Thursday, 22 October 2026


Mau Telur Lebih Enak dan Bergizi? Begini Tips Beternak Ayam Anti Stres dari UGM

20 Nov 2025, 10:26 WIBEditor : Gesha

Mau telur lebih enak dan bergizi? UGM membocorkan tips beternak ayam anti stres, mulai dari kandang nyaman hingga pakan sehat, agar ayam bahagia dan hasil telur maksimal.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Mau telur lebih enak dan bergizi? UGM membocorkan tips beternak ayam anti stres, mulai dari kandang nyaman hingga pakan sehat, agar ayam bahagia dan hasil telur maksimal.

Apa jadinya kalau ayam petelur tidak lagi dikurung dalam kandang sempit, melainkan bisa bebas bergerak, bertengger, dan bertelur sesuai nalurinya sendiri?

Di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), model pemeliharaan seperti itu bukan sekadar ideal, melainkan telah menjadi kenyataan, lewat sistem cage‑free (bebas sangkar).

UGM menjadikan konsep ini sebagai solusi untuk menghasilkan telur berkualitas lebih tinggi sekaligus menjaga kesejahteraan hewan.

Tahun 2023 silam, UGM meresmikan International Training Center (ITC) Cage‑Free Innovation and Welfare Hub di Kalijeruk, Sleman, DIY.

Unggas bebas sangkar yang dipelihara di sini berkapasitas hingga 3.000 ayam petelur. Pusat ini dibangun atas kerja sama antara Fakultas Peternakan UGM, Global Food Partners (GFP) dari Singapura, dan Aeres University of Applied Sciences dari Belanda. 

Fungsi utamanya tidak hanya sebagai tempat produksi, tetapi juga sebagai sarana pelatihan manajemen sistem cage-free, riset, dan pusat edukasi bagi peternak skala besar maupun kecil.

Salah satu bukti bahwa kandang UGM bukan “sekadar konsep” adalah sertifikasi dari Humane Farm Animal Care (HFAC), lembaga internasional terkemuka di bidang kesejahteraan hewan. 

Melalui sertifikat ini, UGM menjadi institusi pendidikan pertama di Asia Pasifik yang mendapat pengakuan HFAC untuk model kandang bebas sangkar. Produk telur dari kandang ini, dikenal sebagai Fapet Egg, juga termasuk dalam cakupan sertifikasi. 

Menurut Pusat Pengembangan Ternak Fakultas Peternakan UGM, telur “sejahtera” dari sistem cage-free ini memiliki keunggulan gizi: diklaim mengandung omega dan bebas dari cemaran bakteri patogen. 

Tentu, kualitas telur tidak hanya soal rasa atau kandungan nutrisi tetapi juga asal dari ayam yang dipelihara tanpa stres.

Dr. Muhsin dan tim UGM menekankan bahwa memberikan ruang bagi ayam untuk berperilaku alami (seperti bertengger dan bergerak bebas) sangat penting agar ayam “bahagia”, yang pada gilirannya memengaruhi produktivitas.

Muhsin menekankan, ayam yang stress akan menurun produktivitasnya. Dengan memberi ayam kebebasan dan lingkungan yang mendukung, produktivitas telur pun menjadi lebih stabil dan berkualitas.

Sudah Diadopsi

Sistem cage-free UGM ternyata tidak cuma cocok untuk penelitian atau peternakan besar. Dalam praktiknya, metode ini sudah diadopsi oleh Kelompok Tani di Yogyakarta.

Salah satu contoh sukses: kelompok tani “Tumuju Guyub” di Kampung Blunyahrejo, Karangwaru (Kota Yogyakarta), bekerja sama dengan UGM melalui program pengabdian masyarakat.

Di sana, disiapkan kandang berukuran sekitar 4,5 × 8 meter dan diisi 41 ekor ayam petelur.

Meski jumlahnya kecil, model ini sudah memberi kontribusi langsung ke pendapatan warga sekitar, sekaligus meningkatkan literasi peternakan yang ramah hewan.

Selain itu, UGM rutin membuka pelatihan manajemen sistem bebas sangkar untuk pemasok telur. Misalnya, pada April 2025, lebih dari 12 pemasok telur dari berbagai provinsi mengikuti pelatihan dua hari di ITC UGM. 

Hal ini menunjukkan bahwa UGM tidak hanya membangun model skala kampus, tetapi juga menginisiasi perluasan sistem ke peternak tradisional dan retail.

Dari sisi ekonomi, sistem cage-free ini menawarkan nilai tambah. Karena ayam lebih sehat dan sejahtera, telur yang dihasilkan bisa dihargai lebih tinggi di pasar.

Metode ini juga sangat cocok bagi peternak kecil (di bawah 1.000 ayam) karena skalanya fleksibel dan bisa dijalankan dengan manajemen sederhana.

Tentu, model cage-free tidak tanpa tantangan. Investasi awal untuk kandang bisa lebih tinggi dibanding kandang battery konvensional, terutama jika ingin membuat kandang yang memadai (ruang bertengger, ventilasi, dsb).

Namun, bagi UGM, pendekatan ini sangat jangka panjang: bukan hanya soal profit semata, tetapi nilai animal welfare atau kesejahteraan ayam.

Salah satu tantangan dalam peternakan bebas kandang adalah biaya pakan, terutama jika ayam punya mobilitas lebih tinggi dan membutuhkan nutrisi yang cukup agar tetap sehat dan produktif. 

Dengan memasukkan maggot sebagai sumber protein dan memanfaatkan limbah organik, beban pakan bisa ditekan tanpa mengorbankan kesehatan ayam.

Ini juga sejalan dengan pendekatan berkelanjutan: mengurangi limbah rumah tangga sekaligus menjadikan pakan lebih efisien.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018