Wednesday, 21 October 2026


Alih Fungsi Lahan Picu Penyakit Zoonosis, Pendekatan One Health Jadi Solusi

15 Jan 2026, 11:34 WIBEditor : Herman

Vaksin Pada Hewan

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Lampung --- Perubahan bentang alam akibat alih fungsi hutan dan lahan terus memunculkan tantangan baru bagi kesehatan hewan dan manusia. Ekspansi permukiman, laju urbanisasi, serta intensifikasi pertanian dan peternakan dinilai kian mempersempit batas antara habitat satwa liar dan aktivitas manusia.

Dampaknya, frekuensi pertemuan antara satwa liar, ternak, dan manusia meningkat, sekaligus memperbesar risiko penularan penyakit lintas spesies.

Secara global, fenomena ini bukan hal sepele. Data internasional menunjukkan sekitar 70 persen penyakit infeksi baru yang muncul dalam beberapa dekade terakhir tergolong zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

Bahkan, hampir 75 persen di antaranya diketahui berasal dari satwa liar. Fakta ini menegaskan bahwa perubahan ekosistem memiliki peran besar dalam kemunculan wabah penyakit baru.

Salah satu satwa liar yang kini menjadi perhatian utama para peneliti adalah kelelawar. Hewan ini memiliki tingkat interaksi yang relatif tinggi dengan manusia dan ternak, terutama di wilayah yang mengalami perubahan tata guna lahan.

Di sisi lain, kelelawar juga dikenal sebagai hospes alami berbagai patogen, termasuk virus yang berpotensi menular ke manusia.

Dosen Biologi FMIPA Universitas Lampung (Unila), Elly L. Rustiati, menjelaskan bahwa aktivitas manusia yang semakin mendekati habitat alami kelelawar memperbesar peluang terjadinya kontak, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kondisi tersebut berpotensi memicu peristiwa spillover, yakni loncatan patogen dari satwa liar ke manusia atau hewan ternak.

“Pembukaan hutan, pertanian intensif, hingga pembangunan permukiman di sekitar habitat kelelawar membuat batas interaksi semakin kabur. Ketika ruang hidup satwa terganggu, risiko penularan penyakit ikut meningkat,” ujar Elly, Selasa (13/1/2026).

Menurut Elly, upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini dengan memahami pola interaksi antara satwa liar, manusia, dan ternak. Ia menekankan pentingnya riset berbasis ekologi dan kesehatan untuk memetakan potensi ancaman zoonosis, khususnya di tingkat lokal.

“Mencegah jauh lebih efektif daripada menangani wabah. Karena itu, riset kolaboratif lintas disiplin menjadi kunci untuk mengidentifikasi risiko sebelum penyakit muncul,” katanya.

Sejalan dengan itu, Kementerian Pertanian melalui Balai Veteriner Lampung terus memperkuat deteksi dini dan kesiapsiagaan terhadap penyakit hewan menular strategis dan zoonosis.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menjalin kolaborasi dengan Universitas Lampung dalam kajian interaksi antara kelelawar, manusia, dan ternak domestik di sejumlah wilayah rawan.

Kajian tersebut dilaksanakan di beberapa lokasi, antara lain Kecamatan Rajabasa dan Labuan Ratu di Kota Bandar Lampung, serta Kecamatan Braja Selebah dan Labuan Ratu di Kabupaten Lampung Timur.

Wilayah-wilayah ini dinilai memiliki tingkat interaksi yang cukup tinggi antara aktivitas manusia dan habitat satwa liar.

Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana, mengatakan kerja sama ini difokuskan pada penguatan surveilans berbasis risiko, penelitian lintas sektor, serta peningkatan kapasitas deteksi laboratorium.

“Kolaborasi ini bertujuan untuk mendeteksi potensi munculnya penyakit infeksi baru sejak dini, sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan sebelum berkembang menjadi wabah,” ujarnya.

Melalui pendekatan One Health, sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan bersama. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada perlindungan kesehatan manusia, tetapi juga menjaga keberlanjutan subsektor peternakan sekaligus kelestarian lingkungan.

 

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018