
Sudah 38 tahun menjaga kesehatan hewan, BBVet Wates kini bersiap modernisasi laboratorium untuk menghadapi tantangan penyakit hewan strategis yang kian kompleks.
TABLOIDSINARTANI.COM, Yogyakarta -- Sudah 38 tahun menjaga kesehatan hewan, BBVet Wates kini bersiap modernisasi laboratorium untuk menghadapi tantangan penyakit hewan strategis yang kian kompleks.
Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, yang terletak di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menapaki usia ke-38 tahun dengan catatan prestasi yang membanggakan. Sejak didirikan pada 1988, BBVet Wates menjadi garda terdepan dalam pengawasan dan pengendalian kesehatan hewan, serta berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Fasilitas veteriner yang telah lama beroperasi ini tetap terawat dengan baik, menjadi bukti pengabdian dan profesionalisme jajaran pegawai yang mengabdi untuk negeri.
Kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI pada Jumat (30/1/2026) menghadirkan Ketua Komisi IV, Siti Hediati Soeharto, yang lebih dikenal dengan sebutan Titiek Soeharto. Ia menyempatkan diri meninjau langsung fasilitas laboratorium, mekanisme pelayanan diagnostik, hingga instalasi kandang hewan percobaan. Dari kunjungan itu, Titiek memberikan apresiasi tinggi atas kondisi BBVet Wates yang tetap prima meski telah beroperasi puluhan tahun.
“Fasilitas ini berdiri sejak tahun 1988 dan sudah 38 tahun mengabdi untuk negeri. Hingga kini kondisinya masih terawat dengan baik, dan ini patut kita apresiasi,” ujar Titiek usai meninjau fasilitas laboratorium. Pernyataan ini menegaskan bahwa meski usia BBVet sudah matang, dedikasi dalam pelayanan tetap menjadi prioritas utama.
Meski demikian, Titiek menekankan pentingnya modernisasi fasilitas. Menurutnya, dunia peternakan dan kesehatan hewan menghadapi tantangan penyakit yang semakin kompleks, mulai dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hingga penyakit menular strategis lainnya. Modernisasi laboratorium, pemenuhan alat identifikasi penyakit terkini, serta peralatan diagnostik yang mutakhir menjadi kebutuhan agar sistem kesehatan hewan dapat berjalan optimal.
“Kalau masih dibutuhkan peralatan yang lebih modern atau laboratorium yang lebih mutakhir, silakan diajukan. Komisi IV DPR RI terbuka terhadap usulan peningkatan sarana dan prasarana, selama tujuan utamanya memperkuat sistem pencegahan dan penanganan penyakit hewan,” jelas Titiek. Ia menekankan, penguatan sarana dan prasarana laboratorium bukan semata soal kemewahan, tetapi strategi preventif yang dapat menekan kerugian ekonomi dan menjaga produktivitas ternak.
BBVet Wates memiliki wilayah kerja yang luas, mencakup tiga provinsi, yakni DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Wilayah ini dikenal memiliki populasi ternak terpadat di Indonesia dan menjadi jembatan lalu lintas hewan dari berbagai daerah, bahkan lintas negara. Sebagai laboratorium tipe A, BBVet Wates bukan hanya melakukan pelayanan laboratorium dan diagnostik, tetapi juga berperan aktif dalam surveilans, monitoring lalu lintas hewan, serta pembinaan teknis kepada pemerintah daerah dan pelaku usaha peternakan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menekankan bahwa pengendalian Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) adalah pilar utama perlindungan peternak rakyat. Menurutnya, sistem kesehatan hewan yang kuat akan berdampak langsung pada peningkatan produksi ternak, stabilitas harga pangan, dan ketahanan pangan nasional.
“BBVet Wates menjadi rujukan nasional dan regional Asia Tenggara untuk penyakit krusial seperti Avian Influenza, Pullorum, Salmonella Enteritidis, dan Lumpy Skin Disease. Pemerintah memberikan perhatian khusus pada enam jenis PHMS, terutama PMK dan LSD. Tanpa pengendalian yang tepat, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat, mulai dari penurunan produksi hingga kenaikan harga daging di pasar,” jelas Agung.
