
Ketua Umum APPSI yang juga Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-3 APPSI di Hotel Salak The Heritage, Bogor, Sabtu (20/12).
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor – Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) terus memperkuat perannya dalam meningkatkan harkat dan kesejahteraan peternak sapi nasional.
Melalui kontes sapi hingga pengembangan sapi perah untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), APPSI menegaskan diri sebagai rumah besar bagi para peternak Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum APPSI yang juga Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-3 APPSI di Hotel Salak The Heritage, Bogor, Sabtu (20/12).
Ia menyebut APPSI lahir dari kecintaan yang sama terhadap dunia persapian dan menjadi ruang untuk saling belajar serta menguatkan.
“APPSI adalah wadah untuk orang-orang yang gemar memelihara dan menggemukan sapi, bertukar ilmu, berbagi pengalaman tentang pakan, penyakit, hingga pengobatan sapi,” ujar Muzani.

Menurutnya, APPSI cepat diterima masyarakat karena dekat dengan tradisi kontes sapi yang sudah mengakar di berbagai daerah. Kontes tersebut tidak sekadar hiburan, tetapi juga sarana strategis untuk mengangkat derajat peternak.
“Kontes sapi APPSI punya gengsi tersendiri. Di sanalah derajat peternak dan penggemuk sapi terangkat. Transaksi meningkat, ekonomi daerah ikut bergerak,” kata Muzani.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi digital turut memperluas ruang promosi dan pembelajaran bagi peternak.
Banyak peternak kini aktif membagikan proses penggemukan sapi melalui platform seperti YouTube, yang berdampak pada meningkatnya minat masyarakat terhadap usaha peternakan sapi.

Rakernas ke-3 APPSI sendiri dikemas secara hangat dan kekeluargaan.
Selain mengevaluasi program organisasi, forum ini juga membahas agenda kontes sapi selanjutnya yang diminati hampir seluruh daerah.
“Sejak Boyolali, Kemayoran, Lampung, hingga Jember, semua daerah ingin menggelar kontes sapi. Karena kalau ada kontes, peternak ikut terangkat dan program daerah ikut hidup,” jelasnya.
Muzani juga menyinggung hubungan erat APPSI dengan Kementerian Pertanian yang telah terjalin lama. Ia menyebut APPSI bukan hanya mitra strategis, tetapi juga bagian dari ekosistem kebijakan pemerintah.
“Ketika ada wabah PMK, laporan APPSI langsung direspons Kementerian Pertanian. Kami sangat terbantu oleh kebijakan dan langkah cepat Kementan,” ungkapnya.
Di sisi lain, solidaritas sosial di kalangan peternak juga menjadi sorotan. APPSI menginisiasi penggalangan dana untuk membantu korban bencana di Sumatera.
“Duka Sumatera adalah duka kita semua. Donasi dari peternak dan penggemuk sapi telah terkumpul Rp620 juta dan akan disalurkan melalui Baznas untuk Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,” ujarnya.
Rakernas kemudian mengerucut pada arah baru APPSI dalam mendorong pengembangan sapi perah guna menopang program MBG.
Muzani menilai peluang pasar susu sangat besar, sementara kapasitas produksi nasional masih terbatas.

“Kita akan mulai mengarahkan teman-teman ke sapi perah. Kebutuhan susu untuk MBG sangat tinggi, sementara kemampuan kita memenuhinya masih rendah,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan program MBG menjadi jaminan serapan hasil peternakan, khususnya susu sapi perah.
“Sekarang tidak ada lagi susu peternak yang tidak terserap. MBG membuat semua hasil susu diperebutkan,” katanya.
Ia pun mendorong APPSI berperan aktif sebagai mitra strategis pemerintah di lapangan. “Kami ingin APPSI menjadi mata, telinga, dan corong pemerintah. Jika ada yang baik, sampaikan. Jika ada masalah, laporkan, kita selesaikan bersama,” pungkasnya.