
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, didampingi Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda lakukan kunjungan ke Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur di Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur
TABLOIDSINARTANI.COM, Pasuruan --- Kementerian Pertanian bersama Komisi IV DPR RI mengambil langkah strategis untuk menggenjot produksi susu dalam negeri. Fokus utamanya adalah memperkuat ekosistem koperasi dan memperbaiki rantai pasok agar kesejahteraan peternak rakyat ikut terangkat.
Komitmen ini mengemuka dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur di Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (28/9).
Rombongan dipimpin langsung oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, didampingi Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda.
Dalam arahannya, Siti Hediati Hariyadi menegaskan bahwa kunjungan ini bertujuan memetakan rantai pasok susu secara utuh, mulai dari tingkat peternak, koperasi, hingga industri dan konsumen akhir.

“Kami ingin melihat bagaimana rantai pasok susu berjalan, apa yang masih menjadi hambatan, serta dukungan apa yang diperlukan agar peternak, koperasi, industri, dan pemerintah dapat bergerak dalam satu ekosistem yang saling memperkuat,” ujarnya.
Menurutnya, Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur memegang peran krusial sebagai model ideal karena tidak hanya berfungsi memasarkan susu, tetapi juga menyediakan pakan, layanan kesehatan hewan, hingga fasilitas pembiayaan bagi anggotanya.
Saat ini, koperasi tersebut menaungi lebih dari 2.000 peternak dengan populasi sekitar 8.700 ekor sapi perah dan volume produksi mencapai 35 ton susu segar per hari.
Kemandirian susu nasional bukan sekadar persoalan menambah sapi, tetapi membangun ekosistem yang membuat peternak mampu menghasilkan susu secara produktif, efisien, dan berkelanjutan, tegasnya.
Tambah Populasi dan Jaga Pasar
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi susu segar dalam negeri saat ini baru memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan nasional, sementara sisanya masih bergantung pada impor. Kondisi ini dinilai sebagai peluang besar bagi kebangkitan peternakan domestik.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, memaparkan bahwa pemerintah menargetkan penambahan populasi hingga 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga tahun 2029 guna menekan ketergantungan impor secara signifikan pada 2030.
Untuk mewujudkannya, pemerintah tengah menyiapkan skema dukungan pembiayaan yang ramah peternak, seperti bantuan uang muka pembelian sapi, fasilitas asuransi ternak, bantuan kandang dan alat perah modern, serta kolaborasi pembiayaan melalui sektor perbankan.
Kendati demikian, Agung mengingatkan bahwa peningkatan populasi harus berjalan lurus dengan kepastian pasar.
“Tidak boleh ada susu segar peternak yang tidak terserap. Kalau produksi ditingkatkan, industri dan pasarnya juga harus siap,” tandasnya.
Bupati Pasuruan, Mochamad Rusdi Sutejo, menyambut baik perhatian serius dari pemerintah pusat dan parlemen ini. Ia menyebut sektor persusuan sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan di wilayahnya, sehingga perlu dukungan berkelanjutan terutama terkait ketersediaan pakan hijauan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur, Evi Zainal Abidin, menekankan pentingnya kemitraan yang sehat antara koperasi dan industri pengolahan.
“Industri dan koperasi sudah selayaknya menjadi mitra strategis yang saling membesarkan. Kemitraan yang sehat akan membuka ruang agar peternak berkembang, koperasi semakin kuat, dan industri mendapatkan pasokan susu yang berkualitas,” ungkap Evi.