
Konsultasi teknis biosafety dan lokakarya manajemen mutu laboratorium ini digelar Direktorat Kesehatan Hewan bekerja sama dengan FAO ECTAD Indonesia
TABLOIDSINARTANI.COM, Surabaya — Upaya besar memperkuat jaringan laboratorium veteriner nasional resmi bergulir dari kompleks Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma, Surabaya. Selama lima hari, 1–5 Desember 2025.
Para pakar biosafety, asesor akreditasi, serta perwakilan dari 12 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian berkumpul untuk menyatukan langkah menghadapi ancaman penyakit hewan yang kian kompleks.
Pertemuan konsultasi teknis biosafety dan lokakarya manajemen mutu laboratorium ini digelar Direktorat Kesehatan Hewan bekerja sama dengan FAO ECTAD Indonesia melalui kerangka Pandemic Fund.
Kegiatan tersebut juga menjadi tindak lanjut pembangunan fasilitas laboratorium berbasis Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang tengah berlangsung di BBVF Pusvetma.

Direktur Kesehatan Hewan, Hendra Wibawa, menegaskan bahwa penguatan biosafety dan biosecurity bukan hanya urusan teknis, melainkan bagian dari pertahanan nasional di bidang kesehatan hewan.
“SBSN bukan hanya pembangunan fisik. Ini investasi strategis jangka panjang. Indonesia harus memiliki laboratorium yang bukan saja modern, tetapi juga aman, kredibel, dan memenuhi standar internasional,” ujar Hendra, Rabu (5/11/2025).
Ia menambahkan bahwa kesiapsiagaan terhadap penyakit hewan berbahaya hanya bisa dicapai apabila biosafety, biosecurity, dan sistem mutu diterapkan secara serempak dan selaras antar-UPT.

Sementara itu, Kepala BBVF Pusvetma, Edy Budi Susila, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Direktorat Kesehatan Hewan, FAO ECTAD Indonesia, dan seluruh UPT yang hadir.
“Pembangunan dan penguatan kapasitas laboratorium melalui SBSN adalah langkah strategis dalam mendukung kesiapsiagaan deteksi penyakit hewan, peningkatan biosafety-biosecurity, serta pemenuhan standar mutu internasional,” katanya.
Edy berharap pertemuan ini dapat menjadi momentum percepatan harmonisasi standar laboratorium, mulai dari infrastruktur, kompetensi SDM, hingga implementasi sistem manajemen mutu di seluruh UPT.
Tak sekadar pelatihan teori, kegiatan ini menitikberatkan pada integrasi standar biosafety, biosecurity, dan ISO 17025 untuk memperkuat jejaring laboratorium veteriner nasional.
Penguatan ini menjadi kunci dalam deteksi dini, respons cepat, dan pengendalian penyakit hewan di Indonesia.