Saturday, 17 October 2026


Pakar Ungkap Formulasi Pakan Terbaik Belum Tentu Cocok di Semua Farm Indonesia

11 May 2026, 06:53 WIBEditor : Gesha

-Pakar peternakan mengungkap formulasi pakan terbaik belum tentu cocok di semua farm karena tiap daerah punya kondisi berbeda.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --Pakar peternakan mengungkap formulasi pakan terbaik belum tentu cocok di semua farm karena tiap daerah punya kondisi berbeda.

Banyak peternak masih menganggap ada satu formulasi pakan terbaik yang bisa dipakai untuk semua ternak sapi di Indonesia. Padahal, menurut para ahli, kondisi peternakan di tiap daerah berbeda-beda sehingga kebutuhan pakannya juga tidak bisa disamakan.

Hal itu disampaikan Muhammad Dikman, M.Pil., Kepala Loka Perakitan dan Pengujian Ruminansia Besar, Pusat Perakitan dan Modernisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian.

Dalam pemaparannya, Dikman menjelaskan bahwa sistem pemeliharaan ternak di Indonesia sangat berbeda dengan negara lain seperti Australia, Amerika Serikat, maupun negara-negara Eropa.

Di luar negeri, terutama Australia, peternakan sapi umumnya menggunakan sistem ekstensif. Artinya, sapi digembalakan di lahan yang sangat luas sehingga kebutuhan pakan banyak dipenuhi langsung dari padang rumput alami.

Sementara di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, kondisi lahannya jauh lebih terbatas. Karena itu, mayoritas peternak menerapkan sistem semi intensif atau intensif, di mana sapi lebih banyak dipelihara di kandang dan pakan harus disiapkan setiap hari.

“Pemeliharaan ternak di Indonesia tidak bisa disamakan dengan di luar negeri,” kata Dikman.

Ia mencontohkan, kondisi peternakan di Jawa tentu berbeda dengan di Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi, atau Kalimantan yang masih memiliki lahan lebih luas.

Perbedaan itulah yang membuat strategi pakan tidak bisa dibuat sama rata.

Menurut Dikman, sampai sekarang belum ada formulasi pakan yang benar-benar cocok untuk semua wilayah di Indonesia. Pakan yang berhasil di satu daerah belum tentu memberikan hasil bagus di daerah lain.

Penyebabnya cukup banyak, mulai dari perbedaan iklim, jenis hijauan, ketersediaan bahan baku pakan, hingga cara pemeliharaan ternaknya.

Karena itu, ia meminta peternak tidak terpaku pada satu resep atau formulasi tertentu yang dianggap paling hebat.

“Belum ada strategi dan komposisi pakan terhebat yang dapat diterapkan pada semua sistem usaha peternakan,” ujarnya.

Menurut dia, yang paling penting justru kemampuan peternak memanfaatkan bahan pakan yang tersedia di sekitar mereka.

Misalnya, jika suatu daerah memiliki limbah pertanian melimpah seperti jerami, tongkol jagung, atau dedak, maka bahan-bahan itu bisa diolah menjadi pakan ternak yang lebih murah tetapi tetap berkualitas.

Begitu juga di daerah lain yang punya sumber hijauan atau bahan lokal berbeda, maka formulasi pakannya juga perlu disesuaikan.

“Yang terhebat adalah strategi kita dalam meramu bahan pakan potensial setempat menjadi produk pakan yang ekonomis, aman, sehat, utuh, halal, dan berkualitas,” jelas Dikman.

Ia menegaskan, pola pikir peternak perlu mulai berubah. Fokusnya bukan mencari pakan paling mahal atau paling terkenal, melainkan bagaimana membuat pakan yang cocok dengan kondisi daerah masing-masing.

Selain bisa menekan biaya produksi, penggunaan bahan pakan lokal juga membuat usaha peternakan lebih efisien dan berkelanjutan.

Pasalnya, biaya pakan selama ini menjadi salah satu pengeluaran terbesar dalam usaha ternak sapi potong.

Dengan memanfaatkan potensi lokal, peternak diharapkan bisa tetap produktif tanpa terlalu bergantung pada bahan baku dari luar daerah yang harganya sering naik turun.

Pendekatan seperti ini dinilai lebih realistis untuk diterapkan di Indonesia yang memiliki kondisi wilayah dan sistem peternakan sangat beragam.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018