
Rapat koordinasi program pengembangan ayam petelur tahun 2026
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Peternak ayam petelur menjadi pusat perhatian dalam program pengembangan ayam petelur tahun 2026 yang disiapkan Kementerian Pertanian.
Program ini dirancang tidak hanya untuk mendongkrak produksi telur nasional, tetapi juga memperkuat ketahanan protein masyarakat serta memastikan usaha peternak rakyat tumbuh berkelanjutan dan menguntungkan.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam rapat koordinasi yang digelar pada 23–24 Februari 2026 di Kantor Kementan, Jakarta. Pertemuan ini melibatkan jajaran pusat, unit pelaksana teknis, hingga unsur pengawasan internal guna memastikan program berjalan terukur dan tepat sasaran.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa program pengembangan ayam petelur harus memberikan dampak langsung bagi pelaku usaha perunggasan rakyat.

“Dalam program ayam petelur, yang harus dipastikan adalah ayam yang dikembangkan mampu berproduksi secara optimal, meningkatkan ketersediaan telur, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya peternak,” ujar Agung, Senin (23/2).
Menurutnya, tahun 2026 menjadi momentum memperkuat tata kelola program secara menyeluruh, mulai dari perencanaan hingga pengawalan di lapangan. Pendekatan berbasis kesiapan produksi dinilai penting agar bantuan yang diberikan benar-benar produktif dan berkelanjutan.
“Target produksi telur harus realistis dan berbasis kesiapan di lapangan. Dengan begitu, program terus berlanjut menghasilkan produksi telur yang nyata,” tegasnya.
Senada dengan itu, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Ali Agus, menekankan bahwa pengembangan ayam petelur harus menjadi bagian dari ekosistem pangan yang berkelanjutan dan berpihak pada peternak.

Ia menegaskan, program tidak boleh berhenti pada aspek administratif semata, tetapi harus mampu meningkatkan produksi sekaligus memperkuat struktur usaha peternak di daerah.
“Pendampingan dari pusat hingga daerah menjadi kunci agar program ini berjalan efektif dan benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Dari sisi pengawasan, Inspektur IV Inspektorat Jenderal Kementan, Pujo Harmadi, memastikan bahwa keberhasilan program akan diukur dari hasil produksi yang dicapai peternak.
“Evaluasi tidak hanya melihat jumlah ayam yang disalurkan, tetapi bagaimana ayam tersebut mampu berproduksi dan berkontribusi terhadap ketersediaan telur di masyarakat,” jelas Pujo.
Pendekatan berbasis produksi, pendampingan, dan pengawasan ini memberi kepastian usaha bagi peternak.
Dengan peningkatan produksi, peluang memperkuat pendapatan terbuka lebih lebar, sekaligus menjaga stabilitas pasokan telur di pasar.