Wednesday, 15 July 2026


Kementan Lepas Ekspor Produk Unggas ke Myanmar dan Timor-Leste

18 Jun 2026, 16:43 WIBEditor : herman

Pelepasan Ekspor Produk unggas ke Myanmar dan Timor Leste

TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik yang masih berlangsung, industri perunggasan Indonesia kembali menunjukkan daya saingnya di pasar internasional.

Produk unggas nasional berhasil menembus pasar ekspor melalui pengiriman telur tetas (hatching egg) ke Myanmar serta karkas dan produk olahan ayam ke Timor-Leste.

Pelepasan ekspor tersebut dilakukan Kementerian Pertanian dalam rangkaian Indo Livestock Expo & Forum 2026 yang berlangsung di NICE PIK 2, Tangerang, Rabu (17/6).

Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa subsektor peternakan nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga semakin dipercaya pasar global berkat kualitas produk yang memenuhi standar mutu, keamanan pangan, dan kesehatan hewan.

Dalam ekspor kali ini, PT ISA Indonesia mengirimkan 21.800 butir hatching egg atau setara 1.600 kilogram ke Myanmar dengan nilai mencapai Rp812,5 juta. Sementara itu, PT Sreeya Sewu Indonesia mengekspor 17,9 ton karkas dan produk olahan ayam ke Timor-Leste dengan nilai Rp1,043 miliar.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa industri perunggasan nasional semakin kompetitif dan mampu memanfaatkan peluang pasar internasional di tengah berbagai tantangan global.

“Capaian ini menjadi indikator bahwa industri perunggasan Indonesia memiliki daya saing yang kuat dan mampu menjawab kebutuhan pasar internasional melalui produk yang memenuhi standar mutu serta kesehatan hewan,” kata Agung.

Menurutnya, keberhasilan ekspor tersebut tidak terlepas dari kondisi produksi nasional yang terus menguat. Sepanjang 2025, ketersediaan daging ayam nasional mencapai 4,37 juta ton, sementara kebutuhan dalam negeri berada di angka 4,11 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 252 ribu ton.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas telur. Ketersediaan telur nasional tercatat mencapai 6,56 juta ton, sedangkan kebutuhan masyarakat sekitar 6,47 juta ton, sehingga masih terdapat surplus sekitar 92 ribu ton.

Surplus produksi tersebut menjadi modal strategis bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor tanpa mengganggu pasokan domestik. Di sisi lain, ekspor juga membuka peluang peningkatan nilai tambah bagi peternak serta pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pasok industri unggas nasional.

Kinerja ekspor sektor peternakan secara keseluruhan juga menunjukkan tren yang terus meningkat. Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor komoditas peternakan Indonesia mencapai Rp23,6 triliun atau tumbuh 10,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan ini mencerminkan semakin besarnya kepercayaan pasar internasional terhadap produk peternakan asal Indonesia.

Bagi pelaku usaha, momentum ini menjadi bukti bahwa peluang pasar global masih terbuka lebar bagi produk unggas Indonesia yang mampu memenuhi standar kualitas dan persyaratan negara tujuan.

Presiden Direktur PT ISA Indonesia, Jean Thomas Courtois, menyebut ekspor ke Myanmar sebagai tonggak penting bagi perusahaan setelah lebih dari dua dekade berfokus melayani pasar domestik.

“Ini merupakan ekspor pertama kami setelah 23 tahun. Ini adalah langkah yang baik sebagai awal, dan ke depan kami akan terus meningkatkan kapasitas serta memperluas pasar secara bertahap,” ujar Jean.

Ia optimistis permintaan internasional terhadap produk pembibitan unggas Indonesia akan terus meningkat seiring bertambahnya kebutuhan negara tujuan dan semakin baiknya kualitas produk yang dihasilkan.

Reporter : Eko
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018