Oktober disebut sangat membantu peternak menekan biaya pakan komponen terbesar dalam produksi telur.

“Pak Menteri hadir ketika kami kesulitan. SPHP jagung sangat membantu dan kami berharap berlanjut untuk menjaga stabilitas di Desember dan Januari,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yudianto mengatakan bahwa produksi telur nasional berada pada kisaran 6,4 hingga 6,5 juta ton dan produksi ini masih surplus.

Untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), peternak diminta meningkatkan produksi hingga 700 ribu ton secara bertahap dan mereka siap memenuhinya.

“Produksi aman, surplus ada. Tidak ada kekhawatiran pasokan. Kami siap mendukung program nasional,” kata Yudianto.

Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, Yesi memperkuat pernyataan Pinsar. Menurutnya, lonjakan harga di pasar jauh berbeda dengan harga di peternak, dan itu terjadi bukan karena peternak.

Harga telur di tingkat peternak Blitar juga berada di kisaran harga Rp24.000 – Rp26.500. Tapi di pasar bisa menyentuh Rp35.000.

“Kami tidak pernah menjual di harga tinggi. Jadi kalau di pasar sampai Rp35.000, itu bukan dari kami. Ada middleman yang memainkan. Kami juga tidak punya kedaulatan menaikkan harga, kami patuh dengan pemerintah,” kata Yesi.

Yesi mengatakan bahwa hingga saat ini lebih dari 95 persen telur peternak masih didistribusikan melalui middlema. Akibatnya peternak berada di posisi pasrah mengikuti harga yang ditentukan rantai perantara.

“Kami selalu dituduh penyumbang inflasi. Padahal harga di kandang rendah. Yang harus diawasi itu middleman. Margin mereka kadang tidak wajar, itu yang bikin harga sampai meledak di ujung,” ucap Yesi.

Yesi melihat hingga kini belum ada “wasit” yang mengawasi rantai middleman, sehingga ruang permainan harga masih sangat terbuka.

Karena itu, ia meminta pemerintah yang berwenang di sektor perdagangan untuk memperketat pengawasan agar harga di tingkat konsumen tidak melonjak tajam.

Apalagi selama ini peternak terus-menerus menjadi pihak yang disalahkan. Padahal produksi nasional dalam kondisi aman bahkan surplus.

“Kalau middleman mencari laba secara wajar, harga di end user tidak akan mahal," ujarnya.

Tapi kalau ada satu saja rantai yang mengambil keuntungan tidak wajar, menurut Yesi, dampaknya membuat harga di konsumen melambung.

"Ini yang selalu kami minta untuk dipantau, dikendalikan, mohon perdagangan juga mengawasi,” tutur Yesi. 

Bersamaan, Mentan Amran menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh peternak dan pengusaha telur. 

“Alhamdulillah hari ini kita rapat Pinsar seluruh Indonesia dan mengambil keputusan strategis. Saya bangga pada para pengusaha telur besar, menengah, kecil semua kompak mengikuti arahan pemerintah. Tidak perlu tanda tangan, semua sepakat,” kata Amran. 

Amran menegaskan, kenaikan harga telur yang terjadi belakangan ini sebenarnya tidak signifikan. Namun jika ada yang mempermainkan harga di pasar, makan pemerintah akan menindak tegas.

Ia memastikan kondisi tersebut bersifat sementara dan berpotensi akan segera terkoreksi. Saat ini kenaikannya hanya sedikit. "Dalam waktu dekat insyaallah akan turun. Apalagi harga DOC sudah turun signifikan dari 14.000 menjadi Rp11.500," kata Amran.

Reporter : Herman
Sumber : Humas Kementan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018