Thursday, 22 October 2026


Kementan Lirik Teknologi USDA untuk Kesehatan Hewan dan Peternakan Rakyat

10 Feb 2026, 07:31 WIBEditor : Gesha

Peternakan dan Kesehatan Hewan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kementerian Pertanian melirik teknologi USDA untuk memperkuat kesehatan hewan dan biosekuriti nasional, demi melindungi peternak rakyat sekaligus meningkatkan daya saing peternakan Indonesia di tengah dinamika global.

Kementerian Pertanian (Kementan) mulai membuka cakrawala baru kerja sama internasional dengan Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture/USDA). Fokusnya jelas: penguatan kesehatan hewan dan penerapan biosekuriti nasional demi memperkokoh ketahanan pangan serta melindungi peternakan rakyat.

Isu ini mengemuka dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Pertanian Amerika Serikat untuk Urusan Perdagangan dan Pertanian Luar Negeri, Luke J. Lindberg, ke Jakarta. Pertemuan tersebut dimanfaatkan Kementan sebagai ruang dialog strategis untuk menjajaki alih teknologi dan penguatan sistem peternakan nasional.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menyebut kerja sama teknis dengan USDA memiliki potensi besar, terutama dalam meningkatkan sistem pencegahan penyakit hewan dan standar biosekuriti di dalam negeri.

 “Kami melihat peluang penguatan kolaborasi teknis dengan USDA, khususnya terkait kesehatan hewan dan biosekuriti. Ini penting untuk memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional,” kata Agung dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Menurut Agung, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda diplomasi, melainkan momentum mempererat kemitraan pertanian Indonesia–Amerika Serikat di tengah dinamika perdagangan global yang terus berubah. Rombongan Wakil Menteri Pertanian AS bahkan melibatkan puluhan eksportir dan pelaku agribisnis, menandakan besarnya minat terhadap pasar Indonesia.

Pembahasan pertemuan diarahkan pada pendalaman dialog perdagangan pertanian yang saling menguntungkan, termasuk tindak lanjut perundingan perjanjian perdagangan timbal balik antara Indonesia dan Amerika Serikat. Meski demikian, Kementan menegaskan prinsip kehati-hatian tetap dijaga.

Agung menekankan, kerja sama internasional harus tetap berpihak pada keberlanjutan subsektor peternakan nasional. Peternak rakyat dan produsen kecil, kata dia, tidak boleh terpinggirkan oleh arus perdagangan global.

“Peternak rakyat adalah fondasi utama sistem peternakan kita. Setiap kerja sama harus mendukung pertumbuhan yang adil, bukan sekadar memperlancar perdagangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan biosekuriti, transfer teknologi, inovasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci agar subsektor peternakan nasional lebih tangguh. Melalui kolaborasi teknis dengan USDA, Kementan berharap nilai tambah produk peternakan dalam negeri dapat meningkat, termasuk melalui hilirisasi.

Di sisi lain, USDA memimpin misi dagang ke Jakarta dengan target memperluas akses pasar dan meningkatkan ekspor produk pertanian Amerika Serikat. Misi tersebut melibatkan 41 perusahaan agribisnis, organisasi perdagangan, serta perwakilan dari tiga departemen pertanian tingkat negara bagian.

Wakil Menteri Pertanian AS Luke J. Lindberg menyebut Indonesia sebagai pasar strategis di Asia Tenggara dengan pertumbuhan permintaan yang tinggi terhadap produk pertanian berkualitas.

“Misi ini adalah langkah konkret untuk mengubah peluang dari perjanjian dagang menjadi transaksi nyata bagi petani dan produsen Amerika,” ujar Lindberg.

Ia menambahkan, perjanjian perdagangan timbal balik AS–Indonesia tidak hanya membuka peluang ekspor bagi kedua negara, tetapi juga memperkuat kemitraan pertanian jangka panjang yang saling menguntungkan.

Bagi Indonesia, kerja sama ini diharapkan tidak sekadar soal perdagangan, melainkan juga menjadi pintu masuk penguatan teknologi, perlindungan peternakan rakyat, dan ketahanan pangan nasional yang lebih kokoh.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018