
Harga ayam di Indonesia menembus Rp42 ribu per kilogram, bikin konsumen resah. Pemerintah mengungkap dugaan permainan dalam rantai distribusi yang memicu lonjakan harga di pasaran.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Harga ayam di Indonesia menembus Rp42 ribu per kilogram, bikin konsumen resah. Pemerintah mengungkap dugaan permainan dalam rantai distribusi yang memicu lonjakan harga di pasaran.
Lonjakan harga daging ayam ras di tingkat konsumen menjadi sorotan pemerintah menjelang Ramadan 2026. Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) menegaskan mahalnya harga ayam bukan disebabkan produksi atau stok yang terbatas, melainkan persoalan rantai distribusi dan tingginya margin perdagangan di pasar.
Direktur Hilirisasi Hasil Pertanian Kementan, Makmun, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan harga ayam di tingkat produsen relatif stabil bahkan berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP). Namun, harga melonjak tajam setelah masuk ke pasar tradisional.
“Kalau dari stok secara nasional ini memang tidak ada masalah,” ujar Makmun dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Senin (23/2/2026).
Kementan menemukan selisih harga cukup besar dalam rantai distribusi ayam. Dari hasil pemantauan di Jawa Barat, harga ayam hidup di tingkat kandang di Subang tercatat sekitar Rp22.000–Rp23.000 per kilogram (kg).
Setelah melalui proses pemotongan dan pembersihan, harga naik menjadi sekitar Rp26.000 per kg saat tiba di pasar. Kenaikan ini dinilai masih wajar sebagai bagian dari biaya distribusi dan pengolahan.
Namun, harga kembali melonjak saat dijual ke konsumen. “Begitu di pasar terima Rp26.000 per kg dalam kondisi bersih, dijualnya Rp42.000 per kg,” kata Makmun.
Menurut perhitungan Kementan, dengan konversi karkas sekitar 70 persen, harga jual Rp38.000 per kg sebenarnya sudah memberikan keuntungan bagi pedagang. Penjualan di atas Rp40.000 per kg dinilai mencerminkan margin yang terlalu tinggi.
Kementan memperkirakan pedagang tetap bisa meraup keuntungan Rp4.000–Rp5.000 per kg meski harga dijual Rp38.000 per kg kepada konsumen.
Temuan tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras di berbagai daerah.
Hingga minggu ketiga Februari 2026, sebanyak 198 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga ayam. Secara nasional, rata-rata harga naik 1,65 persen dibandingkan Januari 2026 dan berada di atas HAP konsumen Rp40.000 per kg.
Kenaikan harga tercatat terjadi di sekitar 55 persen wilayah Indonesia, meski pasokan dinilai relatif aman. Disparitas harga juga cukup lebar, dengan harga terendah sekitar Rp25.000 per kg dan tertinggi mencapai Rp100.000 per kg di wilayah Papua.

Kementan menilai salah satu kendala pengendalian harga adalah persepsi sebagian pemerintah daerah yang menganggap kenaikan harga pangan menjelang Ramadan sebagai kondisi normal, sehingga langkah stabilisasi sering terlambat dilakukan.
“Teman-teman di daerah kalau harganya di atas HAP, karena bulan Ramadan menganggap biasa,” ujar Makmun.
Pola lonjakan harga juga ditemukan pada komoditas daging sapi. Harga di tingkat feedloter tercatat sekitar Rp55.000 per kg bobot hidup, namun meningkat drastis hingga Rp150.000 per kg saat sampai di pasar.
Untuk menekan harga, Kementan telah berkoordinasi dengan Satgas Pangan dan pemerintah daerah guna memperketat pengawasan distribusi. Pemerintah juga akan mengumpulkan asosiasi pedagang dan pelaku distribusi di berbagai wilayah untuk menyelaraskan margin perdagangan agar lebih wajar.
Sementara itu, pemerintah memastikan harga telur ayam ras secara nasional sudah kembali stabil dan berada di bawah HAP Rp30.000 per kg.
Dengan penguatan pengawasan rantai distribusi dan koordinasi lintas lembaga, pemerintah berharap lonjakan harga ayam dapat segera dikendalikan serta daya beli masyarakat tetap terjaga selama Ramadan.