Wednesday, 15 July 2026


Bukan Sekadar Over Supply, Ini Penyebab Harga Ayam Anjlok Menurut Permindo

25 Jun 2026, 15:55 WIBEditor : herman

Peternakan Ayam

TABLOIDSINARTANI.COM  Jakarta – Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) menilai anjloknya harga ayam hidup (live bird/LB) yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir tidak dapat dijelaskan semata-mata karena kelebihan pasokan (over supply). Organisasi peternak tersebut menilai terdapat persoalan struktural yang lebih kompleks di balik keterpurukan harga ayam di tingkat peternak.

Saat ini, harga live bird di berbagai sentra produksi nasional berada pada kisaran Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram. Angka tersebut jauh di bawah biaya pokok produksi (HPP) peternak yang telah mencapai sekitar Rp22.000 per kilogram.

Di sisi lain, harga pakan yang menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi terus mengalami kenaikan. Saat ini harga pakan berada pada kisaran Rp8.600 hingga Rp9.500 per kilogram atau meningkat sekitar Rp1.000 per kilogram dibandingkan periode sebelumnya.

Kondisi tersebut menyebabkan peternak rakyat menanggung kerugian antara Rp5.000 hingga Rp7.000 untuk setiap kilogram ayam yang dijual. Dengan rata-rata bobot panen mencapai 2 kilogram per ekor, kerugian peternak diperkirakan mencapai Rp8.000 hingga Rp10.000 per ekor ayam.

Menurut PERMINDO, situasi yang terjadi saat ini merupakan fenomena cost-price squeeze, yaitu kondisi ketika biaya produksi terus meningkat sementara harga jual justru mengalami penurunan. Akibatnya, margin usaha peternak semakin tergerus dan berpotensi mengancam keberlanjutan usaha peternakan rakyat.

Organisasi tersebut menilai peternak rakyat saat ini tidak hanya menghadapi krisis harga ayam, tetapi juga krisis margin usaha akibat turunnya harga jual yang terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya pakan yang terus berlangsung.

Efek Domino dalam Rantai Pasok

PERMINDO menilai persoalan yang terjadi tidak hanya berkaitan dengan harga pakan maupun harga ayam. Terdapat efek domino dalam rantai pasok nasional yang berujung pada melemahnya posisi peternak rakyat.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah perubahan mekanisme pengadaan bahan baku pakan impor yang semakin terkonsentrasi melalui satu pintu dengan sistem pembayaran Cash Before Delivery (CBD). Skema tersebut dinilai meningkatkan kebutuhan modal kerja industri pakan secara signifikan.

Bahan baku utama seperti soybean meal (SBM), feed wheat, dan berbagai komponen pakan lainnya kini membutuhkan dukungan likuiditas yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dalam kondisi tersebut, pabrik pakan skala menengah dan kecil menghadapi tekanan arus kas yang semakin berat karena tidak memiliki kekuatan modal sebesar perusahaan besar.

Untuk menjaga kelangsungan operasional, banyak pabrik pakan mempercepat penagihan kepada peternak. Tekanan likuiditas yang awalnya terjadi di tingkat industri pakan kemudian berpindah ke tingkat peternak.

Peternak yang membutuhkan dana untuk membayar pakan, DOC, obat-obatan, tenaga kerja, serta biaya operasional kandang akhirnya terpaksa menjual ayam lebih cepat meski harga pasar sedang rendah. Dalam sejumlah kasus, ayam dijual sebelum mencapai bobot optimal demi memenuhi kebutuhan pembayaran yang mendesak.

Panic Selling Perburuk Harga Ayam

Fenomena tersebut memicu praktik panic selling atau penjualan terpaksa yang terjadi di berbagai sentra produksi ayam nasional.

Ketika banyak peternak menjual ayam dalam waktu bersamaan karena tekanan pembayaran, posisi tawar mereka melemah secara signifikan. Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pedagang perantara yang memiliki kemampuan membeli dalam jumlah besar dan mengendalikan arus perdagangan di lapangan.