Kunjungan kerja Komisi IV DPR RI difokuskan pada pendalaman kebijakan pengendalian PHMS untuk mendukung peningkatan produktivitas ternak sekaligus mempercepat swasembada daging dan susu nasional. Sub-sektor peternakan nasional saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari manajemen usaha yang masih tradisional, meningkatnya biaya pakan, hingga ancaman penyakit yang berpotensi menimbulkan kerugian besar. Titiek menekankan pentingnya prinsip preventif dalam menghadapi risiko ini.
“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Jika penyakit seperti antraks atau PMK tidak dicegah sejak dini, kerugian ekonomi akan jauh lebih besar. Hal ini tidak hanya berdampak pada peternak, tetapi juga ketahanan pangan nasional secara keseluruhan,” tegasnya. Prinsip ini menjadi landasan Komisi IV DPR RI dalam mendorong modernisasi sarana dan prasarana BBVet, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pemenuhan vaksinasi nasional secara terencana.
BBVet Wates memiliki delapan laboratorium uji dan satu instalasi kandang hewan percobaan, semuanya telah terakreditasi ISO 17025:2008 dengan 47 ruang lingkup pengujian. Sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, balai ini terus melakukan pembenahan di segala bidang, mulai dari metode diagnosa, pengujian veteriner, hingga pelayanan teknis penyidikan penyakit hewan. Semua ini sejalan dengan visi dan misi BBVet untuk memberikan pelayanan kesehatan hewan yang optimal, mendukung ketahanan pangan, serta mengamankan keberlanjutan usaha peternak rakyat.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menambahkan bahwa pemerintah daerah mendukung pengembangan pertanian dan peternakan berkelanjutan melalui konsep agro-tourism yang terintegrasi dengan UMKM. Produk peternakan lokal didorong untuk dapat melalui hilirisasi, sehingga bernilai tambah lebih tinggi. Semua upaya dilakukan sambil menjaga komitmen perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), demi menjaga ketahanan pangan sekaligus memberikan kesejahteraan bagi petani dan peternak.
Dalam konteks ini, peran BBVet Wates tidak bisa dilepaskan dari sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan. Balai ini menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dini penyakit hewan, mencegah penyebaran PHMS, dan memberikan edukasi teknis kepada peternak. Dampak positifnya langsung dirasakan oleh masyarakat, mulai dari stabilitas harga daging, kualitas ternak yang lebih baik, hingga peningkatan kesejahteraan peternak rakyat.
“Balai ini tidak hanya menjalankan fungsi pelayanan laboratorium dan diagnostik, tetapi juga aktif melakukan surveilans, monitoring lalu lintas hewan, serta pembinaan dan pendampingan teknis. Dengan dukungan Komisi IV DPR RI dan sinergi antar-lembaga, pengendalian PHMS dapat berjalan efektif dan berkelanjutan,” ujar Titiek.
Seiring dengan perjalanan 38 tahun mengabdi, BBVet Wates menunjukkan bahwa kualitas pelayanan veteriner tidak hanya soal gedung atau alat laboratorium, tetapi juga tentang dedikasi, profesionalisme, dan keberanian menghadapi tantangan. Modernisasi fasilitas menjadi langkah strategis berikutnya, agar balai ini tetap menjadi rujukan nasional dan regional di tengah perubahan iklim penyakit hewan yang dinamis.
Dengan komitmen modernisasi laboratorium, penguatan kapasitas SDM, dan peningkatan sarana-prasarana, BBVet Wates siap menghadapi tantangan baru. Tujuannya jelas: kesehatan hewan tetap terjaga, produktivitas ternak meningkat, ketahanan pangan nasional semakin kuat, dan kesejahteraan peternak rakyat semakin terjamin.