
Telur Ayam
TABLOIDSINARTANI.COM, Magetan --- Pemerintah bergerak cepat menjaga keberlangsungan usaha peternak ayam petelur rakyat di tengah melimpahnya produksi telur nasional. Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Pemerintah Kabupaten Magetan memperkuat langkah penyerapan telur agar harga di tingkat peternak tetap stabil.
Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan secara hybrid bersama Kementan, Bapanas, asosiasi perunggasan, peternak, hingga pelaku usaha beberapa waktu lalu.
Pemerintah menegaskan surplus produksi telur harus segera dikelola secara terukur agar tidak memicu anjloknya harga di tingkat peternak. Karena itu, berbagai langkah percepatan penyerapan, distribusi, hingga penguatan konsumsi telur mulai didorong di berbagai daerah.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan, Nur Haryani, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah cepat untuk membantu penyerapan hasil produksi peternak.
“Pemerintah daerah akan memfasilitasi penyerapan telur melalui gerakan pembelian telur oleh ASN serta kampanye konsumsi telur kepada masyarakat. Ini menjadi langkah awal yang bisa segera dilakukan untuk membantu peternak,” ujar Nur Haryani.
Tak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Magetan juga memperkuat penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, hingga berbagai program pemenuhan gizi masyarakat.
Menurut Nur Haryani, penyerapan telur melalui Program MBG akan ditingkatkan dari sebelumnya satu kali menjadi tiga kali dalam seminggu agar produksi peternak rakyat dapat terserap lebih maksimal.
“Harapannya, produksi peternak bisa lebih banyak terserap sehingga harga tetap stabil dan usaha peternak terus berjalan,” katanya.
Program konsumsi telur juga diperluas melalui kegiatan posyandu, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), pencegahan stunting, dan berbagai program sosial lainnya. Selain meningkatkan gizi masyarakat, langkah ini diharapkan mampu menjaga kestabilan harga telur di pasaran.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai menyalurkan bantuan jagung subsidi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sejak Sabtu (9/5/2026). Bantuan tersebut diharapkan dapat menekan biaya produksi pakan yang selama ini menjadi beban utama peternak.
Secara terpisah, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Makmun, menegaskan pemerintah terus memperkuat hilirisasi dan perluasan pasar hasil peternakan agar produksi peternak rakyat terserap optimal.
“Pemerintah terus memperkuat hilirisasi, distribusi, dan perluasan pasar agar hasil produksi peternak dapat terserap lebih optimal. Fokus utama kami adalah menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Makmun.
Kementerian Pertanian juga meminta pemerintah daerah ikut mengatur dan menertibkan pedagang maupun peternak yang menjual telur jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP). Langkah ini dinilai penting agar harga telur tetap berada dalam rentang yang sehat sehingga peternak masih memperoleh keuntungan dan termotivasi meningkatkan produksi.
Selain itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi perunggasan, kementerian terkait, hingga pelaku usaha terus diperkuat guna menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan baku pakan.
Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, pemerintah memastikan negara hadir melindungi peternak rakyat agar tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah dinamika pasar.