
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda bersama Direktur Hilirisasi Produk Peternakan Kementan, Makmun meninjau usaha peternakan sapi di Kelompok Tani Ternak (KTT) Kilometer 9, Lombok Tengah
TABLOIDSINARTANI.COM, Lombok --- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan kesiapannya mendukung program hilirisasi ayam terintegrasi yang tengah disiapkan pemerintah pusat. Program strategis ini bertujuan memperkuat ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir demi mencapai swasembada protein di daerah.
NTB ditetapkan sebagai salah satu wilayah prioritas pada tahap awal pelaksanaan karena dinilai memiliki potensi bahan baku dan sumber daya yang mumpuni.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, menegaskan bahwa daerahnya memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem peternakan yang berkelanjutan.
“Jagungnya kami punya semua. Model bisnisnya perlu kita pikirkan,” ujarnya.
Iqbal menekankan bahwa pengembangan peternakan di NTB harus tetap memberikan perlindungan bagi peternak kecil.

Menurutnya, peran pemerintah adalah memastikan peternak rakyat mendapatkan ruang untuk berkembang dan menikmati manfaat ekonomi dari industri peternakan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menjelaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan investasi besar yang mencakup pembibitan, penyediaan pakan, pengolahan, hingga distribusi.
“Pemerintah ingin setiap wilayah swasembada protein, telur, dan daging,” kata Agung.
Ia menambahkan, investasi berskala besar dibutuhkan agar peternak rakyat memiliki captive market yang lebih terjamin melalui pola kemitraan.
Untuk memperkuat ekosistem ini, Agung menilai diperlukan peran aktif BUMN dan BUMD, sementara budidaya tetap dijalankan oleh peternak rakyat.
Usai pertemuan, Agung bersama Direktur Hilirisasi Produk Peternakan Kementan, Makmun, dan Plt Kepala Dinas Peternakan NTB, Ahmad Masyhuri, meninjau usaha peternakan sapi di Kelompok Tani Ternak (KTT) Kilometer 9, Lombok Tengah.

Mereka melihat langsung kandang peternak rakyat yang selama ini memasok sapi ke berbagai daerah.
“Peternak NTB harus merasakan manfaat ekonomi dari usaha peternakan sapi, baik untuk penyediaan daging maupun kebutuhan kurban,” ujar Agung.
Ketua KTT Kilometer 9, Ahmad Samsir, memaparkan bahwa kelompoknya fokus pada penggemukan sapi eksotik, seperti simmental dan limousin.
Dalam tiga bulan penggemukan, bobot sapi dapat meningkat 40–45 kilogram per ekor setiap bulan. Peternak juga memastikan vaksinasi dilakukan lengkap dan pakan diracik sendiri dengan kadar protein 14 persen, meski sebagian bahan baku masih didatangkan dari Jawa.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi sapi di NTB mencapai 1.623.772 ekor pada 2024. Subsektor peternakan turut memberi kontribusi besar terhadap perekonomian daerah dengan nilai mencapai Rp6,8 triliun.