Akibatnya, harga ayam hidup semakin tertekan dan kerap bergerak jauh di bawah harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah.

PERMINDO menilai kondisi tersebut merupakan gambaran nyata dari teori Bullwhip Effect dalam rantai pasok, yaitu ketika gangguan yang terjadi di sektor hulu menghasilkan dampak yang jauh lebih besar di sektor hilir.

Dalam konteks perunggasan nasional, tekanan likuiditas akibat mekanisme pengadaan bahan baku impor pada akhirnya bermuara pada jatuhnya harga ayam hidup di tingkat peternak. Dengan demikian, harga live bird saat ini dinilai tidak lagi sepenuhnya mencerminkan keseimbangan antara pasokan dan permintaan yang sesungguhnya.

Harga lebih banyak dipengaruhi oleh tekanan likuiditas, ketimpangan modal, serta lemahnya posisi tawar peternak dalam rantai pasok.

PERMINDO menjelaskan bahwa perusahaan besar relatif lebih mampu bertahan dalam kondisi saat ini karena memiliki modal kerja yang kuat, akses pembiayaan yang luas, kemampuan menyimpan stok bahan baku lebih lama, serta fasilitas penyimpanan karkas dan produk olahan.

Sebaliknya, peternak rakyat dan pabrik pakan skala menengah-kecil sangat bergantung pada perputaran kas harian sehingga menjadi kelompok yang paling rentan ketika terjadi tekanan pasar.

Organisasi tersebut mengingatkan bahwa apabila kondisi ini terus berlangsung, pelaku usaha yang pertama kali tersingkir bukanlah perusahaan besar, melainkan peternak rakyat dan pelaku usaha menengah yang selama ini menjadi tulang punggung produksi protein hewani nasional.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, PERMINDO meminta pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian, Kementerian BUMN, serta BUMN pangan agar mengambil langkah korektif yang menyentuh akar persoalan.

Beberapa usulan yang diajukan antara lain evaluasi dampak tata kelola impor bahan baku pakan terhadap likuiditas industri, penyediaan fasilitas pembiayaan rantai pasok bagi pabrik pakan menengah dan kecil, pembentukan buffer stock bahan baku nasional, serta penguatan program serapan ayam hidup dan karkas ketika harga berada di bawah HPP.

Selain itu, PERMINDO juga mendorong pembangunan sistem data nasional yang transparan terkait produksi DOC, populasi ayam, stok karkas, dan kebutuhan pasar. BUMN pangan juga dinilai perlu mengambil peran lebih aktif sebagai penyeimbang pasar dan penyedia instrumen stabilisasi, bukan sekadar mengikuti mekanisme perdagangan yang ada.

PERMINDO menilai bahwa tanpa penyelesaian terhadap persoalan likuiditas dalam rantai pasok, harga ayam berpotensi terus berulang jatuh di bawah biaya produksi peternak. Karena itu, yang dibutuhkan peternak rakyat bukan bantuan sesaat, melainkan perbaikan ekosistem usaha yang sehat, adil, transparan, dan berkelanjutan.

Menurut organisasi tersebut, keberlangsungan peternak rakyat harus menjadi perhatian bersama karena sektor perunggasan tidak hanya menyangkut jutaan pelaku usaha di daerah, tetapi juga menjadi salah satu pilar penting ketahanan pangan nasional.

PERMINDO menegaskan bahwa rendahnya harga ayam yang berlangsung berkepanjangan saat ini merupakan akumulasi berbagai persoalan dalam rantai pasok, mulai dari tata kelola impor bahan baku pakan, tekanan likuiditas industri, praktik panic selling di tingkat peternak, hingga ketimpangan struktur pasar yang menyebabkan harga ayam jatuh jauh di bawah biaya produksi peternak rakyat.

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018