
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), M. Saleh Mustofa berkunjung ke unit pengolahan susu kambing milik Koperasi Produsen Rojo Koyo Utomo di Dusun Suruh, Desa Banyudadem, Kecamatan Srumbung, Kamis (29/10).
TABLOIDSINARTANI.COM, Magelang--- Peternakan kambing perah di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, tak hanya berpotensi mendongkrak pendapatan masyarakat. Usaha yang berkembang di Kecamatan Srumbung itu juga diproyeksikan menjadi tempat belajar bagi mahasiswa dan calon petani muda untuk mencetak generasi baru pelaku usaha peternakan.
Potensi tersebut mengemuka saat Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI Letjen TNI M. Saleh Mustofa meresmikan unit pengolahan susu kambing milik Koperasi Produsen Rojo Koyo Utomo di Dusun Suruh, Desa Banyudadem, Kecamatan Srumbung, Kamis (29/10).
Saleh Mustofa menilai, pengembangan kambing perah di Magelang berpeluang direplikasi di daerah lain. Namun, efektivitas produksi, efisiensi pengolahan, kepastian pasar, dan stabilitas harga harus menjadi perhatian. “Susu kambing ini baru saya lihat di sini. Kita akan lihat efektivitas dan efisiensinya seperti apa,” ujarnya.
Pemerintah juga mendorong pembinaan melalui pelatihan, penyuluhan, serta pengembangan inseminasi buatan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pembibitan kambing perah.
Ketua Perkumpulan Peternak Kambing Perah Rojo Koyo Utomo, Nanang Ismail mengatakan, jaringan kelompoknya mampu memproduksi sekitar 30.000–40.000 liter susu kambing per bulan. Produksi tersebut berasal dari lebih dari 250 pelaku usaha yang tersebar di Kabupaten Magelang, Purworejo, Temanggung, dan Wonosobo. “Rata-rata per hari itu 1.300 sampai 1.500 liter. Itu keseluruhan anggota,” ujarnya.
Rojo Koyo Utomo saat ini memiliki lebih dari 7.000 ekor kambing, dengan sekitar 2.000–2.500 ekor merupakan kambing laktasi atau penghasil susu.
Nanang mengatakan, peternakan kambing perah juga dapat berjalan berdampingan dengan komoditas salak yang menjadi andalan masyarakat setempat. Peternak mengalokasikan sebagian lahan untuk kandang tanpa harus meninggalkan usaha salak sepenuhnya.
Berdasarkan pengalamannya, kombinasi usaha tersebut mampu meningkatkan pendapatan hingga 500 persen dibandingkan sebelumnya. “Jadi kami tidak mematikan salak, tetapi mengonversi sebagian lahan. Kira-kira 20 persen untuk didirikan kandang,” katanya.
Selama ini, sebagian besar susu yang dihasilkan anggota masih dipasok kepada perusahaan pengolahan di wilayah Sleman dan Kabupaten Magelang. Kehadiran unit pengolahan milik koperasi diharapkan mengurangi ketergantungan tersebut sekaligus meningkatkan nilai tambah produk.
Nanang berharap, peternak ke depan tidak hanya menjual susu mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan siap konsumsi dengan margin keuntungan lebih besar.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, pengembangan kambing perah perlu ditopang ekosistem usaha terintegrasi, mulai dari budidaya, pengolahan, pendampingan perizinan, hingga pemasaran. “Tidak serta-merta besok bagi kambing, bagi ini, bagi itu. Kita bangun satu ekosistem yang kita dorong untuk diduplikasi di daerah lain,” tegasnya.
Pemkab Magelang telah mendukung pengembangan hilirisasi melalui fasilitasi peralatan pengolahan, termasuk pasteurisasi, serta pendampingan perizinan. Dengan dukungan pemerintah dan lembaga pendidikan, Srumbung diharapkan menjadi model pengembangan peternakan produktif sekaligus pusat pembelajaran bagi calon peternak muda.
Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti menegaskan, regenerasi petani harus dibarengi dengan penguatan kapasitas yang berkelanjutan agar generasi muda mampu menjadi motor penggerak pembangunan pertanian di daerah.
“Kami ingin menciptakan generasi muda pertanian yang adaptif, profesional, dan mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah masing-masing,” ujar Idha.
Sementara itu, Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan Yoma), Raden Hermawan mengatakan, pihaknya memiliki jurusan peternakan di Magelang yang selama ini berkontribusi bersama Pemerintah Kabupaten Magelang dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pada 2027, Polbangtan Yoma berencana bekerja sama dengan Pemkab Magelang melalui program YESI (Youth Entrepreneur Supporting Certificate Scaling Up) untuk mendorong regenerasi petani.
“Harapannya, petani-petani muda atau calon petani muda ini kita didik untuk menjadi petani. Nah, harapannya petani-petani muda itu muncul salah satunya dari Kabupaten Magelang,” ujarnya.
Menurut Hermawan, peternakan kambing perah yang telah berkembang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi magang dan pelatihan. Mahasiswa maupun calon petani muda bisa belajar langsung mengenai pengelolaan usaha dari peternak yang telah berhasil.
“Anak-anak kami, mahasiswa, dan calon petani muda juga nanti bisa belajar dari peternak-peternak yang sudah berhasil,” katanya.