Jumat, 16 Januari 2026


Peluang Ekonomi Baru, Kementan Dorong Hilirisasi Ayam Terintegrasi di NTT

05 Jan 2026, 12:50 WIBEditor : Herman

Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwal i saat audiensi mengenai hilirisasi ayam terintegrasi

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumba --- Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat ketahanan pangan nasional dengan mendorong pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Program ini dirancang untuk membangun rantai pasok perunggasan yang efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan, sekaligus mengoptimalkan potensi daerah.

Sebagai langkah awal, Kementan melakukan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi untuk memastikan kesiapan teknis dan dukungan wilayah.

Peninjauan mencakup ketersediaan sumber air, akses logistik, calon lokasi kandang, hingga rencana pembangunan fasilitas pendukung seperti pabrik pakan dan rumah potong hewan unggas (RPHU). Hasil peninjauan ini akan menjadi dasar penyusunan perencanaan teknis serta tahapan implementasi program ke depan.

Rencana tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah. Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, menilai pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi sebagai peluang strategis bagi daerahnya.

“Kami melihat program ini sebagai peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya peternak dan tenaga kerja lokal,” ujarnya saat audiensi di Kabupaten Sumba Timur.

Dukungan serupa disampaikan Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla. Ia menegaskan kesiapan pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan integrasi dan hilirisasi ayam, terutama untuk menjawab tingginya kebutuhan protein hewani masyarakat.

“Kami turun langsung untuk memastikan kesiapan lokasi dan ekosistem pendukung. Jika ada kendala, kami siap mencari solusi bersama agar program ini dapat segera berjalan,” katanya.

Menurut Ratu Ngadu Bonu Wulla, pengembangan integrasi ayam di daerah tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal melalui keterlibatan peternak dan masyarakat setempat. “Prinsip kami jelas, masyarakat harus diuntungkan agar program ini berkelanjutan,” tegasnya.

Program hilirisasi ayam terintegrasi dirancang mencakup seluruh mata rantai usaha dalam satu kawasan, mulai dari penyediaan pakan, pembibitan, budidaya, hingga pengolahan dan distribusi produk unggas. Melalui pendekatan ini, pemerintah berharap produksi unggas daerah dapat tumbuh sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian lokal.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyampaikan bahwa pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi diharapkan memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.

“Dengan hilirisasi ayam terintegrasi, kami berharap program ini mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan subsektor peternakan daerah, menyokong kebutuhan produk unggas nasional, sekaligus membuka lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian desa,” ujar Agung.

.

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018